Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 2 September 2012

diposkan pada tanggal 31 Agt 2012 15.48 oleh Essy Eisen   [ diperbarui31 Agt 2012 15.48 ]
Jangan Kehilangan Kasih Gara-Gara Tradisi

Ulangan 4:1-2, 6-9, Mazmur 15, Yakobus 1:17-27, Markus 7:1-8, 14-15, 21-23

Melalui Firman-Nya, Allah memberikan prinsip-prinsip yang jelas tentang kehidupan. Allah menghendaki umat-Nya untuk menerima kasih-Nya dan menghidupi kasih-Nya dengan utuh, baik kepada-Nya maupun kepada sesama ciptaan Allah yang lain. Umat-Nya diajak untuk menjadi bijaksana dalam menggunakan akal budi, sehingga kebenaran-kebenaran yang dinyatakan Allah tidak dilupakan dalam hidup, tetapi juga jangan sampai disalahmengerti atau disalahgunakan sehingga malah akhirnya umat-Nya jadi kehilangan kasih.

Seberapa besar kasih kita kepada Allah, seharusnya terlihat juga dalam kenyataan perbuatan dan perkataan yang membangun kepada sesama manusia. Orang yang mau melakukan kasih dengan tulus berangkat dari hati yang takut akan Allah adalah orang yang bukan saja mendengarkan Firman, tetapi juga melakukan Firman.

Dalam pembacaan Injil hari ini, rombongan dari Yerusalem yang terdiri dari, kalangan Farisi dan Ahli Taurat melakukan teguran dan investigasi terhadap Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka mendapati murid-murid makan dengan tangan tidak dibasuh. Bagi mereka, itu adalah pelanggaran adat istiadat nenek moyang. Berhadapan dengan sangkaan itu, Yesus menanggapi dengan penuh hikmat. Yesus menilai mereka tidak hati-hati untuk melihat dengan utuh apa “yang tradisi” dan apa “yang hakiki” terkait wujud relasi kasih dengan Allah.

Yesus tidak menjelekkan ritual. Kalau dengan mencuci tangan mereka ingat untuk mencuci bersih hati mereka dari: pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan, tentu itu baik dan bagus. Tetapi kalau dengan cuci tangan mereka merasa telah diterima Allah, ini tentu salah kaprah. Jangan sampai orang kehilangan kasih, hanya gara-gara tradisi.

Hati yang mengasihi akan menjadikan tradisi yang ada mengarah kepada tindakan memanusiakan manusia. Ini tidak boleh dilupakan. Dalam tanggapannya terhadap kalangan Farisi dan Ahli Taurat pada waktu itu, seolah-olah Yesus ingin mengingatkan juga kepada mereka seperti ini: “Mengapa kamu tidak menurut tradisi Allah yang mengasihi dengan membersihkan hatimu?”

Kita semua tidak lepas dari tradisi dalam hidup ini. Tradisi menjadi semacam identitas dan memberi batasan-batasan yang perlu dalam perilaku. Tradisi, dapat menjadi sarana yang baik untuk melanjutkan nilai-nilai yang luhur dan mulia dalam hidup. Tetapi situasi terus berkembang seiring berjalannya waktu. Kita perlu peka dan bijak untuk mengenali dampak buruk dari tradisi yang dihayati dan dilakukan. Jangan sampai orang kehilangan kasih, hanya gara-gara tradisi.

Alkisah pada jamuan makan malam yang diadakan di London, tamu-tamu dari negara sahabat bersiap disekeliling meja makan untuk makan. Ratu Victoria menjadi tuan rumah. Ada banyak perlengkapan makan disajikan. Saat mangkuk untuk cuci tangan (kobokan) diedarkan, seorang tamu dari negara Afrika langsung mengambil mangkuk yang berisi air itu, meneguk dan menghabiskannya seketika itu juga. Para tamu terheran-heran dengan tindakan tamu yang sepertinya tidak mengerti fungsi dari mangkuk kobokan itu. Melihat hal itu, herannya Ratu Victoria mengambil mangkuk kobokan di depannya, lalu meneguk air yang ada di dalamnya! Melihat tindakan Ratu, semua yang hadir melakukan hal serupa. Mangkuk air kobokan diminum Ratu? Ratu telah melanggar tradisi dan aturan makan! Ya benar. Tetapi ada alasan Ratu melakukan itu. Solidaritas, kasih dan kepedulian kepada hati dan perasaan tamunya rupanya lebih besar ketimbang tradisi makan yang selama ini dihidupinya.

Pertanyaan Aplikasi
  • Apakah Anda pernah mementingkan tradisi sehingga mengabaikan kasih? Mengapa? 
  • Bagaimana Anda membarui tradisi yang sedang Anda hidupi dengan kuasa kasih Kristus? 
  • Pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Bagaimana Anda membersihkan hal-hal ini dari hati Anda? Bagaimana Kristus menolong Anda?
(Pdt Essy Eisen)
Comments