Kegiatan‎ > ‎

Artikel Bina Iman

Disusun dan dipublikasikan sebagai bahan informasi dan diskusi dalam upaya pembinaan iman Jemaat.


Di dalam kekuatan kuasa Allah

diposting pada tanggal 16 Jan 2016 05.34 oleh Essy Eisen

Efesus 6:10-17

Tidak perlu kecil hati atau merasa pesimis jika Gereja mengalami rupa-rupa permasalahan. Sedari awal Gereja, yang dihimpunkan Allah Tritunggal memang ada dalam ziarah, berproses dan belajar. Jika Gereja sudah sempurna maka kita tidak akan pernah menjumpai surat-surat Pastoral dari para Rasul yang dengan telaten memberikan bimbingan, arahan, nasihat, teguran dalam segenap lingkup kekayaan hikmat Roh-Nya.

Tetapi meski demikian, Gereja tidak pernah boleh tenggelam di dalam kekerdilan sikap determinisme, sehingga tenggelam dalam keengganan untuk melalukan banyak hal yang dapat dilakukan sebagai umat yang sudah mendapat begitu banyak kelengkapan hidup untuk menyatakan kabar baik bagi konteksnya.

Di penghujung suratnya ini, Paulus, yang walaupun berada dalam belenggu rantai penjara, tetap mengarahkan pandangannya kepada kekuatan yang Allah berikan bagi Gereja. Karena perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit, Paulus sangat yakin bahwa akhir perjuangan dari Gereja Tuhan bukanlah salib di bukit tengkorak, tetapi pada kekuatan kehidupan yang bahkan menghasilkan kehidupan di mana kuasa maut tidak lagi menakutkan.

Akan ada konflik di dalam perubahan hidup. Tentu konflik yang sehat. Konflik yang dalam bahasa Paulus dipertegas antara kuasa Allah dan kuasa Iblis. Antara kuasa yang memberikan kehidupan dan kuasa yang tujuan akhirnya membinasakan. Perjumpaan yang hidup dengan Kristus, relasi yang akrab dengan Kristus, akan memampukan Gereja mengenali kuasa-kuasa yang membawa kepada kehidupan. Bukan hanya itu, dengan kuasa Allah itu, Gereja senantiasa dikuatkan entah dalam keadaan “bertahan atau menyerang”.

Menjadi amat miris, jika Gereja Tuhan Yesus Kristus tidak mengenali kekuatan yang membinasakan kehidupan umat manusia. Belum lagi jika menurut bahasa Paulus “perlengkapan rohani” tidak dimiliki. Atau kalaupun sudah dimiliki, tidak pernah diajarkan betapa pentingnya untuk menggunakan perlengkapan-perlengkapan itu. Bahkan menjadi amat celaka, jika Gereja kemudian bermain dalam zona aman, menghindari konflik dan berkompromi dengan kuasa yang membinasakan.

Musuh yang tidak terlihat memang lebih sulit ketimbang yang terlihat. Bagi kita yang membaca surat Paulus pada zaman ini, kita juga boleh memahami bahwa Paulus juga berbicara mengenai kecenderungan-kecenderungan, motif-motif yang berdaya kuasa entah untuk melahirkan sesuatu yang berguna dan menjadi berkat, atau yang membawa bencana dan maut.

Dengan menggunakan gambaran seseorang serdadu yang sigap berperang, imajinasi kita dibawa oleh Paulus untuk mengedepankan nilai-nilai luhur kehidupan beriman berangkat dari hikmat Firman Allah yang melingkupi kebenaran, keadilan, dengan segenap kerelaan melanjutkan Injil sebagai kabar solutif bagi dunia. Ini yang harus menjadi pilihan Jemaat Efesus. Ini menjadi kekuatan Gereja Tuhan.

Pertanyaannya: apa yang menjadi sumber kekuatan kita sebagai Gereja? Apa yang kita gunakan sebagai “senjata” sebagai Gereja-Nya? Apakah kita mengenali apa-apa yang sedang kita lawan?

Pdt. Essy Eisen

Allah nimbrung

diposting pada tanggal 22 Des 2015 22.18 oleh Admin Situs

Natal bukan sekadar tradisi. Bukan sekadar juga hari raya besar umat Kristen. Sebab bisa jadi kita terjebak dalam kebiasaan dan suasana belaka. Padahal perayaan setiap hari besar keagamaan sejatinya harus menjadi sarana untuk introspeksi diri dalam melahirkan tindakan-tindakan nyata yang berangkat dari iman terkait makna yang ada dalam hari raya itu. Ada apa di hari Natal? Melalui Injil-Injil khususnya Injil Lukas dan Matius kita menjumpai Allah yang nimbrung. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan nimbrung seperti ini: nimbrung/nim·brung/ v cak 1 datang dan turut serta (makan, minum, bercakap-cakap, dan sebagainya); 2 mencampuri urusan orang lain.

Allah nimbrung. Itulah Natal. Allah, karena cinta kasih-Nya selalu sama dahulu sekarang dan selama-lamanya mengambil langkah jitu untuk memperbarui dunia ini. Ia memilih hadir menjadi seorang anak manusia. Mengapa langkah ini dikatakan jitu? Sebab, jika dahulu dunia ini menjadi rusak karena manusia begitu mudahnya terseret dan terpikat oleh godaan dosa, maka untuk memperbaikinya, Allah nimbrung, mencampuri, mengintervensi dunia ini, melalui kehadiran anak manusia yang Kasih-Nya luar biasa dan menjadi Teladan yang patut diikuti, disembah, diagungkan, didengarkan di dalam Yesus Kristus. Kalau melalui Adam, sosok yang mewakili anak manusia perdana, banyak orang mengenal dosa, maka melalui Yesus Kristus, banyak orang mengenal Allah yang menyapa, menolong, menguatkan, membimbing kepada keselamatan, kehidupan, kepada jalan yang terang menuju rahmat Allah.

Keilahian yang memulihkan
Dalam Yesus Kristus kita menjumpai keilahian dan keinsanian. Kesucian sekaligus kemanusiaan yang tak terpisahkan. Kehadiran para malaikat dalam mimpi Yusuf dan Maria, kesesuaian dengan nubuat para nabi, kelahiran dari seorang anak dara, adalah tanda-tanda yang jelas menunjukkan keilahian Yesus. Namun secara bersamaan juga kita menemukan bahwa keilahian itu bukanlah keilahian yang dihadirkan jauh dari kenyataan manusia pada umumnya. Apa buktinya?

Pilihan Allah untuk mengutus malaikat kepada para gembala, kelahiran Yesus di dalam palungan, dibesarkan di dalam didikan seorang tukang kayu/bangunan, memulai karya pemuridan di kalangan para nelayan di Galilea, menjadi petunjuk yang kentara bahwa keilahian Kristus adalah keilahian yang memulihkan. Kristus peduli kepada yang lemah, yang tersisih, yang berada di dalam tekanan hidup. Pada zaman itu Kaisar Romawi memproklamirkan diri sebagai Tuhan, sosok ilahi yang harus ditakuti dan disembah. Pada zaman itu juga para pemuka agama mengklaim diri bahwa pemberlakuan kitab suci menjadi satu-satunya jalan untuk lepas dari dosa, tetapi diiringi dengan serangkaian tuntutan yang membebani dibalut dengan rupa-rupa kemunafikan dan ketidakpedulian kasih kepada sesama. Keadaan yang buruk ini tidak didiamkan Allah!

Allah nimbrung melalui kehadiran Yesus Kristus. Natal Kristus dengan demikian menjadi jalan yang sungguh sangat melegakan dan membahagiakan bagi dunia ini, karena berita besarnya kini bukan lagi manusia mencari-cari Allah yang jauh dan hampir tidak bisa didekati dengan rupa-rupa syarat keagamaan, tetapi Allah yang justru mencampuri keadaan manusia yang sangat butuh pertolongan segera, yang sangat butuh kasih yang nyata, hidup yang baru, perjanjian yang baru. Seolah-olah melalui Natal Kristus, Allah mau mengatakan kepada semua manusia: “Aku tahu apa yang kamu alami. Aku mengerti kesusahan kamu. Aku turut merasakan apa yang kamu rasakan. Lihat, Aku ada bersama-sama kamu. Aku mengasihi kamu!”

Jika demikian, saat merayakan Natal, seharusnya tidak lagi kita membeberkan rupa-rupa alasan bahwa kita ini tidak berharga, tidak cukup suci, tidak mengerti kitab suci, penuh dengan dosa dan alasan-alasan lain yang berangkat dari pementingan diri, yang hanya akan menjauhkan diri dari kabar baik untuk hidup enak-enakan di dalam dosa. Sebab pada Natal Kristus, Allah sudah nimbrung dalam kehidupan manusia dan turut serta merasakan keterbatasan, kesusahan, ketersisihan, kemiskinan, kegelisahan manusia.

Namun tidak seperti Adam, Kristus tidak berakhir dalam kebinasaan. Kelak bayi kecil di palungan Betlehem itu menjadi dewasa, berkarya, mengajarkan jalan yang membawa kepada kehidupan, mencelikkan kebutaan hati nurani, melenyapkan ketulian manusia dalam mendengar perintah Allah, membuat orang yang lumpuh untuk kembali berkarya memuliakan Allah, membangkitkan orang yang mati asa dan menghadirkan pengharapan yang tidak dapat dimatikan oleh kuasa dosa. Semua menunjukkan bahwa kasih Allah sungguh nyata-senyata-nyatanya. Sungguh sebuah pembaruan hidup bagi manusia bukan? Dengan mengimani Kristus, mengikuti Kristus, manusia lepas dari kebobrokan dosa, untuk beroleh keselamatan yang penuh kedamaian!

Menjadi sederhana
Lalu jika Allah nimbrung, apa tanggapan kita di Natal 2015 ini? Sekarang ini kita tidak lagi menjumpai kaisar, gembala, malaikat. Tetapi bukankah sosok kaisar tetap dapat kita temukan dalam diri orang-orang yang menganggap diri serba kuat dan bahkan hampir sama seperti Tuhan? Orang-orang yang menindas dan mengeksploitasi yang lain karena haus harta dan kuasa? Bukankah kita pun acap kali masih menjumpai sosok buruk keagamaan saat agama justru menjadi alat untuk menambah beban ketika diikuti dengan kebencian, permusuhan, kekerasan, manipulasi dan keangkuhan? Dan tentu juga ada sosok para gembala. Orang-orang yang sederhana, yang merindukan pertolongan Allah, yang cukup rendah hati untuk mendengar berita Natal, bergegas menjumpai Kristus dan mengalami pembaruan hidup karena kehadiran Kristus.

Orang-orang yang sederhana seperti para gembala memang akan lebih mudah membiarkan Allah nimbrung. Sebab pada zaman sekarang ini dengan kemudahan sarana informasi, komunikasi, transportasi, seseorang dapat menjadi begitu rumit dengan banyaknya pernak-pernik pemikiran yang berujung pada kekhawatiran, pesimisme, kebimbangan, sehingga kehilangan tenaga dan cinta untuk menjadi orang-orang yang sederhana, yang mengasihi melalui hal-hal yang sederhana, yang membiarkan Allah nimbrung di dalam hidupnya.

Selamat Natal.

Pdt. Essy Eisen

Pengikut Kristus Yang Berpuasa, Berdoa, Berderma (Paska 2015)

diposting pada tanggal 13 Feb 2015 08.34 oleh Essy Eisen

Apa itu berpuasa?

Puasa adalah memilih dengan sadar, tulus, rendah hati dan sukacita untuk tidak melakukan apa-apa yang biasanya dilakukan terkait pemenuhan kebutuhan nafsu lahiriah (Mat. 6:16-18). Puasa bagi pengikut Kristus selalu dilatarbelakangi oleh motivasi yang sifatnya rohani/ spiritual dan jauh dari pementingan diri sendiri. Saat berpuasa, pengikut Kristus melatih diri untuk menerapkan kasih, kerendahan hati, pertobatan dan pengosongan diri dengan mengikuti cara hidup Kristus yang memuliakan Allah (Flp. 2:1-8).

Mengapa berpuasa?
Dalam kehidupan umat Perjanjian Lama (PL) puasa adalah perintah yang wajib dilakukan terkait peringatan akan masa-masa hidup umat yang sulit, seperti: puasa pada Hari Pendamaian (Im. 16:29, 31; 23:27-32; Bil. 29:7), puasa setelah masa pembuangan (Zak. 8:19), juga puasa hari Purim (Est.9:31). Selain itu dicatat juga puasa tak berkala yaitu yang dilakukan: pribadi maupun bersama-sama (Hak.20:26, Yl.1:14), saat sedang sedih (1 Sam.31:13; 2 Sam.1:12; 3:35; Neh.1:4; Est 4:3; Mzm.35:13-14), dan sebagai tanda bertobat (1 Sam.7:6; 1 Raj.21:27; Neh.9:1-2; Dan.9:3-4; Yun.3:5-8). Puasa dalam PL juga dipahami sebagai tindakan merendahkan diri (Ezr.8:21; Mzm.69:10), tanda memohon pertolongan Allah (Kel.34:28; Ul.9:9; 2 Sam.12:16-23; 2 Taw.20:3-4; Ezr.8:21-23) dan dapat dilakukan untuk orang lain (Ezr.10:6; Est.4:15-17). Pada masa PL, ada yang memahami bahwa dengan puasa umat dapat melunakkan hati Allah (Yes.58:3-4). Mengenai pemahaman yang keliru ini, para Nabi mengingatkan makna puasa yang benar (Yes.58:5-12; Yer.14:11-12; Zak.7).

Dalam Perjanjian Baru (PB) rupanya masih ada yang melanjutkan tradisi puasa pada Hari Pendamaian (Kis.27:9). Selain itu, dicatat juga bahwa orang-orang Farisi (pegiat pemberlakuan Taurat), berpuasa dua kali seminggu (Luk.18:12) yang menurut tradisi dilakukan pada hari Senin dan Kamis. Ada juga yang berpuasa sangat sering, seperti misalnya Hana (Luk.2:37).

Pada kitab Kisah Para Rasul, kita menjumpai para pemimpin Jemaat berpuasa saat menentukan pekabar-pekabar Injil (Kis.13:2-3) dan menentukan para Penatua (Kis.14:23). Rasul Paulus sempat menyinggung puasa yang dilakukannya (2 Kor.6:5; 11:27), baik puasa sebagai bentuk ibadah, maupun puasa karena menahan lapar sebagai bentuk kesetiaannya berjalan dalam anugerah Allah dalam pekabaran Injil Kristus.

Bagaimana dengan Tuhan Yesus? Satu-satunya kejadian yang dicatat tentang puasa yang dilakukan Yesus ialah pada saat Ia dicobai di padang gurun. Melalui pencobaan pertama kepada Yesus, kita mengetahui bahwa memang tidak ada makanan di tempat yang dipilih Yesus dalam masa persiapan-Nya menjelang pelayanan-Nya di muka umum (Mat.4:1-4). Puasa selama 40 hari yang dilakukan Yesus ini mengingatkan kita akan puasa Musa (Kel.34:28) dan Elia (1 Raj.19:8). Tuhan Yesus berpuasa saat mempersiapkan diri untuk menjalankan karya pengutusan-Nya di tengah dunia yang memang penuh dengan cobaan ini.

Yesus tidak melarang murid-murid-Nya berpuasa. Yesus mengingatkan jika mereka berpuasa, mereka harus mengarahkan pikiran dan hati kepada Allah Bapa dan bukan untuk dilihat manusia (Mat. 6:16-18). Saat ditanya mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa seperti murid-murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi (puasa-puasa dalam PL), Yesus tidak menjegal praktek puasa, tetapi Ia mengatakan bahwa saatnya akan tiba kala murid-murid berduka karena terpisah sesaat dari Kristus, dan saat itulah mereka berpuasa (Mat. 9:14-17; Mrk. 2:18-22; Luk. 5:33-39).

Dengan mengatakan hal ini, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk mengingat akan perjanjian baru yang hadir karena karya kasih-Nya. Puasa murid-murid Kristus adalah puasa dalam perjanjian yang baru, yang senantiasa harus dilakukan dengan menghayati masa peralihan dari hidup lama menuju hidup yang baru. Ada sukacita tetapi juga kerendahan hati untuk mengarahkan diri kepada kasih anugerah Allah melalui kehadiran Kristus. Ada kesanggupan untuk menjalani hidup yang bertobat. Ada kesanggupan untuk menyangkal diri dalam memberlakukan kasih sebagaimana Kristus tunjukkan melalui salib-Nya.

Sebagai kesimpulan, mengapa pengikut Kristus berpuasa? Jelas, dalam Alkitab baik PL maupun PB, praktek puasa dilakukan sebagai tanda keberserahan dan kebergantungan diri pada anugerah Allah. Puasa bagi pengikut Kristus dilakukan seiring dengan penantian dan perjuangan penggenapan Kerajaan Allah yang dilakukan dengan syukur dan sikap hidup yang baru karena anugerah Allah di dalam Kristus. Orang yang berpuasa, dengan sukacita menerima supaya Allah: membentuk, menerangi dan memperbarui hidupnya dengan Firman dan Roh-Nya, sehingga terang kasih dan kerendahan hati Kristus, Anak-Nya, makin nyata dalam hidup, baik bagi hidup pribadi, terlebih bagi sesama ciptaan Allah yang lain.

Bagaimana berpuasa?
Segala tindakan-tindakan yang: memikirkan diri sendiri (egoisme), mementingkan diri sendiri (egosentrisme), mencintai diri sendiri (egofilia), membeda-bedakan orang dalam mengasihi (kompartementalisme), picik, angkuh, tinggi hati, dan sombong secara rohani dilatih untuk ditanggalkan sepenuh-penuhnya dan senyata-nyatanya dalam berpuasa.

Patut diingat bahwa puasa bukanlah upaya pemaksaan keinginan diri kepada Allah. Puasa juga bukanlah bentuk protes kepada Allah dengan menyiksa diri, tetapi puasa adalah tindakan penyerahan dan penyangkalan diri. Puasa harus dilakukan dengan sukacita mengingat kasih Allah melalui Kristus yang begitu besar bagi dunia ini.

Umumnya, ada tiga bentuk puasa, yaitu: puasa makan (minum saja tanpa makan), puasa pantang (minum dan membatasi makanan tertentu), puasa total (tidak minum dan makan). Puasa biasanya dilakukan mulai pagi hari (pk.6.00) sampai malam (pk.18.00) (Hak. 20:26, 1 Sam.14:24; 2 Sam 1:12). Puasa senantiasa harus diikuti dengan doa (Luk. 2:37, 5:33) dan derma (Yes. 58:5-12).

Kapan berpuasa?
Dalam tradisi Gereja-Gereja Reformasi, berpuasa secara berkala atau berpuasa dalam lingkup komunitas yang dilakukan bersama-sama pada waktu-waktu tertentu belum menjadi kebiasaan yang umum. Apakah ini terkait dengan penghayatan akan kata-kata Tuhan Yesus tentang berpuasa pada Matius 6:16-18, bahwa puasa sepatutnya dilakukan secara pribadi dan tersembunyi? Tentu perlu ada penelitian khusus mengenai kebenaran pernyataan ini. Tetapi sebenarnya, sikap Gereja Tuhan Yesus Kristus sejak zaman gereja mula-mula, tidak anti puasa. Perhatikan bahasan di atas tentang puasa dalam Perjanjian Baru. Sampai saat ini pun, secara ekumenis, baik Gereja Timur (gereja ortodoks) dan Gereja Barat (Katolik Roma) menghidupi tradisi berpuasa baik secara pribadi maupun kolektif.

Secara ekumenis, praktek puasa yang umum dilakukan oleh Gereja Tuhan di seluruh dunia secara bersama-sama ialah saat masa pra-paska, yaitu 40 hari sebelum hari Minggu Paska (tanpa dihitungnya hari Minggu, sebab hari Minggu adalah hari kemenangan, hari Paska kecil). Dengan demikian masa pra-paska dimulai pada hari Rabu, yang biasa disebut juga dengan Rabu Abu. Selama 40 hari itu, umat berpuasa. Biasanya puasa dimulai pada pagi hari sampai senja. Masa puasa itu diisi dengan ketekunan doa, perenungan dan pemberlakuan Firman Tuhan dan tindakan berderma bagi sesama.

GKI menghayati keberadaan dirinya yang tidak lepas dari tradisi Gereja-Gereja Reformasi, tanpa mengabaikan semangat untuk tetap terlibat dalam gerakan ekumenis. Oleh sebab itu, tanpa mewajibkan Anggota Jemaat dan Simpatisannya untuk berpuasa pada masa pra-paska, GKI juga menghargai dan membagi ruang bagi kesediaan umatnya yang hendak melakukan praktek puasa pada masa pra-paska sebagai bagian keterlibatan dalam gerakan ekumenis untuk bersama-sama menghayati masa pra-paska dengan sikap hidup yang bertobat, bersyukur, menyangkal diri dan memberlakukan cinta kasih Kristus yang rendah hati dalam latihan rohani: berpuasa, berdoa dan berderma.

Terkait dengan hal ini, maka pada masa pra-paska tahun ini, khususnya pada masa Minggu Suci (Satu Minggu sebelum Minggu Paska yaitu pada tanggal 29 Maret 2015 – 4 April 2015) mulai hari Senin, 30 Maret 2015 – Sabtu, 4 April 2015 akan diadakan buka puasa dan berbagi kesaksian iman bersama di gereja pada pk. 18.00, untuk Anggota-anggota Jemaat dan Simpatisan yang berpuasa, berdoa, berderma pada masa pra-paska tahun ini.

(Pdt. Essy Eisen)

Referensi tentang puasa dalam Alkitab diambil dari:
- Elwell, W. A., & Beitzel, B. J. (1988). Baker encyclopedia of the Bible. Map on lining papers. (780). Grand Rapids, Mich.: Baker Book House.
-Wood, D. R. W. (1996, c1982, c1962). New Bible Dictionary (364). InterVarsity Press.

Menguasai Internet & Etika Berinternet

diposting pada tanggal 17 Okt 2014 09.48 oleh Admin Situs   [ diperbarui17 Okt 2014 09.53 ]

Sekilas tentang Internet dan gereja


Apa itu Internet? 

Internet adalah “Inter-connected Networks”. Sederhananya, jalinan jaringan-jaringan komputer. Jika dianalogikan, internet itu seperti sebuah “selang” yang menghubungkan dan mengalirkan arus data di antara komputer-komputer di seluruh dunia.

Mengapa gereja menggunakan internet? 

Gereja menggunakan internet sebagai alat yang mengantarai perpindahan data sebagai sarana komunikasi maupun sarana pertukaran informasi. Pada umumnya Internet digunakan untuk:
  • mengirim dan menerima surat elektronik/email 
  • publikasi informasi dan komunikasi dalam bentuk situs (website) 
  • menggali informasi untuk edukasi rohani 
  • menolong umat mendapatkan saluran internet (tergantung kapasitas koneksi) 
  • sarana untuk audio video konferensi (tergantung kapasitas koneksi) 
  • siaran langsung kebaktian (tergantung kapasitas koneksi) 

Bagaimana gereja dapat menggunakan internet secara maksimal? 

  • Jika digunakan sebagai sarana mendapatkan, mengelola dan menyebarkan informasi terkait dengan karya berdampak pelayanan gereja
  • Jika digunakan sebagai alat komunikasi efektif dan membangun baik internal maupun eksternal gereja 
  • Jika digunakan sebagai sarana edukasi yang positif terkait pembangunan jemaat 
  • Jika digunakan sebagai sarana rekreasi yang positif terkait pembangunan jemaat 
Apa artinya jika dikatakan gereja “menguasai internet”?
  • Internet tetap tinggal sebagai sarana (alat) dan tidak pernah boleh menjadi tujuan 
  • Mampu mengendalikan dampak buruk yang ditimbulkannya 
  • Mampu memanfaatkan dampak baik yang ada 


Etika Berinternet


Apa dampak buruk internet bagi gereja?

Beredarnya informasi yang tidak baik, tidak benar, tidak indah saat:

  • pengguna tidak sadar bahwa berita yang diterimanya adalah berita bohong atau (hoax) 
  • pengguna meneruskan berita bohong tanpa memeriksa ulang 
  • pengguna menebarkan pesan kebencian kepada orang lain 
  • masuk dalam debat yang tidak sehat (internal dan eksternal) dan menuai masalah lebih lanjut 
  • pengguna mengabaikan kaidah berkomunikasi dan aktualisasi diri yang sopan sesuai norma gereja 

Terjadi galat dalam komunikasi baik disadari maupun tidak disadari yang mengakibatkan distorsi pertukaran pesan saat:

  • Identitas pengguna di hack dan digunakan untuk tindakan kriminal oleh orang lain 
  • Terjebak dalam situs-situs penipuan berkedok penjualan online 
  • Pertukaran pesan diikuti dengan bug seperti virus, trojan dan spam 
  • Kebocoran rahasia jabatan pada publik internet 

Pengguna mendapatkan edukasi yang buruk saat:

  • Mendapatkan informasi mengenai ajaran gereja yang tidak sehat 
  • Terjebak dalam situs-situs pornografi 
  • Terpengaruh oleh situs-situs yang menebar kebencian 

Pengguna kecanduan rekreasi yang mendinginkan hubungan sosial yang nyata dan hidup, saat:

  • Tidak bisa lepas menengok telepon/tablet dengan saluran internet 
  • Menghabiskan sebagian besar waktu untuk bermain Games 
  • Menghabiskan sebagian besar waktu untuk berseluncur melihat hal-hal yang tidak perlu 

Menjadi berhala yang menghasilkan ketidakpedulian dan kebencian kepada sesama, saat:

  • Mengandalkan internet sebagai satu-satunya sumber mencari pengetahuan dan hikmat 
  • Lebih nyaman dan senang berkomunikasi melalui internet daripada bercakap-cakap secara langsung dengan bertemu muka
  • Menjadi alat penebar kebencian dengan menyerang pribadi-pribadi yang tidak disukai menggunakan identitas palsu 


Bagaimana menjadikan internet menjadi alat pelayanan yang handal?

Mencermati kebutuhan pelayanan gereja dengan cara:

  • Memiliki visi-misi dan tujuan pelayanan gereja yang jelas sesuai konteks gereja 
  • Memeriksa seberapa banyak umat yang menggunakan internet sebagai sarana informasi dan komunikasi 
  • Menyortir apa-apa saja yang perlu dibagikan/didapat melalui internet 

Mengenali fungsi-fungsi fitur internet dengan cermat melalui:

  • pembelajaran secara mandiri bagaimana mengelola penggunaan internet di gereja 
  • melakukan studi banding dengan gereja yang menggunakan internet 
  • mempekerjakan secara penuh waktu tenaga ahli untuk mengelola dan mengawasi penggunaan internet 

Melakukan pelatihan teknis penggunaan internet dengan:

  • Memberdayakan tenaga ahli yang berasal dari kalangan gereja 
  • Membuat panduan lengkap bagi awam tentang bagaimana menggunakan internet, mengelola serta mengawasi penggunaannya 

Memperkenalkan prinsip etika berinternet secara sehat dengan cara:

  • Mengundang tenaga ahli yang berasal dari kalangan gereja/umum 
  • Menebar informasi-informasi penting terkait etika internet sehat 
  • Pelayan gereja menjadi teladan dalam berinternet secara sehat 

Melakukan pembinaan kedewasaan spiritual dan psikologis dengan cara:

  • Memperkenalkan etika Kristen secara umum untuk membentuk pribadi seperti Kristus (saran: Buku Verne H. Fletcher “Lihatlah Sang Manusia!” terbitan BPK Gunung Mulia 2001) 
  • Memperkenalkan teori analisa transaksional Thomas A. Haris (saran: bukunya berjudul “Saya oke, kamu oke” terbitan Cipta Loka Caraka, 1988) sebagai upaya melatih kecerdasan dan kedewasaan emosi dalam berkomunikasi 
  • Memperkenalkan teori komunikasi sederhana dan berdampak (saran: buku oleh John Maxwell “Everyone Communicate, Few Connect” , terjemahan bahasa Indonesia oleh YPI Immanuel, 2009 
  • Menyisipkan secara sengaja nasihat untuk menjadi bijaksana dalam menggunakan internet dalam kelas katekisasi, khotbah maupun acara yang khusus membahas etika Kristen menggunakan internet 

Tips-tips praktis terkait Internet sehat


Apa yang dibutuhkan untuk koneksi internet?

  • Kemampuan standar mengoperasikan dan mengatur settings dalam sistem operasi komputer 
  • Komputer dengan eksternal/internal modem 
  • Sambungan internet melalui kabel/wifi 
  • Sistem operasi asli dengan firewall 
  • Internet Security berbayar 
  • Biaya berlangganan 


Saat menggunakan situs jejaring sosial (facebook, twitter, path, instagram, linkedin, google+)

Apa yang baik

  • Memahami dan mentaati Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik 2008, dapat diunduh di http://www.lipi.go.id/intra/informasi/1250035982.pdf
  • Menggunakan identitas asli dengan nama lengkap 
  • Cermat dalam mengatur privasi pertemanan dan keamanan 
  • Bijaksana dalam menuliskan status (berpikir tiga kali dahulu sebelum menulis: apakah yang akan kita tulis itu baik, benar dan indah?) 
  • Peka mengenali dampak yang ditimbulkan (beragam interpretasi) dari status yang dituliskan atau file/foto/video yang singgah 
  • Peka untuk mengenali privasi orang lain saat hendak mengaitkan/tagging 
  • Menjadi teladan sebagai pengikut Kristus yang otentik dan tulus dalam aktualisasi diri yang bertanggung jawab 

Apa yang buruk

  • Melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik 2008. 
  • Menggunakan nama samaran dan nama yang tidak jelas, karena memiliki kepribadian yang mengarah kepada bipolar 
  • Tidak cermat dalam mengatur privasi pertemanan dan keamanan 
  • Menuliskan status tanpa berpikir terlebih dahulu, atau menulis status saat pikiran sedang kacau dan tertekan 
  • Tidak peka akan beragamnya interpretasi yang dapat muncul saat mengunggah file/foto/video 
  • Mempermalukan orang lain dengan melanggar privasi saat melakukan tagging 
  • Menjadi batu sandungan bagi orang lain karena aktualisasi diri yang tidak bertanggungjawab 


Saat mencari data

Menggunakan mesin pencarian

  • Google (http://google.co.id) sangat membantu dalam mencari rupa-rupa data informasi baik tulisan, gambar atau video. Ada pengaturan/settings yang dapat ditempuh terkait waktu, lokasi, jenis dll. Yang perlu diingat ialah bahwa tidak semua tampilan hasil pencarian benar-benar mengarahkan kita kepada informasi yang kita harapkan. Hati-hati dalam mengklik tautan situs yang ditampilkan sebab bisa jadi situs itu mengarahkan kita kepada situs-situs sampah 
  • Persempit pencarian dengan memikirkan matang-matang kata kunci pencarian. Kita dapat menggunakan bahasa Indonesia, maupun kata kunci bahasa asing 
  • Jangan lupa untuk mencantumkan sumber dari setiap data yang kita ambil sebagai wujud pertanggungjawaban hak cipta 

Menyimpan tulisan, gambar, audio/video

  • Setiap tulisan, gambar, audio/video, selagi bisa diakses dengan utuh, biasanya bisa disimpan/diunduh ke dalam storage memory komputer. Cara paling mudah ialah dengan menggunakan klik kanan dan Save as pada gambar. Untuk tulisan, kita dapat menggunakan klik kanan, copy lalu di paste ke program untuk menulis seperti Word, Oppen Office dll. Untuk audio/video/flash video files, dapat menggunakan fitur add-on browser seperti download flash video dll. Caranya, pada browser (internet exlporer, firefox, chrome, klik pada tools lalu add-on. Pilih add-on nya lalu install. 
  • Jangan lupa untuk mencantumkan sumber dari setiap data yang kita ambil sebagai wujud pertanggungjawaban hak cipta


Menebar informasi dan edukasi yang bermanfaat

Melalui Email:

  • Usahakan memiliki alamat email yang mudah dituliskan dan mewakili identitas kita 
  • Jangan berganti-ganti alamat email 
  • Jangan meneruskan email secara serampangan 

Miling-list:

  • Miling-list (milis) adalah fasilitas grup email yang dapat menyebarkan email secara masif di antara anggota milis. Penyedia milis yang terkenal antara lain yahoogroups.com (https://groups.yahoo.com/
  • Cermatlah dalam mengatur fitur privasi pesan, sebab jika pengaturannya tidak cermat, setiap email di dalam grup dapat diakses oleh publik di internet 
  • Setiap milis biasanya memiliki administrator dan aturan-aturan tersendiri. Patuhilah kaidah yang ditetapkan bersama itu 

Blog:

  • Blog adalah sarana publikasi jurnal pribadi yang dapat diakses secara publik atau diatur untuk dinikmati sendiri. Penyedia layanan blog gratis yang cukup dikenal antara lain: http://blogger.com dan http://wordpress.com
  • Jika penulisan blog dimaksudkan untuk ditujukan kepada publik di internet, isi blog sedapat mungkin adalah hal-hal yang bermanfaat dan membangun bagi peradaban dan kemanusiaan, khususnya yang terkait dengan panggilan pelayanan hidup kita 
  • Setiap hal yang terpublikasi di internet seperti tato. Walaupun sudah dihapus, jika ada yang menyimpan tulisan/postingan kita, maka tulisan/postingan kita itu menjadi abadi di internet 
  • Penghapusan manual setiap tulisan membutuhkan waktu untuk benar-benar terhapus dari internet, oleh sebab itu, bijak-bijaklah mempublikasikan apapun dalam blog kita. Hal ini juga berlaku untuk situs jejaring sosial, email dan milis.

Situs komunitas jemaat:

  • Jika sebuah gereja, setelah memperhatikan visi-misi, tujuan pelayanan dan konteksnya melihat bahwa situs komunitas Jemaat dapat menjadi sarana yang tepat untuk mendukung pelayanan dan pembangunan Jemaatnya, maka pembuatan situs komunitas Jemaat dapat dimungkinkan 
  • Situs ini harus berada di dalam pengawasan Majelis Jemaat. Harus ada tim yang solid dan bertanggungjawab serta memiliki komitmen dan dedikasi mulai dari perancangan isi dan tampilan, pembuatan, pemutakhiran, pengelolaan dan pengawasan 
  • Karena situs komunitas Jemaat juga dapat diakses secara publik melalui internet, maka sedapat mungkin isinya memperhatikan kaidah-kaidah umum yang berlaku dalam sebuah masyarakat serta aturan perundang-undangan yang berlaku sambil tetap mengingat bahwa situs itu juga akan merepresentasikan pola pikir dan sikap gereja yang dapat disimak oleh publik 


Menggunakan alat pengaman:

Menyiapkan password yang baik

  • Susun kata sandi dengan menggunakan perpaduan angka, huruf, tanda baca khusus dan besar huruf. Contoh: #$BR0kOL1#$ hindari menggunakan nama anggota keluarga atau orang terdekat seperti budi123 atau "password" atau tanggal lahir 
  • Jangan pernah mengizinkan browser untuk menyimpan kata sandi kita 
  • Jangan lupa untuk signout atau logout setelah selesai menggunakan email. Untuk ekstra tambahan keamanan, bersihkan riwayat browser dan cookies 
  • Jangan memasukkan kata sandi ke dalam aplikasi/situs-situs yang tidak jelas untuk menghindari hacking dan spamming 
  • Jika memungkinkan gunakan verifikasi 2 langkah dengan tambahan aplikasi authenticiator. (Gmail menyediakan ini secara gratis) 

Program Internet security

Waspada saat menggunakan warnet/internet gratis

  • Ditemukan beberapa kasus ada pengusaha warnet yang jahil menempatkan peranti khusus untuk menyimpan kata sandi para penggunanya. Kita perlu ekstra waspada saat membuka email atau melakukan pembayaran Online di warnet 
  • Ditemukan beberapa kasus ada orang-orang usil yang memanipulasi nama wifi gratis untuk melakukan hacking pada pengguna wifi gratis yang tidak menyadari bahwa ia sedang terhubung kepada komputer orang usil itu. Kita perlu ekstra waspada saat membuka email atau melakukan pembayaran Online pada fasilitas Free wifi. 

Saat mengalami hacking dan spamming

  • Memanfaatkan fitur pemulihan akun pada email atau situs jejaring sosial 
  • Memberikan informasi yang jelas kepada orang-orang terdekat tentang keadaan ini 
  • Mengganti password secara berkala 


Puasa Internet (Unpluged)

Saat berada dalam komunitas yang membutuhkan keterlibatan pribadi yang utuh seperti dalam:

  • Kebaktian 
  • Pertemuan pastoral/pelayanan pastoral lainnya 
  • Kegiatan-kegiatan antar pribadi lainnya 

Sebagai latihan pembentukan karakter pribadi

Saat melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi seperti:

  • Mengendarai kendaraan 
  • Terlibat dalam rapat 

Disampaikan dalam Belajar Bersama 1, Kader GKI, di Magelang, 13 Oktober 2014
(disusun oleh: Pdt. Essy Eisen)

Persembahan Sebagai Ekspresi Cinta Kasih

diposting pada tanggal 21 Mar 2014 03.34 oleh Admin Situs   [ diperbarui9 Apr 2016 01.31 ]

(dalam rangka khotbah pengajaran tentang “Persepuluhan”, Minggu 9 Februari 2014 di GKI Taman Aries, Jakarta Barat) 

oleh: Pdt. Essy Eisen 



Motivasi dan dasar yang sehat dalam persembahan

Di dalam nyanyian Pujian Daud (1 Taw. 29:10-19) kita menjumpai pemaknaan yang rendah hati dan jujur dari Daud tentang makna memberikan persembahan. Bagi Daud, segala kebesaran, kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan yang ada di langit dan segala yang ada di bumi diperuntukkan bagi Allah. Jika umat Allah waktu itu mampu memberikan persembahan yang diperuntukkan bagi pembangunan bait suci Yerusalem, apa yang mereka berikan semuanya bersumber dari kasih dan rahmat Allah semata. Kecenderungan hati yang sadar untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah seperti ini, bagi Daud harus terus menerus dipelihara dalam kehidupan umat Allah dengan pertolongan-Nya.

Dalam surat Kolose 3:15, disinggung bahwa sebagai manusia baru, yaitu manusia yang sudah ditebus dari kebodohan dosa oleh Kristus, orang Kristiani harus senantiasa menjadikan pola pikir, sikap hati dan perilaku Kristus menguasai diri. Dalam hati yang demikian, belas kasih kepada sesama, sikap yang adil, menjadi pemacu utama untuk terus terikat dalam persekutuan yang berlandaskan kasih sebagai satu “tubuh”. Di dalam persekutuan kasih itu, ungkapan syukur sepatutnya hadir tanpa paksaan. Jadi dalam kesadaran akan persatuan/persekutuan dengan sesama sebagai “satu tubuh” ungkapan syukur itu menjadi sebuah ungkapan yang mengarah kepada komitmen untuk saling mendukung satu sama lain.

Dua bagian ini, setidaknya menolong kita untuk dapat memaknakan setiap persembahan yang kita berikan bagi Tuhan yaitu: kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain berangkat dari kasih. Inilah yang seharusnya menjadi dasar yang sehat saat kita memberikan rupa-rupa persembahan dalam hidup kita. 
 

Rupa-rupa persembahan di Gereja Kristen Indonesia (GKI)

Di GKI persembahan dipahami secara utuh meliputi persembahan diri (baptisan dan hidup baru setia ikut Kristus sampai mati), persembahan waktu (kehadiran, keterlibatan dalam persekutuan), persembahan tenaga (pelayanan nyata di gereja dan masyarakat) dan persembahan uang. Persembahan dalam bentuk uang diberikan dalam persembahan di kebaktian-kebaktian, persembahan bulanan, persembahan syukur tahunan, persembahan terkait perayaan hari raya gerejawi, persembahan perjamuan kudus, persembahan sulung, serta persembahan khusus lainnya seperti untuk pembangunan gedung gereja, bantuan untuk korban bencana alam, dana kemanusiaan, dana anak asuh serta persembahan lainnya berangkat dari kebijakan Majelis Jemaat.

Walaupun terdapat rupa-rupa persembahan, sifat persembahan itu sama. Tidak diwajibkan karena berangkat dari kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain karena kasih.

Namun pertanyaannya ialah, mengapa seseorang dapat memiliki kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain karena kasih? Jawabnya ialah: karena Allah telah “menjumpai”nya! Allah di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus telah menunjukkan kasih-Nya yang besar. Dengan pertolongan kuasa Roh Kudus, orang akan dimampukan untuk merasakan karya Allah yang menyelamatkan ini.

Allah pertama sekali menjumpai manusia melalui Yesus Kristus, Firman yang hidup, juga Firman yang diberitakan gereja, sakramen, dan hal-hal lain yang dikerjakan gereja manakala gereja dengan benar menjadi rekan kerja Allah memfasilitasi perjumpaan itu dengan turut serta memberlakukan karya pembaruan-Nya. Impresi karya kasih Allah ini kemudian ditanggapi, dijawab, diekspresikan dengan kesediaan untuk berjalan mengikuti Kristus dan menyatakan kasih untuk Allah dan untuk sesama dengan utuh, melalui persembahan hidup. 
 

Persembahan persepuluhan di GKI

Di GKI persembahan persepuluhan tidak ditegaskan secara spesifik sebagai bagian dari rupa-rupa persembahan yang biasanya ada di GKI. Mengapa? Mari kita simak sedikit ulasan mengenai persembahan persepuluhan dalam Alkitab dan sejarah praktek persepuluhan dalam tradisi perjanjian lama dan perjanjian baru.

Di dalam Alkitab, persembahan persepuluhan sebagai sebuah sistem wajib terkait kehidupan bakti umat kepada Allah dan sesama, diperintahkan kepada Harun dan Musa oleh Allah dalam perjanjian-Nya yang pertama untuk mendukung pembiayaan kebutuhan hidup imam dan bani Lewi berserta keluarganya masing-masing, juga kepada perhatian kepada orang-orang miskin. Pengaturan tentang persepuluhan dicatat utamanya dalam Bilangan 18:21-32, Ulangan 14:22-29, Ulangan 26:12

1. Bilangan 18:21-32
  • Persembahan persepuluhan umat diberikan kepada TUHAN untuk kemudian disalurkan kepada Bani Lewi. Persembahan persepuluhan itu sebagai milik pusaka bagi Bani Lewi, sebagai balas atas pekerjaan mereka di kemah pertemuan. 
  • Persembahan persepuluhan yang diterima Bani Lewi harus dipersembahkan sepersepuluh lagi yang terbaik kepada TUHAN untuk disalurkan kepada imam Harun. Sisa dari persembahan itu baru untuk upah mereka. 
2. Ulangan 14:22-27
  • Setiap tahun menyisihkan sepersepuluh dari hasil tanah. 
  • Lalu sepersepuluh dari gandum, air anggur, minyak zaitun serta anak sapi dan kambing dombamu yang pertama lahir, di makan di tempat yang dipilih TUHAN untuk beribadah (kemah pertemuan, bait Yerusalem) sebagai tanda hormat dan kesetiaan kepada TUHAN. 
  • Kalau terlalu jauh, jual hasil bumi itu untuk diuangkan lalu membelanjakan uang itu untuk apa saja yang diinginkan--sapi atau kambing domba, air anggur atau minuman keras- lalu ke tempat yang dipilih Tuhan untuk beribadah (kemah pertemuan, bait Yerusalem) dan makan bersama keluarga dengan sukacita. 
  • Jangan biarkan bani Lewi terlantar. 
3. Ulangan 14:28-29
  • Tiga tahun sekali, sepersepuluh hasil bumi dikumpulkan sekota. 
  • Persepuluhan tiga tahun sekali sekota ini untuk: 
    • Bani Lewi 
    • Orang asing 
    • Yatim piatu 
    • Janda 

Penjelasan Rabi Louis Jacobs (spiritualitas Perjanjian Lama) mengenai Persepuluhan (http://goo.gl/1sFPpR)

Rabbi Louis Jacobs, pemuka agama Yahudi yang tinggal dan berkarya di Perancis pada abad sekarang ini menjelaskan tentang tradisi persembahan persepuluhan mulai dari kebiasaan kuno sampai yang modern demikian:

  • Terumah: setahun sekali, petani/peternak memisahkan hasil (1/60, 1/50, 1/40 atau sesuai kebijakan) untuk persembahan unjukkan, diberikan kepada imam (Kohen) dan persembahan itu tidak boleh dimakan oleh imam yang najis, atau jika terumah-nya buruk, atau oleh yang bukan imam. 
  • Sisa terumah itu disisihkan lagi (Ma`aser): 
    1. Ma`aser rishon : sepersepuluh pertama. Untuk bani Lewi. Lalu bani Lewi ini menyisihkan sepersepuluh dari persepuluhan itu sebagai terumat ma`aser dan diberikan kepada imam (kohen). Sifatnya kudus sama seperti terumah. Sisa terumat ma`aser itu untuk bani Lewi dan boleh dimakan bahkan oleh orang Israel biasa. 
    2. Sisa Ma`aser rishon disisihkan sepersepuluh lagi, yang disebut dengan Ma`asher sheni. Ini dibawa/dimakan di Yerusalem. 
    3. Setiap tiga tahun sekali, Ma`asher sheni ini diberikan kepada orang-orang miskin. Ini disebut sebagai Ma`asher ani. 
    4. Sisa Ma`asher sheni/Ma`asher ani, baru untuk dikelola kembali oleh petani/peternak. 
[Catatan tambahan: Tahun ketujuh adalah tahun Sabat. Hasil bumi pada Ma`aser rishon bisa diuangkan tetapi ditambah 1/5. Ternak tidak bisa diuangkan. Persembahan persepuluhan, wajib hukumnya.]
  • Setelah bait Yerusalem hancur, (70 M) Ma`asher sheni ini tidak dimutlakan dan bebas dimakan di tempat petani/peternak tinggal. 
  • Menurut para rabi, hukum persepuluhan hanya berlaku untuk tanah Israel, dan petani/peternak di diaspora/luar tanah Israel tidak memiliki kewajiban untuk memberikan persepuluhan, meskipun ada beberapa bukti dari masyarakat di luar Israel, di Mesir misalnya, memiliki sistem persepuluhan. Selain itu, sekarang ini mayoritas orang Yahudi tidak lagi tinggal di Israel, dan tujuan persepuluhan untuk pemeliharaan para imam dan orang Lewi, tidak memiliki arti saat ini. 
  • Beberapa sumber rabinik membuat referensi tentang pembaruan sistem memberi persepuluhan dengan menggunakan uang, meskipun tidak terlalu jelas apakah ini dilihat sebagai kontribusi sukarela atau kewajiban. Namun demikian, banyak orang Yahudi yang taat saat yang menyumbangkan sepersepuluh dari pendapatan tahunan mereka untuk amal. Hal ini dikenal sebagai maaser kesafim, pajak pendapatan. 
Dari ulasan singkat Rabbi Louis Jacobs ini jelas terlihat bahwa praktek persembahan persepuluhan telah mengalami dinamika perubahan yang signifikan dalam kehidupan umat perjanjian lama, terlebih lagi sejak bait suci di Yerusalem hancur sekitar tahun 70 M yang mengakibatkan pekerjaan imam-imam tidak ada lagi serta kehadiran bani Lewi sulit dilacak lagi keotentikannya. 
 

Kritik beberapa nabi terkait persepuluhan yang kehilangan makna

Dalam prakteknya sejak peraturan persembahan persepuluhan ditetapkan pada zaman Musa dan Harun, ada beberapa kesempatan kala umat Allah sekaligus para imam dan bani Lewi kehilangan makna kasih, keadilan dan kerendahan hati kepada Allah dalam pemberlakuan penatalayanan melalui persembahan. Beberapa nabi diutus Allah untuk mengingatkan keculasan hati umat-Nya, seperti nabi Nehemia (10, 12, 13), Amos (Am. 4:4) dan Maleakhi (Mal.3). Para nabi itu bukan semata-mata mengingatkan umat Allah untuk memberikan persembahan persepuluhan belaka, tetapi lebih penting lagi, menukik kepada makna terdalam persembahan terkait kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain karena kasih!


Praktek persembahan persepuluhan dalam spiritualitas Perjanjian Baru

Pada masa Tuhan Yesus berkarya secara fisik di bumi, (sekitar 2 SM – 30anM) bait Yerusalem masih ada dan praktek persembahan persepuluhan masih dijalankan. Namun rupanya, mirip dengan keadaan pada masa-masa keculasan umat Allah sebelumnya, Tuhan Yesus mencermati bahwa pemberian persembahan persepuluhan itu tidak diikuti dengan keadilan, belas kasih dan kesetiaan (Mat 23:23; Luk. 11:42, Luk. 18:12).

Sejak Tuhan Yesus Kristus dibangkitkan Allah, naik ke Sorga dan Gereja-Nya hadir, pengikut-Nya menyadari bahwa melalui kehadiran-Nya Allah menyatakan perjanjian-Nya yang kedua, perjanjian yang baru bagi umat-Nya. Melalui karya Kristus sebagaimana penulis kitab Ibrani menegaskan, rupa-rupa cara bakti umat perjanjian lama diperbarui (Ibr. 10:8-10).

Sistem persembahan pada masa itu pun mengalami pembaruan. Jika kita melihat salah satu surat Paulus, Rasul Kristus yang berkarya pada masa gereja mula-mula yang menyinggung soal persembahan, ada model baru dalam pengumpulan persembahan yaitu persembahan sukarela yang disisihkan tanpa menyebutkan presentasi seperti model persepuluhan (1 Korintus 16:1-2, 2 Korintus 8:19, 2 Korintus 9:12). Sejak itu, Gereja berangsur-angsur tidak lagi secara spesifik menegaskan persembahan persepuluhan sebagai sebuah sistem legal dan wajib sebagaimana ada pada zaman perjanjian lama.

Oleh sebab itu kita dapat memahami mengapa di GKI, persembahan persepuluhan tidak secara spesifik ditegaskan sebab:

  • Sejak bait suci Yerusalem hancur, sistem persembahan persepuluhan pun tidak cocok lagi, khususnya persembahan yang diperuntukkan bagi imam dan bani Lewi. 
  • Lalu alasan berikutnya, sebagaimana Tuhan Yesus ajarkan, yang paling penting dari persembahan itu bukan sekadar nominalnya tetapi motivasi yang benar dengan hati yang rela. Kita memberikan persembahan sebagai ekspresi cinta kasih kepada Allah dan sesama dan bukan untuk “memancing” Allah memberkati kita. Persembahan harus disertai kerendahan hati, ketulusan, keadilan, belas kasih dan kesetiaan. 
  • Alasan terakhir, sebagaimana Rasul Paulus menasihatkan dalam surat Roma 12:1, sejatinya Allah menginginkan keseluruhan hidup kita. Bukan sekadar uang atau materi kita belaka. 
Ulasan yang cukup komprehensif tentang persembahan persepuluhan dapat dilihat juga dalam tulisan Pdt. Joas Adiprasetya di http://goo.gl/vhzrRI Beberapa bagian dari tulisan ini diambil dari ulasan pada tautan itu.


Tanya Jawab dalam kebaktian

Pertanyaan bpk. S: Apakah praktek persembahan persepuluhan di GKI berbeda dengan gereja-gereja karismatik yang menekankan dan mewajibkan persepuluhan?

Jawab: Ya, berbeda. Di GKI, bagi yang ingin memberikan persembahan persepuluhan tetap diwadahi namun bukan merupakan kewajiban. Selain itu, persembahan persepuluhan yang dipersembahkan, sebagaimana pada umumnya persembahan-persembahan lainnya, akan masuk ke dalam kas gereja untuk kemudian dikelola bagi pembiayaan kegiatan persekutuan, kesaksian, pelayanan, pembangunan iman jemaat dan pengadaan serta pengelolaan sarana penunjang gereja yang bersangkutan. Jadi bukan untuk pendeta. GKI memiliki sistem yang ditetapkan Majelis Sinode GKI terkait pembiayaan kebutuhan hidup para Pendetanya.

Pertanyaan bpk. S: Apakah saya boleh memberikan persembahan persepuluhan bukan untuk gereja, tetapi untuk hal-hal di luar gereja seperti untuk dana anak asuh, bantuan kesehatan dll?

Jawab: Sejatinya semua persembahan ialah untuk Allah. Persembahan yang diberikan kepada Gereja pun kita hayati untuk Allah. Sebab dalam penghayatan kita, sebagai Gereja-Nya kita diajak Allah untuk menjadi rekan kerja-Nya, ikut serta mengerjakan misi Allah bagi dunia. Namun, misi Allah itu tidak hanya dilakukan oleh Gereja semata bukan? Setiap orang percaya dalam dan melalui karya hidupnya terpanggil juga untuk ikut mengerjakan misi Allah bagi dunia. Oleh sebab itu, memberikan persembahan persepuluhan di luar gereja, selagi itu adalah sebagai tanda kita ikut serta mengerjakan misi Allah, adalah kebijakan yang sehat juga. 
 
Pertanyaan bpk. P: Bagaimana caranya supaya ada totalitas dalam memberikan persembahan?

Jawab: Totalitas lahir dari ketulusan dan bukan paksaan. Dalam pemahaman saya, orang yang memberikan secara total dalam hidupnya adalah orang yang berkenan untuk menerima dan menyambut karya kasih Allah yang datang dalam kehidupannya. Kisah Zakheus (Lukas 19:1-10) memperlihatkan dengan jelas proses ini.

Pertanyaan ibu L: Maleakhi 3:10 (Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.) sering kali ini dipakai sebagai arahan untuk memberikan persepuluhan. Bagaimana kita memahami ayat ini?

Jawab: Ada baiknya dalam memahami ayat ini, kita membaca seluruh kitab Maleakhi dan bukan hanya ayat itu saja. Dalam pembacaan yang utuh, kita akan menjumpai bahwa umat dikritik bukan karena tidak memberikan persepuluhan belaka, atau untuk memperlihatkan Allah yang “akan memberi dengan berlimpah kalau diberi persepuluhan”. Itu merupakan penafsiran yang sempal dan dapat terjatuh dalam pola pikir penyembahan berhala (pesugihan). Apakah Allah begitu “perhitungan” sekali? Apakah bedanya Allah dengan dewa dewi gunung kawi misalnya? Tentu bukan demikian maksudnya.

Penafsiran yang sehat ialah: Maleakhi sedang menyampaikan kritik ilahi kepada umat karena umat tidak setia kepada Allah dalam menunjukkan kasih dan keadilan, baik kepada Allah maupun sesama. Itulah pesan utama Maleakhi. Allah selalu setia dan memberkati umat-Nya (perhatikan Mal.1:2). Namun kasih setia Allah ini mendapatkan respons yang buruk dari umat Allah. Mereka tidak setia dalam mengasihi Allah dan sesamanya. Ketidaksetiaan itu antara lain terlihat dari ketidaktulusan mereka dalam menjalankan ibadah ritual dan sosial (Mal. 2:1-16) Pada zaman Maleakhi, (dan zaman PL pada umumnya) persepuluhan adalah salah satu cara/sistem yang menolong umat untuk menyatakan kesetiaan dan keadilan (demi pembiayaan hidup para Imam dan bani Lewi, serta orang miskin). Dalam salah satu “latihan kesetiaan” itu, yaitu praktek persepuluhan, didapati bahwa umat memiliki motif yang cemar dan tidak tulus (Mal. 3:1-5). Jadi, penekanannya bukan sesempit kepada pemberian persembahan persepuluhannya, tetapi lebih kepada hati dan pikiran umat. Apakah umat telah menyambut kasih setia Allah dengan memberlakukan kasih, kebenaran, keadilan dengan setia baik dalam ritus ibadah maupun perilaku sosial dengan sesamanya? Ini adalah pertanyaan suci yang tegas dari Allah yang sudah menyatakan kasih-Nya kepada umat-Nya.

Pertanyaan ibu D: Apakah persepuluhan relevan saat ini?


Jawab: Sebagai sebuah sistem seperti yang dihayati oleh umat perjanjian lama, menurut saya sudah tidak relevan lagi. Sebab kini sudah tidak ada imam-imam dan bani Lewi. Para penganut agama Yahudi (spiritualitas perjanjian lama) sendiri saat ini, tidak mempraktekkan persepuluhan persis sama seperti yang diamanatkan Allah melalui Musa dan Harun. Namun, jika umat perjanjian baru saat ini, dalam hal ini Gereja, ingin meniru praktek persepuluhan dalam pengertian menyisihkan yang terbaik dengan tegas dan jelas penghasilannya dalam setiap persembahan-persembahan yang diberikannya, itu adalah kebijakan pribadi dan “latihan komitmen” yang tidak dilarang.

Pertanyaan bpk. N: Apakah boleh kita memaknai persekutuan bukan sebatas persekutuan iman belaka, tetapi sebagai sebuah persekutuan umat manusia?

Jawab: Boleh dan bagus. Dalam pengelolaan persembahannya pun gereja-gereja Tuhan pasti memperuntukan persembahan itu bukan semata-mata bagi diri sendiri, tetapi demi terwujudnya damai dan sejahtera bagi banyak orang melalui kehadiran dan karya gereja.

Pertanyaan ibu M: Jika saya ingin mempraktekkan persembahan persepuluhan, itu dihitungnya dari hasil bulanan atau penghasilan bersih atau bagaimana?

Jawab: Dalam tradisi perjanjian lama, praktek persepuluhan dihitung dari hasil bumi/ternak tahunan yang terbaik. Tetapi seperti saya katakan tadi, praktek persepuluhan model perjanjian lama telah mengalami dinamika saat ini, terlebih lagi bagi umat perjanjian baru/gereja. Tetapi kalau ibu ingin memberlakukan praktek persepuluhan sebagai “latihan komitmen” pribadi, ibu dapat memberikan yang terbaik dari setiap hasil karya ibu dalam hidup. Mengenai bulanan, tahunan, mingguan atau harian, hasil bersih, hasil kotor, semua dikembalikan kepada ibu secara pribadi. Yang penting itu semua harus berangkat dari kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain berangkat dari kasih.

Pertanyaan bpk. A: Apakah di gereja ada Badan yang secara khusus mengurus dan mengelola penerimaan persepuluhan?

Jawab: Di GKI semua persembahan yang masuk dikelola oleh Majelis Jemaat dalam tanggung jawab yang penuh dan utuh kepada Allah dan sesama ciptaan-Nya untuk dikelola demi terwujudnya kasih, keadilan, kebenaran dan damai sejahtera bagi segenap ciptaan.

Pertanyaan ibu. N: Dalam peraturan persepuluhan di PL, dikatakan imam yang terkontaminasi tidak boleh menerima persepuluhan apa maksudnya? Lalu siapakah Rabi Louis Jacobs?

Jawab: Imam yang terkontaminasi maksudnya imam yang menurut peraturan keimaman menjadi najis karena misalnya: menyentuh mayat, melakukan pelanggaran dosa dsb. Rabi Louis Jacobs itu adalah Rabi (pemuka agama Yahudi) yang tinggal di Prancis. Pendapat dia saya pilih secara acak melalui internet dan karena penjelasannya cukup populer dan mewakili kelompok orang-orang yang masih menjalankan tradisi spiritualitas perjanjian lama.

Pertanyaan Sdr. Y: Apakah imam-imam digaji? Apakah Pendeta digaji? Bolehkah umat memberikan persembahan kepada pendeta secara langsung?

Jawab: Imam-iman dalam tradisi perjanjian lama pada zaman Musa dan Harun tidak digaji. Sistem persepuluhan adalah sarana bagi mereka untuk mendapatkan pembiayaan hidup mereka.

Pendeta GKI tidak digaji. Sebab pemahaman gaji pada umumnya ialah upah yang diberikan diakhir bulan saat selesai melakukan pekerjaan. Pendeta GKI lebih tepatnya dikatakan mendapatkan jaminan pembiayaan hidup yang diberikan oleh gereja tempat ia bekerja. Pembiayaan itu disebut “jaminan kebutuhan hidup” dan diberikan di awal bulan. Pendeta GKI tidak boleh memiliki pekerjaan di luar pekerjaannya sebagai pendeta. Ia bekerja, melayani di gereja penuh waktu. Oleh sebab itu, kebutuhan hidupnya dijamin oleh Allah melalui Gereja-Nya.

Pemberian persembahan langsung kepada pendeta tidak dilarang dan tidak diwajibkan. Pendeta biasanya memiliki kesadaran kode etik dengan meneruskan persembahan yang diterimanya untuk dimasukkan dalam kas gereja. Ini dilakukan untuk tetap menjaga agar persembahan kepada pendeta secara langsung tidak menjadi sebuah kebiasaan yang umum (lazim).

Sebagaimana persembahan pada umumnya, persembahan langsung kepada pendeta itu pun harus berangkat dari kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain berangkat dari kasih, tanpa ada maksud-maksud lain yang tidak sehat dan bertentangan dengan Firman Allah.

Pentakosta dan Persembahan Syukur Tahunan

diposting pada tanggal 17 Mei 2013 09.43 oleh Essy Eisen

Pentakosta dalam Yudaisme dan Kekristenan[1]

Pentakosta [(dari bahasa Yunani pentēkostē (πεντηκοστη) artinya 50] adalah perayaan yang dilakukan 50 hari setelah Paska (Passover). Dalam Perjanjian Lama, perayaan ini disebut “Hari Raya Tujuh Minggu” (Shavuoth) sebagaimana dijelaskan dalam Kel. 34:22; Ul. 16:10. Disebut demikian karena terjadi 7 minggu setelah Paska. Nama lain untuk perayaan ini adalah “Hari Raya Menuai” (Kel. 23:16) karena kaitannya dengan musim panen dan “Hari Hulu Hasil” (Bil. 28:26), di mana hasil terbaik dari panen dan ternak dipersembahkan bagi Tuhan. “Hari Hulu Hasil” ini tidak sama dengan persembahan yang diberikan pada awal masa menuai sebagaimana disebut dalam Im. 23:9–14.

“Hari Raya Menuai” adalah salah satu hari raya perziarahan wajib dari tiga hari raya umat Tuhan pada Perjanjian Lama saat mereka mempersembahkan persembahan mereka kepada Tuhan (Kel. 23:14–17). “Hari Raya Menuai”, utamanya adalah hari raya panen yang dirayakan diakhir panen jelai dan diawal panen gandum. Secara tradisional, penuaian gandum diperpanjang dari saat Paska, saat gandum pertama disabit (Ul. 16:9) sekitar pertengahan April, sampai Pentakosta yang menandai tuntasnya di sekitar pertengahan Juni.

Setiap tahun Imam menunjukkan berkas gandum yang baru dituai kepada Tuhan pada hari sesudah sabat dalam “Hari Raya Roti Tidak Beragi” (7 hari sesudah Paska). Umat lalu menghitung 50 hari sejak hari persembahan hasil sabit panen pertama hingga 7 hari sabat untuk menantikan “Hari Raya Tujuh Minggu” (Im. 23:11). Pada hari ini dua buah roti unjukan yang harus dibuat dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik dan yang dibakar sesudah dicampur dengan ragi diberikan sebagai hulu hasil bagi Tuhan (Im. 23:17) juga persembahan sukarela diberikan (Ul. 16:10). Dalam rangka hasil bumi yang diberikan sebagai ungkapan syukur atas berkat Allah, persembahan hewan juga dilakukan (Im. 23:18; Bil. 28:27). Pesta syukur panen ini adalah saat bersukacita yang diikuti libur kerja (Im. 23:21; Ul. 16:11). Perayaan “Hari Raya Tujuh Minggu” pada masa Salomo (2 Taw. 8:13) adalah satu-satunya referensi dalam Perjanjian Lama saat “Hari Raya Tujuh Minggu” dilakukan diluar Pentakosta, karea Yehezkiel tidak menyinggungnya dalam kalender perayaan syukur yang dituliskannya (Yeh. 45, 46).

Di dalam Perjanjian Baru, Pentakosta adalah saat di mana Roh Kudus berkarya dengan sangat kentara dalam diri pengikut Kristus, saat pertama kali Gereja hadir (Kis. 2:1). Karena Pentakosta adalah pesta syukur wajib, maka banyak orang Yahudi berkumpul dari banyak tempat yang jauh untuk datang ke Yerusalem. Sungguh saat yang tepat bagi karya pembaruan Allah. Dalam dua kesempatan, Paulus bahkan mempertimbangkan perayaan Pentakosta dalam jadwal perjalanannya. Seperti dalam surat Korintus, saat ia menunda kunjungannya sampai setelah Pentakosta (1 Kor. 16:8) atau pada kesempatan lain ia merencanakan untuk mengunjungi Yerusalem pada saat Pentakosta (Kis. 20:16).

Orang-orang Yahudi pada zaman sekarang, mengingat dan merayakan pemberian Hukum Allah di Sinai saat perayaan Shavuot untuk melengkapi perayaan pesta panen tradisional. Penambahan makna ini terjadi setelah bait Yerusalem hancur tahun 70. Selain itu, hal ini juga didukung dalam Keluaran 19:1, di mana disebutkan bahwa Hukum Allah diberikan tiga bulan setelah Paska pertama. Saat ini, penekanan syukur atas pemberian Hukum Allah menjadi lebih ditekankan oleh orang Yahudi. Saat perayaan itu, selain pembacaan Taurat, kitab Rut juga dibacakan karena latar belakang panen yang ada di dalamnya. Dikemudian waktu, dalam perayaan Pentakosta juga dikenang kematian Raja Daud, sehingga Mazmur-Mazmurnya pun dibacakan juga kala perayaan itu.

Umat Kristen secara rutin merayakan Pentakosta tetap pada hari Minggu tertentu dengan asumsi bahwa 50 setelah Paska sampai “Hari Raya Tujuh Minggu” dihitung sampai hari sesudah sabat ketujuh (Hari-Hari Minggu) sebagaimana dijelaskan dalam Imamat 23:15, 16. Menurut beberapa penafsir agama Yahudi, hari sabat dalam Imamat bukanlah hari sabat, tetapi hari suci Paska yang jatuh berbeda setiap tahunnya. Dalam pemahaman demikian, yang didukung oleh para Farisi, “Hari Raya Tujuh Minggu” dirayakan pada hari yang berbeda setiap tahunnya dibanding hari sesudah sabat ketujuh. Saat Gereja mula-mula merayakan pemberian Allah berupa Roh Kudus di hari Pentakosta, pada hari itu juga menjadi kebiasaan yang populer untuk dilaksanakannya Sakramen Baptisan. Pakaian putih yang dikenakan para calon baptisan membuat hari minggu itu disebut juga dengan Whitsunday (White Sunday) dalam tradisi Kristen.


Pentakosta dan Persembahan Syukur Tahunan di GKI


Gereja Kristen Indonesia (GKI) memiliki kebiasaan untuk mengikuti kebiasaan yang sudah dilakukan oleh umat Perjanjian Lama dalam merayakan Pentakosta yaitu memberikan persembahan syukur. Di GKI, kita menyebutnya “Persembahan Syukur Tahunan”. Dikatakan demikian karena persembahan yang diberikan biasanya merupakan persembahan yang sudah disiapkan setahun lamanya bagi Tuhan. Seperti umat Tuhan di Perjanjian Lama yang bersyukur atas berkat Tuhan berupa pemeliharaan dan berkat hasil panen, juga pemberian Hukum Allah di Sinai, kita menjiwai rasa syukur itu dengan mempersembahkan uang hasil kerja yang diberkati Tuhan. (Itu sebabnya juga acapkali saat Pentakosta, kita mendekor altar depan mimbar dengan hasil bumi sebagai simbol syukur kita). Tentu bukan hanya itu saja, di Pentakosta dalam Perjanjian Baru, “hasil panen” yang dituai adalah “orang-orang percaya” yang dibarui hidupnya karena karya Roh Kudus. Jadi saat kita memberikan persembahan syukur kita, secara tidak langsung kita tengah menghadirkan diri yang berkenan untuk terus menerus dibaharui dan diperlengkapi Roh Kudus senantiasa.

---

[1] Elwell, W. A., & Beitzel, B. J. (1988). Baker encyclopedia of the Bible. Map on lining papers. (1639). Grand Rapids, Mich.: Baker Book House.

Simeon, Hana dan Kita

diposting pada tanggal 23 Des 2011 20.09 oleh Essy Eisen

Lukas 2: 21-40

Adakah di antara saudara yang suka menunggu? Menunggu bagi kebanyakan orang tidak enak. Belum lama ini di akhir tahun saya mengunggu di bank untuk menabung. Ternyata antriannya panjang sekali karena itu adalah hari terakhir transaksi tahun 2008. Ada lebih dari 10 orang di depan saya. Dibutuhkan waktu satu jam lebih sebelum saya bisa sampai ke meja teller. Harus saya akui, menunggu terasa tidak menyenangkan. Akhirnya satu jam terbuang.

Itu baru satu jam. Bagaimana kalau kita harus menunggu bertahun-tahun untuk satu hal? Apalagi jika yang kita tunggu-tunggu itu adalah sesuatu yang dijanjikan Allah sendiri langsung kepada kita? Bagaimana rasanya? Pembacaan Injil kita hari ini menghantar kita bertemu dengan Simeon, seorang Israel yang setia menantikan janji Allah tentang datangnya seorang Mesias. Simeon telah menerima janji dari Roh Kudus sendiri bahwa ia tidak akan mati sampai ia menjumpai Mesias yang dijanjikan Allah.

Lukas tidak secara spesifik menyebutkan berapa lama Simeon sudah menunggu dan berapa usianya saat itu. Tetapi kebanyakan ahli tafsir memperkirakan usianya sudah sangat lanjut ketika menemui Maria, Yusuf dan bayi Yesus di Bait Allah, karena kata-kata “Sekarang Tuhan biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan FirmanMu” (ay 29). Yang jelas dicatat Alkitab adalah bahwa Ia orang yang benar dan saleh. Tahun-tahun penantian akan Mesias itu tidak membuat Simeon menjadi orang yang melupakan Tuhan karena janjiNya seolah-olah tak pernah terjadi. Ia malah bertumbuh menjadi orang yang sangat dekat dengan Tuhan. Karena kedekatan inilah, Simeon pada hari itu bisa bertemu dengan Mesiasnya. Roh Kudus yang telah memberikan janji kepadanya juga menuntun dia untuk masuk ke Bait Allah dan mengenali bayi kecil Yesus sebagai juru selamat yang ditunggu-tunggu untuk membawa kelepasan.

Dari Simeon, kita melihat bahwa janji dan firman Allah memang pasti digenapi, tetapi soal kapan itu ditepati, itu adalah hak Allah untuk menentukannya. Mungkin janji itu digenapi hari ini, besok, minggu depan, tahun depan, atau bertahun-tahun lagi, atau bahkan baru menjelang ajal. Tugas kita sepanjang saat penantian itu adalah tetap setia, tetap hidup “benar dan saleh” dan dengar-dengaran dengan perkataan Roh Kudus. Percayalah bahwa “Ia yang menjanjikannya setia” (Ibr 10:23). Kita juga melihat bahwa Roh Kudus berperan penting dalam seluruh kehidupan Simeon. Dialah yang memberikan janji itu tentang Mesias dan Dialah juga yang menuntun Simeon untuk mengenali bayi mungil di Bait Allah sebagai Mesiasnya. Adakah kita juga membiarkan Roh Kudus menuntun kehidupan kita sementara menanti penggenapan janji dan firman Allah?

Dalam buku Too Busy Not to Pray, dikisahkan seorang pendeta menemui seorang wanita yang menangis sangat keras di teras gereja. Pendeta itu bertanya, “Mengapa Anda menangis?” Wanita itu menjawab, “Ibu saya dibaptis hari ini.” “Bukankah itu kabar baik, mengapa ibu menangis?” Wanita itu bercerita ia sudah lama berdoa agar ibunya bertobat. Ia percaya bahwa janji keselamatan Allah juga berlaku bagi ibunya. Setelah lima tahun berdoa, ia mulai ragu apakah Allah akan menjawab doanya, tetapi ia terus berdoa. Setelah sepuluh tahun berdoa, ia merasa dirinya amat bodoh, menantikan Allah akan bertindak, tetapi ia terus berdoa. Setelah lima belas tahun berdoa, ia sudah putus asa. Agaknya Allah tidak akan bertindak apa-apa. Dua puluh tahun kemudian, barulah si ibu wanita itu akhirnya dibaptis. Wanita itu berseru, “Akhirnya, Allah bertindak dan saya tidak akan pernah meragukan lagi kuasa Allah.” Allah tidak harus segera menggenapi janjiNya. Ia punya pengaturan waktu sendiri. Kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan pengaturan waktu Allah. Namun yakinlah, Allah akan mengerjakan apa yang menjadi bagianNya juga. Kesabaran menantikan penggenapan janji Allah adalah aspek pertama yang kita pelajari dari bacaan kita hari ini.

NKB 60 bertanya, “Gerangan bayi apakah yang di pangkuan Maryam?” Melalui penuturan Simeon, kita bisa menemukan sebagian jawaban dari pertanyaan yang ditanyakan oleh banyak orang ini. Bayi yang digendong Maria itu tidak lain adalah Mesias yang sudah dijanjikan berabad-abad yang lalu. Bayi Yesus, yang pada waktu itu barangkali baru berumur satu bulan lebih, mengingat upacara pentahiran baru bisa dilaksanakan jika seorang bayi laki-laki berumur 30 hari sesuai dengan isi Taurat. Reaksi Simeon ketika melihat Yesus adalah menyambut dan menatangNya. Ia memuji Allah karena matanya boleh melihat “keselamatan yang daripadaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu Israel.” Jelaslah, bahwa Yesus menurut kesaksian Injil Lukas adalah Juruselamat bukan hanya bagi umat Israel, tetapi juga terang bagi segala bangsa. Kesaksian Hana kepada semua orang tentang bayi ini semakin memperkuat fakta bahwa dalam Lukas 2: 21-40, kita tidak berhadapan dengan bayi biasa-biasa saja. Dia sungguh adalah Mesias yang dinantikan itu.

Saudara-saudara, kita sekarang mengetahui semua hal ini melalui Alkitab, melalui pemberitaan gereja dan catatan sejarah itu sendiri. Namun Simeon dan Hana tidak punya semua itu. Mereka hanya melihat bayi berumur satu bulan yang belum bisa apa-apa dan dibawa oleh orang tuanya yang sederhana dari Nazaret, yang hanya sanggup mempersembahkan tekukur dan merpati, bukan kambing atau domba yang merupakan korban pentahiran utama bagi mereka yang mampu. Bagaimana mereka bisa percaya dan beriman bahwa bayi yang masih kemerahan ini adalah Mesias bagi dunia? Mereka pertama-tama percaya bahwa Allah akan menggenapi janjiNya. Mereka ini mencerminkan iman Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Iman kedua orang tua ini adalah iman yang super yang tidak perlu tahu sama sekali dari peristiwa sejarah. Mereka sanggup melihat dengan mata iman bertahun-tahun ke muka. Simeon bahkan bisa menasihati Maria dalam ayat 33-35, bahwa anak ini akan menjadi tanda yang besar bagi Israel dan juga menjadi pedang yang membawa kesedihan bagi dirinya.

Akan tetapi, iman kita yang kecil juga mempunyai persamaan juga dengan iman mereka yang besar. Simeon, Hana, saya dan saudara semua tak pernah melihat Yesus disalibkan, dikuburkan lalu dibangkitkan. Namun dengan iman kita semua percaya Ia adalah Mesias. Kita semua di sini juga adalah pewaris iman Simeon dan Hana. Bagi Simeon, Hana dan kita semua yang percaya berlakulah perkataan Yesus, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:29). Keyakinan iman ini adalah pokok kedua dari bahasan kita akan Lukas 2:21-40.

Pada akhirnya, saudara-saudara, perjumpaan dengan Yesus, walaupun dalam bentuk bayi, tidak bisa menghasilkan iman yang diam dan berpangku tangan. Biarpun yang dihadapinya hanyalah bayi kecil, Hana tidak bisa berdiam diri. Ia memberitakan hal ini kepada semua orang. Bayangkanlah betapa bingungnya orang-orang mendengar bahwa bayi berumur satu bulan ini adalah Mesias?

Hana tidak berhenti dengan bersyukur saja karena telah melihat sang Mesias. Ia melanjutkan kabar sukacita ini kepada “semua yang menantikan kelepasan bagi Yerusalem”, walaupun usianya sudah 84 tahun. Bagaimana dengan kita yang lebih muda? Adakah iman kita hanyalah iman yang diam saja? Ataukah kita juga mau ambil bagian dalam menyaksikan karya keselamatan Allah yang dimulai sejak kelahiran Yesus?

Kiranya bersama dengan Simeon dan Hana, kita menjadi umat yang semakin yakin akan kegenapan janji Allah, semakin beriman pada Mesias yang sudah datang dan semakin rajin mengabarkan sukacita kedatangan Mesias kepada dunia ini. Kiranya ketiga pokok pelajaran ini menjadi bekal kita dalam menghayati masa raya Natal. Semoga sukacita masa raya Natal mendorong kita semua melakukan semua ini demi kemuliaan Allah Bapa melalui PutraNya, Yesus Kristus dan dalam persekutuan dengan Roh Kudus.

Agustian Sutrisno

“Jiwaku memuliakan Tuhan”

diposting pada tanggal 10 Des 2011 15.56 oleh Essy Eisen

Luk 1: 46b-55

Bayangkanlah kalau anak dalam kandungan Anda diramalkan akan menjadi presiden. Apa yang akan Anda lakukan? Mungkin sebagian dari kita akan bersyukur kepada Tuhan. Wah, alangkah baiknya Tuhan sehingga ia akan memberikan anak yang begitu hebat. Sebagian lagi akan mulai berpikir, anak ini sebaiknya disekolahkan di mana dan harus ikut partai politik apa. Mungkin ada lagi yang berpikir tentang segala kemasyuran, kekayaan dan kesenangan yang akan datang di masa depan. Ada juga yang barangkali mulai berpikir tentang hal-hal apa yang harus dilakukan sang anak nanti untuk membawa negara ke arah yang lebih baik.

Maria agaknya jatuh ke kategori terakhir. Malaikat Gabriel sudah mengatakan, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan” (Luk 1: 32-33). Namun dalam puji-pujianNya kepada Allah, apa yang disebutkan Maria? Ia berbicara tentang kuasa Allah yang menceraiberaikan orang-orang yang congkak hatinya, tentang Allah yang meninggikan orang-orang rendah, tentang Allah yang melimpahkan segala yang baik kepada orang lapar.

Bukankah ini suatu hal yang mengagumkan? Maria tidak berpikir tentang kekuasaan dan kekayaan. Ia malah berpikir tentang orang-orang yang kesusahan yang akan dipulihkan Allah. Perhatikan pula berapa sering kata Allah atau kata ganti untuk Allah muncul dalam bacaan kita. Maria sangat terfokus pada apa yang Allah akan lakukan, bukan apa yang akan dia sendiri lakukan atau apa yang anaknya nanti akan lakukan.

Maria menjadi model bagi kita semua yang sungguh ingin mengikuti Allah dan ambil bagian dalam karyaNya. Ia menempatkan diri sebagai hambaNya, bukan sebagai calon Ibu Suri. Ia menginginkan terwujudnya cita-cita Allah di dunia, bukan cita-cita pribadi. Ia prihatin akan kesusahan umat, bukan kesenangan diri sendiri. Kiranya lagu pujian Maria juga menjadi lagu pujian kita melalui sikap hidup dan tindakan nyata dalam masa Advent ini.

(Agustian N. Sutrisno)

Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!

diposting pada tanggal 2 Des 2011 07.13 oleh Essy Eisen

Mrk 1: 1-8

Bayangkanlah suatu hari di depan GKI Halimun berdiri seseorang yang berpakaian lusuh, kurus kering, dengan potongan rambut acak-acakan mulai berteriak-teriak setelah kebaktian minggu selesai: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” Tidakkah kita bersama-sama akan mengusirnya?

Demikianlah kira-kira penampilan Yohanes Pembaptis jika ia hidup di zaman kita. Memang mungkin dia tidak akan muncul di depan gereja. Dia anti kemapanan dan anti hirarki rohaniwan. Dia barangkali akan menelusuri jalan-jalan Jakarta dan mengajak orang banyak, kaum papa dan mereka yang dianggap gereja terlalu berdosa untuk bertobat dan mengalami kasih Allah.

Terus terang kalau saya mendengar seruan Yohanes Pembaptis yang dikutip di atas, saya akan mulai mengkritiknya. Itu berita yang terlalu sederhana. Hidup Kristen tidak bisa cuma sekedar mengaku bertobat dan minta dibaptis. Harus ada buah-buah pertobatan. Sebelum dibaptis, orang harus ikut katekisasi. Setelah itu ia perlu ikut pembinaan, malah kalau perlu sekolah teologi. Khotbah saya pun tidak terlalu banyak mengajak orang bertobat dan dibaptis. Itu khotbah gereja aliran lain, bukan GKI.

Namun, berita Yohanes Pembaptis yang begitu pendek menurut catatan Markus agaknya lebih mengena daripada khotbah panjang saya. Berita pertobatan yang dibawanya bukan sekedar ucapan belaka. Berita itu dipertegas oleh gaya hidupnya yang begitu merakyat. Dengan berjubah bulu unta, berikat pinggang kulit, makan belalang dan madu hutan, ia menolak semua kemapanan palsu para imam di Yerusalem dan otoritas pemerintah Herodes dan Kekaisaran Roma yang menyengsarakan rakyat. Ia solider dengan orang-orang papa dan “berdosa” yang dibuang oleh para penguasa karena tidak cukup kelihatan saleh dan tidak cukup mampu membayar pajak kepada penguasa. Tak heran ada banyak orang yang mau mengikuti seruannya. Yohanes Pembaptis menawarkan penerimaan dan kasih tulus Allah yang terbuka bagi siapa saja selama mereka sungguh mau bertobat dan mengakui pertobatan itu di depan khalayak ramai melalui baptisan di Sungai Yordan.

Mengapa pertobatan yang bersifat pribadi itu perlu diakui di depan banyak orang? Ini ada sangkut pautnya dengan sebuah istilah modern: akuntabilitas alias pertanggungjawaban. Apakah gunanya mengakui diri bertobat tetapi tidak ada sesama kita yang bisa mengingatkan kita tentang kesalahan-kesalahan kita? Apalah artinya mengakui di dalam hati bahwa kita mau bertobat dan meninggalkan dosa tetapi tidak diikuti dengan kehidupan yang betul-betul bertobat? Terlalu sering retret dan KKR yang diisi dengan dedication service atau altar call menjadi tak bermanfaat karena pertobatan itu tidak diikuti dengan akuntabilitas dan pertanggungan jawab kita kepada orang-orang lain. Dengan mengundang para pemungut cukai dan pelacur untuk menerima baptisan, Yohanes mendorong orang-orang banyak yang menyaksikannya untuk berani memeriksa kehidupan mereka yang mengaku bertobat. Apakah mereka terus memungut cukai? Apakah mereka melanjutkan lacurnya?

Bukankah berita Yohanes Pembaptis juga merupakan berita Tuhan Yesus? Bukankah berita Yohanes Pembaptis juga seharusnya merupakan berita gereja pada masa ini? Dalam masa Advent ini marilah kita berseru, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” Terlebih lagi, marilah kita nyatakan pengakuan pertobatan itu dalam tindakan nyata dan bertanggung jawab untuk kemuliaan nama Tuhan dan Penebus kita Yesus Kristus.

(Agustian N. Sutrisno)

Waspadalah, waspadalah!

diposting pada tanggal 2 Des 2011 07.10 oleh Essy Eisen

Mrk 13: 24-37

Minggu ini adalah minggu pertama dalam kalender gerejawi, yang berarti minggu ini adalah tahun baru gerejawi. Berbeda dari tahun baru yang dirayakan pada tanggal 1 Januari dengan pesta pora dan kembang api, Minggu Advent Pertama dimaknai sebagai saat pertobatan. Warna ungu yang dipasang di gedung gereja dan stola pendeta dimaksudkan untuk mengingatkan kita pada pentingnya berbalik dari dosa dan kembali kepada jalan Allah. Mengapa tahun baru gerejawi dimulai dengan ajakan bertobat?

Minggu-minggu Advent dalam kalender gerejawi mempunyai dua fungsi. Yang pertama, kita diingatkan pada penantian lama Umat Israel akan Mesias yang dijanjikan Allah. Ratusan jika tidak ribuan tahun telah lewat sejak Allah menjanjikan kedatangan Dia yang membawa kelepasan bagi Umat Israel dan bahkan umat manusia. Dalam empat minggu ini, kita diajak menyelami suasana penantian yang ditandai dengan kegelisahan, kejemuan tetapi juga keyakinan bahwa suatu hari nanti Allah pasti menggenapi janjiNya. Dan benar, Allah menggenapi janjiNya melalui inkarnasi PutraNya dalam diri manusia Yesus Kristus yang lahir di Bethlehem lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Selama masa penantian itu, kita saksikan dalam Perjanjian Lama bahwa Umat Israel terkadang melupakan Allah dan berbalik untuk mengikuti ilah-ilah lain dan hidup dalam dosa. Berkaca dari pengalaman itu, kita diundang untuk hidup dalam pertobatan.

Yang kedua, sesungguhnya kita juga sedang berada dalam masa penantian. Umat Israel menunggu lama sampai inkarnasi Anak Allah dalam diri Yesus Kristus. Demikian juga kita sudah menunggu hampir dua ribu tahun lamanya untuk kedatangan kembali Yesus Kristus. Dia akan datang kembali, begitu janjiNya dalam Mrk 13. Ia akan kembali datang ke dunia ini bukan dalam diri bayi lemah di Bethlehem seperti kedatanganNya yang pertama. Ia akan datang kembali “dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya.” Kedatangan pertamaNya memang sunyi senyap dan hanya didengar oleh para gembala dan orang majus. Kedatangan keduaNya akan jelas terlihat dan diketahui semua pihak. Malaikat-malaikatNya akan mengumpulkan orang-orang pilihanNya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit (Mrk 13: 27). Bagaimanakah kita harus hidup sambil menunggu kedatanganNya yang kedua kali? Tuhan Yesus sendiri memberi nasihat, “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.” Dia ingin kita selalu waspada akan hari dan jamnya karena kita tidak tahu kapan pastinya, sama seperti Umat Israel yang tidak tahu hari, tanggal dan jam inkarnasi Tuhan Yesus lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Karena kita tidak tahu waktu persisnya, kita perlu selalu hidup dalam pertobatan. Kita tidak boleh jemu, lengah dan lupa bahwa Dia akan datang lagi “untuk menghakimi orang yang hidup dan mati.” Kita juga tidak perlu hidup dalam kegelisahan menunggu kedatanganNya jika setiap hari kita berbalik dari dosa dan kesalahan kita menuju hidup yang sesuai dengan kehendakNya.

Selamat memasuki masa Advent, selamat bertobat, selamat berwaspada!

(Agustian N. Sutrisno)

1-10 of 58