31hari hingga
Jubileum 50th GKI Halimun

Artikel bina iman

Disusun dan dipublikasikan sebagai bahan informasi dan diskusi dalam upaya pembinaan iman Jemaat.

Simeon, Hana dan Kita

diposkan pada tanggal 23 Des 2011 20:09 oleh Admin Situs

Lukas 2: 21-40

Adakah di antara saudara yang suka menunggu? Menunggu bagi kebanyakan orang tidak enak. Belum lama ini di akhir tahun saya mengunggu di bank untuk menabung. Ternyata antriannya panjang sekali karena itu adalah hari terakhir transaksi tahun 2008. Ada lebih dari 10 orang di depan saya. Dibutuhkan waktu satu jam lebih sebelum saya bisa sampai ke meja teller. Harus saya akui, menunggu terasa tidak menyenangkan. Akhirnya satu jam terbuang.

Itu baru satu jam. Bagaimana kalau kita harus menunggu bertahun-tahun untuk satu hal? Apalagi jika yang kita tunggu-tunggu itu adalah sesuatu yang dijanjikan Allah sendiri langsung kepada kita? Bagaimana rasanya? Pembacaan Injil kita hari ini menghantar kita bertemu dengan Simeon, seorang Israel yang setia menantikan janji Allah tentang datangnya seorang Mesias. Simeon telah menerima janji dari Roh Kudus sendiri bahwa ia tidak akan mati sampai ia menjumpai Mesias yang dijanjikan Allah.

Lukas tidak secara spesifik menyebutkan berapa lama Simeon sudah menunggu dan berapa usianya saat itu. Tetapi kebanyakan ahli tafsir memperkirakan usianya sudah sangat lanjut ketika menemui Maria, Yusuf dan bayi Yesus di Bait Allah, karena kata-kata “Sekarang Tuhan biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan FirmanMu” (ay 29). Yang jelas dicatat Alkitab adalah bahwa Ia orang yang benar dan saleh. Tahun-tahun penantian akan Mesias itu tidak membuat Simeon menjadi orang yang melupakan Tuhan karena janjiNya seolah-olah tak pernah terjadi. Ia malah bertumbuh menjadi orang yang sangat dekat dengan Tuhan. Karena kedekatan inilah, Simeon pada hari itu bisa bertemu dengan Mesiasnya. Roh Kudus yang telah memberikan janji kepadanya juga menuntun dia untuk masuk ke Bait Allah dan mengenali bayi kecil Yesus sebagai juru selamat yang ditunggu-tunggu untuk membawa kelepasan.

Dari Simeon, kita melihat bahwa janji dan firman Allah memang pasti digenapi, tetapi soal kapan itu ditepati, itu adalah hak Allah untuk menentukannya. Mungkin janji itu digenapi hari ini, besok, minggu depan, tahun depan, atau bertahun-tahun lagi, atau bahkan baru menjelang ajal. Tugas kita sepanjang saat penantian itu adalah tetap setia, tetap hidup “benar dan saleh” dan dengar-dengaran dengan perkataan Roh Kudus. Percayalah bahwa “Ia yang menjanjikannya setia” (Ibr 10:23). Kita juga melihat bahwa Roh Kudus berperan penting dalam seluruh kehidupan Simeon. Dialah yang memberikan janji itu tentang Mesias dan Dialah juga yang menuntun Simeon untuk mengenali bayi mungil di Bait Allah sebagai Mesiasnya. Adakah kita juga membiarkan Roh Kudus menuntun kehidupan kita sementara menanti penggenapan janji dan firman Allah?

Dalam buku Too Busy Not to Pray, dikisahkan seorang pendeta menemui seorang wanita yang menangis sangat keras di teras gereja. Pendeta itu bertanya, “Mengapa Anda menangis?” Wanita itu menjawab, “Ibu saya dibaptis hari ini.” “Bukankah itu kabar baik, mengapa ibu menangis?” Wanita itu bercerita ia sudah lama berdoa agar ibunya bertobat. Ia percaya bahwa janji keselamatan Allah juga berlaku bagi ibunya. Setelah lima tahun berdoa, ia mulai ragu apakah Allah akan menjawab doanya, tetapi ia terus berdoa. Setelah sepuluh tahun berdoa, ia merasa dirinya amat bodoh, menantikan Allah akan bertindak, tetapi ia terus berdoa. Setelah lima belas tahun berdoa, ia sudah putus asa. Agaknya Allah tidak akan bertindak apa-apa. Dua puluh tahun kemudian, barulah si ibu wanita itu akhirnya dibaptis. Wanita itu berseru, “Akhirnya, Allah bertindak dan saya tidak akan pernah meragukan lagi kuasa Allah.” Allah tidak harus segera menggenapi janjiNya. Ia punya pengaturan waktu sendiri. Kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan pengaturan waktu Allah. Namun yakinlah, Allah akan mengerjakan apa yang menjadi bagianNya juga. Kesabaran menantikan penggenapan janji Allah adalah aspek pertama yang kita pelajari dari bacaan kita hari ini.

NKB 60 bertanya, “Gerangan bayi apakah yang di pangkuan Maryam?” Melalui penuturan Simeon, kita bisa menemukan sebagian jawaban dari pertanyaan yang ditanyakan oleh banyak orang ini. Bayi yang digendong Maria itu tidak lain adalah Mesias yang sudah dijanjikan berabad-abad yang lalu. Bayi Yesus, yang pada waktu itu barangkali baru berumur satu bulan lebih, mengingat upacara pentahiran baru bisa dilaksanakan jika seorang bayi laki-laki berumur 30 hari sesuai dengan isi Taurat. Reaksi Simeon ketika melihat Yesus adalah menyambut dan menatangNya. Ia memuji Allah karena matanya boleh melihat “keselamatan yang daripadaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu Israel.” Jelaslah, bahwa Yesus menurut kesaksian Injil Lukas adalah Juruselamat bukan hanya bagi umat Israel, tetapi juga terang bagi segala bangsa. Kesaksian Hana kepada semua orang tentang bayi ini semakin memperkuat fakta bahwa dalam Lukas 2: 21-40, kita tidak berhadapan dengan bayi biasa-biasa saja. Dia sungguh adalah Mesias yang dinantikan itu.

Saudara-saudara, kita sekarang mengetahui semua hal ini melalui Alkitab, melalui pemberitaan gereja dan catatan sejarah itu sendiri. Namun Simeon dan Hana tidak punya semua itu. Mereka hanya melihat bayi berumur satu bulan yang belum bisa apa-apa dan dibawa oleh orang tuanya yang sederhana dari Nazaret, yang hanya sanggup mempersembahkan tekukur dan merpati, bukan kambing atau domba yang merupakan korban pentahiran utama bagi mereka yang mampu. Bagaimana mereka bisa percaya dan beriman bahwa bayi yang masih kemerahan ini adalah Mesias bagi dunia? Mereka pertama-tama percaya bahwa Allah akan menggenapi janjiNya. Mereka ini mencerminkan iman Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Iman kedua orang tua ini adalah iman yang super yang tidak perlu tahu sama sekali dari peristiwa sejarah. Mereka sanggup melihat dengan mata iman bertahun-tahun ke muka. Simeon bahkan bisa menasihati Maria dalam ayat 33-35, bahwa anak ini akan menjadi tanda yang besar bagi Israel dan juga menjadi pedang yang membawa kesedihan bagi dirinya.

Akan tetapi, iman kita yang kecil juga mempunyai persamaan juga dengan iman mereka yang besar. Simeon, Hana, saya dan saudara semua tak pernah melihat Yesus disalibkan, dikuburkan lalu dibangkitkan. Namun dengan iman kita semua percaya Ia adalah Mesias. Kita semua di sini juga adalah pewaris iman Simeon dan Hana. Bagi Simeon, Hana dan kita semua yang percaya berlakulah perkataan Yesus, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:29). Keyakinan iman ini adalah pokok kedua dari bahasan kita akan Lukas 2:21-40.

Pada akhirnya, saudara-saudara, perjumpaan dengan Yesus, walaupun dalam bentuk bayi, tidak bisa menghasilkan iman yang diam dan berpangku tangan. Biarpun yang dihadapinya hanyalah bayi kecil, Hana tidak bisa berdiam diri. Ia memberitakan hal ini kepada semua orang. Bayangkanlah betapa bingungnya orang-orang mendengar bahwa bayi berumur satu bulan ini adalah Mesias?

Hana tidak berhenti dengan bersyukur saja karena telah melihat sang Mesias. Ia melanjutkan kabar sukacita ini kepada “semua yang menantikan kelepasan bagi Yerusalem”, walaupun usianya sudah 84 tahun. Bagaimana dengan kita yang lebih muda? Adakah iman kita hanyalah iman yang diam saja? Ataukah kita juga mau ambil bagian dalam menyaksikan karya keselamatan Allah yang dimulai sejak kelahiran Yesus?

Kiranya bersama dengan Simeon dan Hana, kita menjadi umat yang semakin yakin akan kegenapan janji Allah, semakin beriman pada Mesias yang sudah datang dan semakin rajin mengabarkan sukacita kedatangan Mesias kepada dunia ini. Kiranya ketiga pokok pelajaran ini menjadi bekal kita dalam menghayati masa raya Natal. Semoga sukacita masa raya Natal mendorong kita semua melakukan semua ini demi kemuliaan Allah Bapa melalui PutraNya, Yesus Kristus dan dalam persekutuan dengan Roh Kudus.

Agustian Sutrisno

“Jiwaku memuliakan Tuhan”

diposkan pada tanggal 10 Des 2011 15:56 oleh Admin Situs

Luk 1: 46b-55

Bayangkanlah kalau anak dalam kandungan Anda diramalkan akan menjadi presiden. Apa yang akan Anda lakukan? Mungkin sebagian dari kita akan bersyukur kepada Tuhan. Wah, alangkah baiknya Tuhan sehingga ia akan memberikan anak yang begitu hebat. Sebagian lagi akan mulai berpikir, anak ini sebaiknya disekolahkan di mana dan harus ikut partai politik apa. Mungkin ada lagi yang berpikir tentang segala kemasyuran, kekayaan dan kesenangan yang akan datang di masa depan. Ada juga yang barangkali mulai berpikir tentang hal-hal apa yang harus dilakukan sang anak nanti untuk membawa negara ke arah yang lebih baik.

Maria agaknya jatuh ke kategori terakhir. Malaikat Gabriel sudah mengatakan, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan” (Luk 1: 32-33). Namun dalam puji-pujianNya kepada Allah, apa yang disebutkan Maria? Ia berbicara tentang kuasa Allah yang menceraiberaikan orang-orang yang congkak hatinya, tentang Allah yang meninggikan orang-orang rendah, tentang Allah yang melimpahkan segala yang baik kepada orang lapar.

Bukankah ini suatu hal yang mengagumkan? Maria tidak berpikir tentang kekuasaan dan kekayaan. Ia malah berpikir tentang orang-orang yang kesusahan yang akan dipulihkan Allah. Perhatikan pula berapa sering kata Allah atau kata ganti untuk Allah muncul dalam bacaan kita. Maria sangat terfokus pada apa yang Allah akan lakukan, bukan apa yang akan dia sendiri lakukan atau apa yang anaknya nanti akan lakukan.

Maria menjadi model bagi kita semua yang sungguh ingin mengikuti Allah dan ambil bagian dalam karyaNya. Ia menempatkan diri sebagai hambaNya, bukan sebagai calon Ibu Suri. Ia menginginkan terwujudnya cita-cita Allah di dunia, bukan cita-cita pribadi. Ia prihatin akan kesusahan umat, bukan kesenangan diri sendiri. Kiranya lagu pujian Maria juga menjadi lagu pujian kita melalui sikap hidup dan tindakan nyata dalam masa Advent ini.

(Agustian N. Sutrisno)

Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!

diposkan pada tanggal 2 Des 2011 07:13 oleh Admin Situs

Mrk 1: 1-8

Bayangkanlah suatu hari di depan GKI Halimun berdiri seseorang yang berpakaian lusuh, kurus kering, dengan potongan rambut acak-acakan mulai berteriak-teriak setelah kebaktian minggu selesai: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” Tidakkah kita bersama-sama akan mengusirnya?

Demikianlah kira-kira penampilan Yohanes Pembaptis jika ia hidup di zaman kita. Memang mungkin dia tidak akan muncul di depan gereja. Dia anti kemapanan dan anti hirarki rohaniwan. Dia barangkali akan menelusuri jalan-jalan Jakarta dan mengajak orang banyak, kaum papa dan mereka yang dianggap gereja terlalu berdosa untuk bertobat dan mengalami kasih Allah.

Terus terang kalau saya mendengar seruan Yohanes Pembaptis yang dikutip di atas, saya akan mulai mengkritiknya. Itu berita yang terlalu sederhana. Hidup Kristen tidak bisa cuma sekedar mengaku bertobat dan minta dibaptis. Harus ada buah-buah pertobatan. Sebelum dibaptis, orang harus ikut katekisasi. Setelah itu ia perlu ikut pembinaan, malah kalau perlu sekolah teologi. Khotbah saya pun tidak terlalu banyak mengajak orang bertobat dan dibaptis. Itu khotbah gereja aliran lain, bukan GKI.

Namun, berita Yohanes Pembaptis yang begitu pendek menurut catatan Markus agaknya lebih mengena daripada khotbah panjang saya. Berita pertobatan yang dibawanya bukan sekedar ucapan belaka. Berita itu dipertegas oleh gaya hidupnya yang begitu merakyat. Dengan berjubah bulu unta, berikat pinggang kulit, makan belalang dan madu hutan, ia menolak semua kemapanan palsu para imam di Yerusalem dan otoritas pemerintah Herodes dan Kekaisaran Roma yang menyengsarakan rakyat. Ia solider dengan orang-orang papa dan “berdosa” yang dibuang oleh para penguasa karena tidak cukup kelihatan saleh dan tidak cukup mampu membayar pajak kepada penguasa. Tak heran ada banyak orang yang mau mengikuti seruannya. Yohanes Pembaptis menawarkan penerimaan dan kasih tulus Allah yang terbuka bagi siapa saja selama mereka sungguh mau bertobat dan mengakui pertobatan itu di depan khalayak ramai melalui baptisan di Sungai Yordan.

Mengapa pertobatan yang bersifat pribadi itu perlu diakui di depan banyak orang? Ini ada sangkut pautnya dengan sebuah istilah modern: akuntabilitas alias pertanggungjawaban. Apakah gunanya mengakui diri bertobat tetapi tidak ada sesama kita yang bisa mengingatkan kita tentang kesalahan-kesalahan kita? Apalah artinya mengakui di dalam hati bahwa kita mau bertobat dan meninggalkan dosa tetapi tidak diikuti dengan kehidupan yang betul-betul bertobat? Terlalu sering retret dan KKR yang diisi dengan dedication service atau altar call menjadi tak bermanfaat karena pertobatan itu tidak diikuti dengan akuntabilitas dan pertanggungan jawab kita kepada orang-orang lain. Dengan mengundang para pemungut cukai dan pelacur untuk menerima baptisan, Yohanes mendorong orang-orang banyak yang menyaksikannya untuk berani memeriksa kehidupan mereka yang mengaku bertobat. Apakah mereka terus memungut cukai? Apakah mereka melanjutkan lacurnya?

Bukankah berita Yohanes Pembaptis juga merupakan berita Tuhan Yesus? Bukankah berita Yohanes Pembaptis juga seharusnya merupakan berita gereja pada masa ini? Dalam masa Advent ini marilah kita berseru, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu!” Terlebih lagi, marilah kita nyatakan pengakuan pertobatan itu dalam tindakan nyata dan bertanggung jawab untuk kemuliaan nama Tuhan dan Penebus kita Yesus Kristus.

(Agustian N. Sutrisno)

Waspadalah, waspadalah!

diposkan pada tanggal 2 Des 2011 07:10 oleh Admin Situs

Mrk 13: 24-37

Minggu ini adalah minggu pertama dalam kalender gerejawi, yang berarti minggu ini adalah tahun baru gerejawi. Berbeda dari tahun baru yang dirayakan pada tanggal 1 Januari dengan pesta pora dan kembang api, Minggu Advent Pertama dimaknai sebagai saat pertobatan. Warna ungu yang dipasang di gedung gereja dan stola pendeta dimaksudkan untuk mengingatkan kita pada pentingnya berbalik dari dosa dan kembali kepada jalan Allah. Mengapa tahun baru gerejawi dimulai dengan ajakan bertobat?

Minggu-minggu Advent dalam kalender gerejawi mempunyai dua fungsi. Yang pertama, kita diingatkan pada penantian lama Umat Israel akan Mesias yang dijanjikan Allah. Ratusan jika tidak ribuan tahun telah lewat sejak Allah menjanjikan kedatangan Dia yang membawa kelepasan bagi Umat Israel dan bahkan umat manusia. Dalam empat minggu ini, kita diajak menyelami suasana penantian yang ditandai dengan kegelisahan, kejemuan tetapi juga keyakinan bahwa suatu hari nanti Allah pasti menggenapi janjiNya. Dan benar, Allah menggenapi janjiNya melalui inkarnasi PutraNya dalam diri manusia Yesus Kristus yang lahir di Bethlehem lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Selama masa penantian itu, kita saksikan dalam Perjanjian Lama bahwa Umat Israel terkadang melupakan Allah dan berbalik untuk mengikuti ilah-ilah lain dan hidup dalam dosa. Berkaca dari pengalaman itu, kita diundang untuk hidup dalam pertobatan.

Yang kedua, sesungguhnya kita juga sedang berada dalam masa penantian. Umat Israel menunggu lama sampai inkarnasi Anak Allah dalam diri Yesus Kristus. Demikian juga kita sudah menunggu hampir dua ribu tahun lamanya untuk kedatangan kembali Yesus Kristus. Dia akan datang kembali, begitu janjiNya dalam Mrk 13. Ia akan kembali datang ke dunia ini bukan dalam diri bayi lemah di Bethlehem seperti kedatanganNya yang pertama. Ia akan datang kembali “dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya.” Kedatangan pertamaNya memang sunyi senyap dan hanya didengar oleh para gembala dan orang majus. Kedatangan keduaNya akan jelas terlihat dan diketahui semua pihak. Malaikat-malaikatNya akan mengumpulkan orang-orang pilihanNya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit (Mrk 13: 27). Bagaimanakah kita harus hidup sambil menunggu kedatanganNya yang kedua kali? Tuhan Yesus sendiri memberi nasihat, “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.” Dia ingin kita selalu waspada akan hari dan jamnya karena kita tidak tahu kapan pastinya, sama seperti Umat Israel yang tidak tahu hari, tanggal dan jam inkarnasi Tuhan Yesus lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Karena kita tidak tahu waktu persisnya, kita perlu selalu hidup dalam pertobatan. Kita tidak boleh jemu, lengah dan lupa bahwa Dia akan datang lagi “untuk menghakimi orang yang hidup dan mati.” Kita juga tidak perlu hidup dalam kegelisahan menunggu kedatanganNya jika setiap hari kita berbalik dari dosa dan kesalahan kita menuju hidup yang sesuai dengan kehendakNya.

Selamat memasuki masa Advent, selamat bertobat, selamat berwaspada!

(Agustian N. Sutrisno)

Selamatkah saya tanpa perbuatan baik?

diposkan pada tanggal 19 Nov 2011 19:37 oleh Admin Situs   [ diperbarui19 Nov 2011 19:40 ]

Matius 25: 31-46

Tidak, sama sekali tidak. Begitu barangkali pesan Yesus dalam Mat 25: 31-46. Ini tentunya menimbulkan kontroversi di antara kita yang sejak lama diajarkan bahwa keselamatan itu Sola Fide dan Sola Gratia dan tidak boleh disangkut-pautkan dengan amal-amal baik.

Baiklah kita sedikit kembali menggali apa kata Tuhan Yesus dalam Mat 25 ini dan latar belakang semboyan Sola Fide dan Sola Gratia dari Martin Luther. Pertama-tama, Yesus tidak sedang berkhotbah di hadapan kita orang-orang Protestan. Ia sedang berkhotbah di hadapan murid-muridNya yang adalah orang-orang Yahudi. Bangsa Yahudi seringkali percaya bahwa keselamatan itu ditentukan oleh garis keturunan. Pokoknya, selama orang itu orang Yahudi, ia pasti selamat. Ketika hari penghakiman datang, ia tidak akan ditolak Allah. Yang ditolak Allah adalah bangsa-bangsa kafir. Pandangan seperti ini seringkali membuat orang Yahudi merasa benar sendiri dan tidak mempedulikan pentingnya berbuat baik kepada orang lain. Teristimewa, mereka jadi tidak peduli kepada orang-orang asing yang mereka anggap akan masuk penghukuman Allah. Oleh karena itu kita lihat Tuhan Yesus menyamakan diriNya dengan orang asing dalam ayat 35. Ini penting juga untuk diberitakan kepada jemaat Kristen mula-mula yang membaca Injil Matius. Jemaat perdana pembaca Injil Matius terdiri dari orang-orang Kristen Yahudi dan Yunani. Jika mereka ingin tetap menjadi jemaat Kristen yang tidak terpecah-pecah atas dasar kebangsaan, mereka perlu saling menghargai orang lain. Dengan menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sendiri menyamakan diriNya dengan orang asing, Penginjil Matius ingin jemaat tidak terpecah. Toh kalau mereka hanya menolong bangsa mereka sendiri, mereka sesungguhnya sedang mengabaikan Tuhan Yesus dan terancam mendapat hukuman.Dalam pandangan Injil Matius, keselamatan itu bukan soal mendapat hidup kekal saja, tetapi juga soal menjalankan hidup yang saling peduli dan menolong sesame di dunia ini. Hidup kekal bersama Allah yang akan ditandai dengan damai sejahtera harus mulai dipraktikkan sekarang ini, bukan saja nanti.

Kedua, bagi kita orang-orang Protestan telah diajarkan bahwa keselamatan itu merupakan anugerah Tuhan, bukan upaya manusia sendiri. Ini benar sekali. Kita ingat bahwa pada masa hidup Luther di Eropa Abad Pertengahan, orang-orang Kristen beranggapan bahwa mereka bisa mendapat keselamatan karena kebaikan mereka, bukan karena pertolongan Allah. Bahkan, pada masa itu orang-orang kaya bisa membeli surat pengampunan dosa dari gereja, sementara orang miskin kehidupan kekalnya akan dihabiskan dalam penghukuman. Bukankah ini amat ngawur? Pandangan seperti ini tidak bisa didasarkan pada ajaran Yesus di Mat 25. Di situ, Tuhan Yesus sedang mendorong orang-orang untuk saling mengasihi dan mempedulikan sesama, terutama mereka yang paling hina. Sementara, pada Abad Pertengahan, orang-orang kaya berlomba-lomba membeli surat pengampunan dosa untuk dirinya dan keluarganya dan uang yang seharusnya dapat digunakan untuk menolong orang-orang miskin dihabiskan untuk membeli keselamatan. Padahal bukankah di Mat 25 Tuhan Yesus mengatakan dengan mempedulikan orang-orang miskin kita terhindar dari murka Allah? Terhadap kekeliruan pemikiran ini, Martin Luther mengajarkan Sola Fide, hanya iman, Sola Gratia, hanya kasih karunia yang mendatangkan keselamatan, bukan surat-surat pengampunan dosa dan pastinya bukan uang yang digunakan untuk memperoleh pengampunan dosa. Ajaran ini kemudian diperluas untuk menentang anggapan bahwa orang-orang selamat karena upaya mereka sendiri, teristimewa melalui amal-amal baik. Ini juga penting untuk ditekankan, karena jika anggapan bahwa hanya amal baik yang penting, maka Tuhan dianggap tidak penting lagi. Tidakkah sekarang ini di dunia kita temukan orang-orang ateis yang sangat baik dan humanis? Pada masa kini, ajaran Sola Fide dan Sola Gratia tetap penting untuk kita gaungkan.

Jadi selamatkah saya dan saudara tanpa perbuatan baik? Saya rasa pertanyaan itu tidak menjadi relevan. Kalau Kristus dengan kasih karuniaNya sudah mati demi saya dan saudara-saudara di atas kayu salib, mengapa kita meragukan keselamatan kita? Kalau kita tahu bahwa Kristus sangat mengasihi manusia-manusia yang berada dalam kesusahan, mengapa pula kita tidak melakukan perbuatan baik? Pastinya, kita tidak selamat karena status keturunan kita. Kita tidak pula selamat karena banyaknya uang yang bisa kita habiskan untuk membeli pengampunan dosa dan amal baik. Karena keselamatan telah tersedia melalui korban Yesus Kristus, kita perlu mewujudnyatakan keselamatan itu dengan segala perbuatan baik. Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan segala pekerjaan baik (Ibr 10:24).

(Agustian N. Sutrisno)

Time-proof God

diposkan pada tanggal 11 Nov 2011 04:30 oleh Admin Situs

Mzm 90: 1-12

Tuhan tidak dibatasi oleh waktu. Itu adalah salah satu pesan utama dari Mzm 90: 1-12. Dengan syair yang indah, pemazmur mengajar umat Israel untuk meyakini bahwa Allah mereka tidak hidup dengan keadaan yang sama dengan manusia. Jika manusia hanya berumur 70-80 tahun, maka Allah sudah ada sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi diperanakan. Dari selama-selamanya sampai selama-lamanya, Tuhanlah Allah.

Berapa lama itu selama-lamanya? Apakah itu sama dengan tahun-tahun yang tak terbatas panjangnya? Jika ilmu pengetahuan modern memperkirakan bahwa usia bumi ini 4,54 milyar tahun yang lalu, apakah Allah berusia 4,55 milyar tahun? Tidakkah Allah bosan berumur sepanjang itu? Cara pikir seperti ini barangkali tidak tepat untuk memahami kekekalan Allah. Allah berada di luar jangkauan dan kungkungan dimensi waktu. BagiNya, seribu tahun, yang dalam perhitungan Ibrani masa kuno adalah periode waktu paling panjang yang bisa dibayangkan manusia, sama saja dengan satu malam. Perhitungan waktu tidak berlaku untuk Allah. Ia tidak mengalami siklus 24 jam yang kita alami di bumi ini. Ia tidak kenal pagi, siang, sore dan malam. Ia tidak harus menaati musim tanam dan musim panen. Semua periodisasi waktu yang mengikat manusia itu adalah ciptaanNya dan Dia sendiri tidak diikat oleh ciptaan itu. Tentu kita sulit memahaminya, bagaimana itu mungkin?

Saya sering bercerita kepada orang-orang yang akan baru datang ke Australia pertama kalinya dari Indonesia bahwa panjang matahari menyinari benua itu berbeda-beda tergantung musimnya. Jika musim panas, matahari bisa bersinar 17 jam. Matahari terbit pukul 4 atau 5 pagi dan baru tenggelam jam 8 atau 9 malam. Di musim dingin, matahari hanya bersinar 10-11 jam, terbit pukul 6 atau 7 pagi dan tenggelam jam 5 sore. Orientasi waktu orang-orang Indonesia yang terbiasa hidup dengan sinar matahari 12 jam tiap hari sepanjang tahun akan kacau jika harus berhadapan dengan matahari yang masih bersinar terang di jam 7 malam. Dia pikir hari masih siang dan belum perlu makan malam, namun anehnya perutnya sudah lapar. Apalagi jika kita bertemu Allah sama sekali yang tidak perlu matahari dan bulan untuk mengetahui waktu.

Apakah penghiburannya bagi kita bila Allah tidak tergantung pada waktu dan bersifat kekal? Menurut pemazmur, Ia boleh menjadi tempat perteduhan kita turun temurun. Kepada Dia kita boleh percaya bahwa anak cucu kita akan dipeliharaNya seperti Ia telah memelihara orang tua dan kakek-nenek kita. Seperti kata para penatua ketika memimpin Pengakuan Iman Rasuli, “Bersama dengan gereja masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang marilah kita mengingat janji baptisan kita…” Mengapa kita boleh yakin bahwa gereja masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang tetap beriman kepada Allah? Karena Allah yang tidak dibatasi oleh masa akan memelihara gerejaNya.

Apakah tanggung jawab kita jika kita menyadari bahwa kita adalah makhluk yang dibatasi oleh waktu? Menurut pemazmur, kita berlu menghitung hari sehingga beroleh hati yang bijaksana. Saya yakin maksud pemazmur kita tidak perlu menjumlahkan hari kehidupan kita sehingga tahu bahwa saat ini kita sudah hidup delapan ribu empat ratus dan lima puluh tiga hari untuk mendapat hati yang bijak. Menghitung hari lebih bermakna pengenalan akan manfaat hari-hari yang kita lalui dan sedang jalani. Seorang teman saya menjalani disiplin rohani Ignatian setiap hari. Disiplin ini dicetuskan oleh Santo Ignatius dari Loyola yang mengajarkan setiap pagi dan malam orang perlu memeriksa hati nuraninya, apakah sudah menjalankan kehidupan sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada pagi hari, ia menentukan hal-hal yang ingin dilaksanakan untuk melayani Tuhan dan pada malam hari ia mengevaluasi hari itu dan keesokan paginya mengingat lagi hasil evaluasi kemarin dan menentukan arah kembali. Dengan demikian tiap hari, ia menjalani hidup dengan bijaksana karena tidak mengulangi kesalahan yang lalu dan senantiasa melibatkan Tuhan. Tidak kelihatan seperti sesuatu hal yang sulit bukan?

Bersama dengan Isaac Watts dan KJ 330 kita boleh yakin:

Sejak dahulu takhtaMu
pelindung kaum kudus;
dengan kuasa tanganMu
Kaubela kami t’rus.

Ya Tuhan, Kau kekal teguh
Pelindung kaum kudus;
kiranya dalam rumahMu
umatMu tinggal t’rus.

(Agustian N. Sutrisno)

Bukan tukang paksa, tapi pencemburu?

diposkan pada tanggal 4 Nov 2011 21:07 oleh Admin Situs   [ diperbarui4 Nov 2011 21:08 ]

Yosua 24: 1-3a, 14-25

Dalam Yosua 24 kita sampai ke penghujung hidup Yosua dan kisah masuknya Bangsa Israel ke Kanaan. Setelah sedemikian lama mengembara di padang gurun selepas keluar dari Mesir dan berperang untuk merebut Kanaan, akhirnya Bangsa Israel memiliki kesempatan untuk hidup menetap dan damai. Pemimpin besar mereka, Musa telah lama tiada dan Yosua sebagai penggantinya juga sudah lanjut usia. Bangsa itu memiliki kesempatan untuk menata kehidupan mereka lepas dari pengaruh tokoh-tokoh berkarisma ini dan memulai kehidupan yang dituntun oleh Taurat dan bimbingan para imam dan penatua. Di tengah segala kesempatan dan kemungkinan ini, kita menjumpai Yosua melakukan tugas terakhirnya sebagai pemimpin bangsa.

Ia ingin Bangsa Israel memilih sendiri masa depannya: masa depan bersama Tuhan atau masa depan tanpa Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan yang dilayaniNya bukanlah Tuhan pemaksa. Ia bukan Tuhan yang menaruh pamrih juga atas segala jasa baikNya selama memimpin dan menolong Bangsa Israel keluar dari Mesir dan masuk Kanaan. Karena Tuhan adalah kasih, Ia tidak akan memaksa Bangsa Israel untuk mengasihiNya secara tidak rela. Apakah kasih bisa disebut kasih jika diisi dengan pemaksaan kehendak dan pemasungan pilihan?

Sebagai pemimpin yang baik Yosua tidak sekedar memberikan pilihan kepada Bangsa Israel. Ia memberikan teladan. Ia berkata, “tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Ia menunjukkan kepada Bangsa Israel jalan yang menurutnya benar dan patut dipilih. Ia juga menunjukkan integritas dirinya. Apapun pilihan bangsanya nanti, ia sudah memilih yang benar dan tidak akan mengganti posisinya. Setelah ia menyatakan pilihannya, Yosua meminta bangsanya untuk memilih untuk mengikuti Tuhan atau mengikuti illah yang lain yang telah mereka kenal melalui nenek moyang mereka di Ur-Kasdim atau illah Bangsa Kanaan yang mereka telah taklukan.

Jawaban Bangsa Israel terdengar sangat indah. Mereka menuturkan kembali sejarah mereka sejak keluar dari Mesir sampai kemenangan mereka atas penduduk Kanaan dan mereka menegaskan itu semua terjadi karena Tuhan. Kepada Dia-lah mereka mau berbakti seterusnya.

Yosua kemudian mengucapkan hal-hal yang secara pribadi sulit saya terima. Ia katakan Tuhan itu tidak akan mengampuni kesalahan dan dosa, bahkan pula membinasakan Bangsa Israel bila mereka beribadah kepada allah asing dan meninggalkan Tuhan. Pada kenyataannya, nanti kalau kita teliti sejarah Israel, bukankah berulang kali mereka meninggalkan Tuhan dan berulangkali pula Tuhan mau mengampuni kesalahan dan dosa mereka demi kasih setiaNya? Namun di sini, Yosua menggunakan istiliah-istilah dari dunia percintaan dan pernikahan. Dia katakan, “Dialah Allah yang cemburu.” Kekasih manakah yang rela pasangannya berpaling kepada yang lain? Suami manakah yang rela istrinya menduakan dirinya? Istri manakah yang rela berbagi suami? Allah lebih dari kekasih dan dari suami-istri. Ia akan lebih hancur hati jika Bangsa Israel berpaling dari DiriNya dibandingkan dengan kekasih dan suami-istri manusiawi. Demikian barangkali pemikiran Yosua.

Menanggapi perkataan Yosua di atas, Bangsa Israel tidak mundur. Mereka tetap mau menyembah Tuhan, “Kepada Tuhan, Allah kita, kami akan beribadah dan firmanNya akan kami dengarkan.” Betapa kuat komitmen dan tekad mereka. Namun kita tahu bahwa itu tidak berlangsung lama. Di kitab selanjutnya, Hakim-Hakim, kita temukan mereka berulang kali meninggalkan Tuhan dan firmanNya mereka lupakan. Bagi kita yang telah memilih menerima baptisan dan mengikuti sidi, kita juga telah memilih mengikuti Tuhan dan mendengarkan firmanNya. Di depan banyak orang dan banyak saksi kita telah mengucapkan pengakuan iman kita. Sepantasnyalah hidup kita juga berpadanan dengan janji dan pengakuan iman itu.

Bagi kita yang masih berpikir apakah mau mengikut Tuhan dan mendengarkan firmanNya, andaikan saya bisa katakan bahwa mengikut Tuhan itu mudah dan tidak ada konsekuensi beratnya selain daripada akan masuk sorga nanti. Namun itu tidak sesuai dengan perkataan Yosua. Mengikut Tuhan bukan perkara gampang dan bukan tanpa konsekuensi-konsekuensi yang berat. Namun, percayalah juga, jika Tuhan begitu mengasihi Bangsa Israel yang tidak tahu terima kasih itu, Ia terlebih lagi mau mengasihi Saudara. Selayaknyalah kita mengikuti Dia. Sepatutnya kita beribadah kepada Dia dan firmanNya kita dengarkan. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Ia mengasihi kita dengan kasih yang tanpa pamrih. Dalam Kristus Yesus, putraNya, yang bahkan rela memikul salib demi kita, Ia memanggil kita semua untuk mengikutinya. Seperti kata KJ 353:

Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil,
memanggil aku dan kau.
Lihatlah Dia prihatin menunggu,
menunggu aku dan kau.

“Hai mari datanglah, kau yang lelah, mari datanglah!”
Sunggu lembut Tuhan Yesus memanggil,
“Kau yang sesat, marilah!”

(Agustian N. Sutrisno)

Mau Jadi Jemaat Terkenal?

diposkan pada tanggal 17 Okt 2011 12:00 oleh Admin Situs

I Tes 1:1-10

Seberapa terkenalkah GKI Halimun? Berapa sering ketika kita ditanya, “Gerejanya di mana?” Lalu kita jawab, “Di GKI Halimun,” kemudian orang-orang langsung mengenalinya,”Oh, gereja itu.” Ataukah jawabannya, “Yang mana yah?” Rasul Paulus, Silwanus dan Timotius menulis surat kepada Jemaat Tesalonika, jemaat yang menurut mereka, “…di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu.” Jemaat ini tidak hanya dikenal di wilayah Makedonia dan Akhaya (yaitu Negara Yunani saat ini), tetapi juga di semua tempat.

Apa yang membuat Jemaat Tesalonika begitu terkenal? Apakah karena paduan suaranya? Pendetanya? Program-program pembinaannya? Gedungnya? Dalam I Tes 1: 1-10 disebutkan beberapa hal: pekerjaan iman, usaha kasih, ketekunan pengharapan, menjadi penurut para rasul dan Tuhan, menerima firman dengan sukacita di tengah penindasan, dan iman mereka. Kelihatannya yang membuat Jemaat Tesalonika begitu tersohor tidak sama dengan hal-hal yang sekarang dianggap penting oleh gereja-gereja. Jemaat Tesalonika menjadi terkemuka karena iman mereka kepada Allah dalam Kristus Yesus.

Dibandingkan dengan karya Paulus di jemaat-jemaat lain, Jemaat Tesalonika relatif singkat menerima pelayanan Paulus. Akan tetapi, mereka dengan cepat beralih dari mengikuti penyembahan berhala dan mereka tetap tekun dalam iman biarpun di tengah penganiayaan. Pada masa itu, menjadi Kristen penuh dengan banyak tantangan dari masyarakat sekitar yang beragama lain. Tidak jarang pula jemaat menghadapi penganiayaan dari pemerintah setempat yang menganggap Kaisar sebagai dewa yang layak disembah, dan orang-orang Kristen yang tidak mau tunduk menyembah Kaisar dianggap pengkhianat negara. Di tengah keadaan seperti itu, Jemaat Tesalonika tetap mewujudnyatakan iman mereka melalui berbagai perbuatan kasih yang ditujukan baik kepada para Rasul maupun juga kepada masyarakat Tesalonika pada umumnya. Iman, perbuatan nyata, dan keteguhan mengikut Tuhan di tengah penderitaan agaknya adalah aspek-aspek kehidupan gerejawi yang paling penting dalam kehidupan gereja mula-mula. Hal-hal inilah yang membuat para Rasul bersukacita atas keadaan jemaat di Tesalonika. Keteguhan Jemaat Tesalonika mengikut Tuhan menjadi teladan yang menguatkan kehidupan iman jemaat-jemaat lain di Makedonia, Akhaya bahkan di provinsi-provinsi lain.

Kita tidak hidup dalam konteks Jemaat Tesalonika. Kita tidak menghadapi penganiayaan dan kebanyakan di antara kita sudah menjadi Kristen cukup lama dan bahkan turun temurun. Akan tetapi, baiklah kita juga berkaca dari aspek-aspek penting kehidupan gerejawi dari abad pertama di Tesalonika. Apakah kita menata kehidupan bergereja yang mengutamakan pembangunan iman anggota jemaat ? Apakah kita memampukan jemaat untuk mewujudnyatakan iman dalam berbagai perbuatan kasih? Apakah kita juga menghidupi iman kita sedemikian rupa sehingga menguatkan iman jemaat-jemaat lain di luar batas wilayah kita? Sekilas, ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting untuk dijawab oleh para pejabat gereja kita. Akan tetapi, setiap anggota jemaat pun patut memikirkan jawabannya. Jemaat hanya bisa berkembang dan menjadi teladan bagi jemaat-jemaat lainnya jika seluruh komponen jemaat bekerjasama aktif dan berpikir aktif untuk mewujudkan teladan iman yang dicatat dalam Surat I Tesalonika. Namun, bukan dengan kekuatan manusia saja kita membangun dan mengembangkan jemaat. Rasul-rasul penulis I Tesalonika tidak melupakan peranan penting Roh Kudus yang menopang kehidupan jemaat Tesalonika. Baiklah kita masing-masing menyumbangkan tenaga, pikiran dan doa kita dengan membuka diri kita untuk dipakai oleh Roh Kudus untuk perkembangan jemaat.

Sebaiknya setiap dari kita mengambil satu pelayanan gerejawi yang sesuai dengan talenta yang Tuhan telah karuniakan untuk bersama-sama mengembangkan jemaat GKI Halimun. Ada banyak pelayanan yang bisa dilakukan atau bisa dirintis asalkan kita terbuka pada tuntunan Roh Kudus. Pelayanan itu tidak perlu dimulai dari suatu rencana yang rumit. Misalnya, kita bisa menyediakan diri untuk menjadi lektor (pembaca Alkitab) di kebaktian. Kalau saudara bisa membaca renungan ini, saya yakin pasti juga bisa melayani sebagai lektor. Mungkin juga, kita bisa menjadi penyambut jemaat di awal kebaktian. Tugas-tugas semacam ini tidak hanya dikhususkan bagi para penatua. Siapa saja boleh ambil bagian aktif dalam pelayanan. Dari hal-hal yang sederhana, mungkin Roh Kudus bisa menggerakkan hati kita untuk mengambil bagian-bagian lain yang lebih besar untuk perkembangan jemaat selama kita mau menjadi alatNya. Apakah ini akan membuat GKI Halimun terkenal? Bukan menjadi terkenal yang penting. Menjadi jemaat yang sesuai dengan kehendak Tuhan, itu yang lebih penting.

(Agustian N. Sutrisno)

Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih

diposkan pada tanggal 7 Okt 2011 04:22 oleh Admin Situs

Mat 22: 1-14

Tahun lalu saya diundang ke acara makan malam dengan Menteri Pendidikan Tinggi Australia di Canberra. Biaya penerbangan, penginapan dan makan malam ditanggung penuh oleh Pemerintah Australia. Tentu saja saya sangat senang dan bersedia datang ke acara makan malam itu. Dari antara orang-orang yang diundang ke acara itu, ada juga yang menolak karena satu dan lain hal. Apakah Pak Menteri marah? Tentunya tidak. Ini adalah undangan. Orang boleh menerima undangan dan boleh juga menolak undangan. Namun, apakah Pak Menteri akan mengeluarkan undangan lagi kepada orang-orang yang menolak hadir? Rasanya tidak. Akankah mereka yang hadir memenuhi undangan Pak Menteri akan mengenakan pakaian yang lusuh dan tidak pantas? Rasanya juga tidak. Pasti semua yang hadir ingin kelihatan rapi di hadapan Pak Menteri.

Dalam bacaan Matius 22, Tuhan Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan tentang orang-orang yang diundang ke pesta kawin anak raja. Orang-orang yang diundang sang raja mengacuhkan undangan itu dan bahkan ketika undangan disampaikan untuk kedua kalinya, hamba-hamba sang raja dibunuh oleh sebagian orang yang diundangnya. Ini tentunya sangat aneh dan tidak beradab. Pantas saja sang raja kemudian mengirimkan tentaranya untuk menghukum orang-orang yang tak tahu berterima kasih.

Cerita ini berlanjut dengan sang raja mengundang siapa saja yang dijumpai di persimpangan jalan untuk hadir ke pesta tersebut sampai ruang pesta penuh. Sang raja kemudian menjumpai orang yang tidak mengenakan pakaian pesta. Ia bertanya kepada orang tersebut, “Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?” Injil Matius mencatat orang itu diam saja. Orang itu bersikap acuh terhadap teguran sang raja dan akhirnya dihukum.

Seringkali para pembaca Mat 22 terjebak pada dua peristiwa kekerasan atau penghukuman yang dicatat di situ. Mengapa sang raja memerintahkan pembinasaan orang-orang yang menolak datang ke pesta dan mengapa sang raja memenjarakan orang yang tidak berpakaian pesta? Tentu pertanyaan-pertanyaan ini sah-sah saja. Akan tetapi, agaknya kita sering melewatkan respon yang sangat aneh dari orang-orang yang awalnya diundang dan orang yang tidak mengenakan pakaian pesta tersebut. Mereka semua mengacuhkan sang raja.

Pada masa hidup Yesus, tidak akan ada seorangpun yang berani mengacuhkan raja. Pada masa kinipun seperti yang saya utarakan di atas, orang masih sangat menghormati undangan Pak Menteri sehingga sungkan menolaknya. Dalam perumpamaan ini, sang raja bahkan sampai dua kali menyampaikan undangannya. Ini sangat tidak lazim. Namun, bukannya disambut dengan gembira, para undangan mengacuhkan dan bahkan bertindak berlebihan dengan membunuh para pembawa undangan. Toh sang raja tidak jadi berhenti mengadakan perjamuan. Ia tetap ingin orang banyak hadir di perjamuannya sampai-sampai mengundang siapa saja yang dijumpai. Ia sangat ingin berbagi sukacitanya dengan orang banyak. Ia tidak kapok jika undangannya ditolak, berbeda dengan manusia kebanyakan yang mungkin sakit hati dan membatalkan perjamuannya. Melalui tokoh sang raja, Tuhan Yesus ingin memberikan gambaran Allah yang tidak jemu-jemu mengundang umatNya untuk datang kepadaNya. Undangan ini memang pada zaman Perjanjian Lama terutama ditujukan kepada Bangsa Israel sebagai umat pilihanNya. Namun, undangan ini semakin luas ditujukan kepada siapa saja melalui karya Yesus Kristus yang dilanjutkan oleh para rasul di abad-abad pertama dan gereja saat ini.

Yang mengacuhkan sang raja ternyata bukan saja mereka yang tidak hadir di perjamuan. Di antara yang hadir di perjamuan, ada juga yang mengacuhkan sang raja. Ia datang dengan pakaian yang tidak pantas dan ketika disapa oleh sang raja, ia diam saja. Ada banyak tafsiran tentang orang yang tidak berpakaian pesta ini. Ada yang mengatakan ia melambangkan para anggota gereja yang tidak sepenuhnya bertobat. Ada yang mengatakan ia adalah anak kegelapan yang menyusup masuk ke kerajaan terang. Apapun juga tafsirannya, tokoh ini ditampilkan Yesus untuk menjelaskan bahwa tidak semua yang diundang akhirnya dipilih. Janganlah kita menjadi terlalu percaya diri bahwa kalau kita sudah menjadi anggota gereja dan merasa diselamatkan, kita boleh hidup semaunya. Sebaliknya, kita perlu mengenakan “pakaian pesta” yaitu kehidupan yang berkenan di hadapan Allah, yang sepadan dengan panggilan Allah.

Allah memang ingin memanggil sebanyak mungkin orang untuk hadir dalam perjamuanNya, tetapi Ia tidak bisa dipaksa untuk menerima semua orang. Ia berdaulat penuh untuk memilih siapa yang boleh berbagi sukacita penuh dengan diriNya. Kita diingatkan kembali untuk selalu bersyukur atas kebaikan Allah dan panggilanNya yang ditujukan kepada kita semua. Kita ditegur untuk menyatakan syukur itu dengan kehidupan yang berpadanan dengan panggilan Dia. Kita senantiasa perlu mengindahkan Allah dan tidak mengacuhkanNya.

(Agustian N. Sutrisno)

Sampah, semuanya sampah saja

diposkan pada tanggal 2 Okt 2011 10:23 oleh Admin Situs   [ diperbarui2 Okt 2011 10:25 ]

Filipi 3: 4b-14

Apa yang Saudara telah tinggalkan demi mengikut Tuhan Yesus? Kalau Rasul Paulus ditanyakan hal ini, jawabannya tertera jelas dalam Filipi 3. Ia telah meninggalkan semuanya! Reputasi dan nama baiknya di kalangan orang Yahudi telah dibuangnya. Ikatan dengan saudara-saudara seperguruannya di bawah bimbingan Gamaliel sudah putus. Kekayaan? Sudah tidak ada lagi, sampai-sampai ia perlu bekerja sebagai tukang kemah untuk membiayai pekabaran Injilnya. Keamanan? Kalau kita baca II Kor 11: 23-29, kita temukan berbagai kecelakaan dan hukuman yang ditanggung sang Rasul demi mengikut Tuhan dan melaksanakan panggilanNya. Seperti penuturannya sendiri, “Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.”

Tentu Rasul Paulus tidak sendirian, tidak pada zamannya, tidak pula pada zaman ini. Dari antara murid-murid utama Yesus, hanya Rasul Yohanes saja yang tidak menjadi martir. Yang lain semua mati dibunuh demi iman mereka. Nyawa mereka sendiri tidak disayangkan demi mengikut Tuhan. Di masa kini pun kita masih menjumpai kisah-kisah orang yang menganggap semuanya sampah demi bisa memperoleh Kristus. Saya baru membaca berita tentang Pdt. Yucef Nadarkhani yang sedang menunggu eksekusi oleh Pemerintah Iran karena ia telah memeluk Agama Kristen. Saya juga selalu terkesan setiap kali bertemu para misionaris yang didukung oleh jemaat saya di Brisbane. Ada beberapa orang anggota jemaat Emmanuel Uniting Church yang memilih menjadi misionaris di seberang lautan. Ada Christine yang menjadi guru di sekolah Kristen di Senegal. Ia sudah 7 tahun meninggalkan karir dan keluarganya di sini demi memenuhi panggilan Tuhan di Senegal. Ada Anette yang menjadi perawat di Kepulauan Solomon. Dia sudah lama bergumul untuk memenuhi panggilan menjadi misionaris. Awalnya ia ingin pergi ke India, tetapi Tuhan agaknya menunjukkan jalan lain dan ia akhirnya pergi ke Kepulauan Solomon dan meninggalkan kehidupannya di Brisbane demi melayani Tuhan di sana.

Mengapa saya berbicara tentang para martir dan misionaris? Apakah itu satu-satunya cara untuk mengikut Tuhan Yesus? Tentunya tidak. Yohanes Calvin, reformator gereja kita, menganjurkan kita masing-masing untuk mengerjakan yang terbaik untuk Tuhan di tengah-tengah kehidupan kita saat ini dan di sini, bukan di seberang lautan sana dan bukan dengan mencari cara menjadi martir secara sengaja. Memang benar ada orang-orang yang terpanggil khusus untuk melayani Tuhan di seberang sana dan saya berharap agar dari waktu ke waktu ada anggota-anggota jemaat Halimun yang dipanggil untuk pelayanan istimewa itu. Akan tetapi, tidak benar bahwa semua orang harus menjadi misionaris dan martir. Bagi saya, para misionaris dan martir itu menunjukkan sikap iman dan tindakan yang sesuai dengan teladan Rasul Paulus dalam mengikut Tuhan dan melaksanakan panggilanNya. Betul bahwa tidak semua orang perlu menjadi misionaris dan martir, tetapi semua orang Kristen perlu, “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya.”

Lalu bagaimanakah caranya kita bisa menjalankan teladan Rasul Paulus dalam mengikut Tuhan Yesus tanpa menjadi martir dan misionaris? Ada dua buku yang saya sarankan. Yang pertama adalah The Radical Disciple karangan Pdt. John Stott, almarhum. Buku terakhir yang ditulisnya dan sekaligus buku yang dimaksudkan sebagai salam perpisahan dan warisan imannya merangkum apa yang diperlukan untuk menjadi murid Tuhan Yesus di abad ini. Buku ini habis saya baca dalam setengah hari karena bahasanya mudah dipahami dan tidak panjang. Walaupun diberi judul “radical”, buku ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan sikap radikal yang berarti memusuhi agama-agama lain. “Radical” di sini lebih berarti “menyeluruh, mengakar dan tuntas”. Buku kedua yang saya sarankan adalah Callings: Twenty centuries of Christian wisdom on vocation suntingan Prof. William Placher, almarhum. Buku yang kedua ini terus terang memang bukan bacaan ringan. Ini jenis buku yang membutuhkan refleksi dan pemikiran mendalam untuk memahami apa yang dipahami oleh orang-orang Kristen dari segala abad dan tempat tentang panggilan Tuhan dan menghubungkannya dengan kehidupan sekarang ini. Saya tidak sedang berupaya menjual buku. Saudara-saudara boleh meminjam buku-buku ini dari saya. Sayangnya buku-buku ini hanya saya miliki dalam edisi Bahasa Inggrisnya.

Lalu bagaimana dengan yang tidak sempat membaca? Apakah tidak ada pelajaran rohani yang bisa didapatkan? Saya kutip Pdt. Stott di sini, “Our common way of avoiding radical discipleship is to be selective; choosing those areas in which commitment suits us and staying away from those areas in which it will be costly. But because Jesus is Lord, we have no right to pick and choose the areas in which we will submit to his authority.” [Cara yang biasa kita ambil untuk menghindari menjadi murid yang radikal adalah dengan menjadi pemilih; memilih area-area yang sesuai dengan komitmen kita dan menghindari area-area yang menuntut pengorbanan. Namun karena Yesus adalah Tuhan, kita tidak mempunyai hal untuk menentukan dan mememilih area-area tertentu yang akan kita serahkan ke bawah otoritasnya.] Kalau saja kita benar-benar menyerahkan semua segi kehidupan kita kepada Tuhan Yesus seperti yang disarankan oleh Pdt. Stott dan ditunjukkan oleh Rasul Paulus, kita sedang “melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Untuk melakukannya, kita tidak perlu menjadi misionaris dan martir. Namun, kalau sungguh kita coba melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, kita barangkali tidak heran mengapa ada orang yang rela menjadi misionaris dan martir dan mungkin ada di antara kita yang terpanggil pula untuk menyeberang lautan memenuhi panggilan Tuhan.

(Agustian N. Sutrisno)

1-10 of 53