Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Aku telah melihat Tuhan!

diposkan pada tanggal 23 Apr 2011 08.14 oleh Essy Eisen   [ diperbarui7 Jul 2011 13.28 ]
Yoh 20: 1-18

Kamis kemarin saya datang ke Kebaktian Maundy Thursday di jemaat tempat saya beribadah sekarang, Emmanuel Uniting Church. Maundy Thursday dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan menjadi Kamis Putih. Seusai Perjamuan Kudus dilayankan, para penatua jemaat bergantian membacakan kisah sengsara Tuhan Yesus, mulai dari penangkapannNya di Taman Getsemani. Setiap selesai membacakan satu perikop, seorang penatua mematikan satu lilin. Demikianlah seterusnya hingga semua lilin yang dinyalakan sepanjang Minggu Pra-paska dimatikan dan tinggal satu lilin besar di altar yang tersisa. Pendeta David Fender kemudian membawa satu-satunya lilin yang tersisa itu keluar gedung gereja. Gedung gerejapun menjadi sangat gelap. Di pintu gereja, Pendeta David berkata, “Go if you must, stay for as long as you can if you like. But depart in silence.” “Pergilah jika memang harus, tinggallah di sini selama mungkin bila suka. Tetapi tinggalkanlah tempat ini dengan hening.” Ia kemudian membaca Mrk 14:41: “Saatnya sudah tiba, lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.” Tidak ada kalimat berkat, tidak ada pengutusan. Seolah-olah Allah tidak menyertai kita lagi dan tidak lagi memberikan berkatNya.

Saya duduk dengan pikiran yang menerawang. Apa makna dari semua yang sedang saya alami di kebaktian itu. Bagi saya, lilin yang dimatikan satu persatu dan bahkan satu-satunya lilin yang tersisa dibawa keluar melambangkan menjauhnya terang pengharapan. Ketika Kebaktian Malam Natal, kita menyambut kelahiran Yesus dengan gereja yang semarak oleh ratusan bahkan ribuan lilin dan sukacita yang luar biasa memenuhi hati kita. Terang dunia yang sejati dan harapan bagi bangsa-bangsa telah turun dan diam bersama kita. Tapi hari Kamis itu, di malam ketika Yesus ditangkap, Dia, yang disambut dengan sorak sorai bagaikan seorang raja yang membawa harapan pemulihan Israel pada Minggu Palmarum ketika memasuki Yerusalem seolah-olah tak berdaya ketika dibawa oleh segerombolan orang suruhan Imam Besar. Harapan para murid akan Tuhan Yesus semakin redup. Terang dunia itu perlahan-lahan redup, sama seperti gedung gereja yang semakin gelap ketika satu persatu lilin Pra-paska dimatikan.

Terlebih-lebih di Jumat yang Agung, Dia mati. Seperti lilin besar yang dibawa perlahan-lahan keluar gedung gereja, seolah-olah ada kegelapan yang amat sangat, perlahan tapi secara pasti memenuhi hati para murid. Ketika Ia dikuburkan, maka pudarlah harapan itu. Mereka tidak dapat lagi melihat Tuhan Yesus. Sama seperti kubur yang menghalangi mata para murid untuk melihat Tuhan, begitu pula sirnanya terang pengharapan membuat mereka lupa akan segala yang pernah dikatakan Yesus tentang penderitaan yang harus ditanggungNya.

Namun cerita belum usai. Di Minggu pagi, terang pengharapan itu kembali lagi menyala-nyala. Maria Magdalena yang datang ke kubur Tuhan di Minggu pagi itu pada awalnya sulit mengenali Dia yang bangkit. Baginya, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Barulah ketika Tuhan Yesus sendiri memanggilnya, “Maria!”, perempuan itu menjadi sadar bahwa guruNya sendiri yang bercakap-cakap dengannya. Dia yang dikuburkan dan disangka telah tunduk kepada Kerajaan Maut, ternyata tidak mati untuk selama-lamanya. Maria Magdalena memberitakan kepada para murid kabar kebangkitan ini, “Aku telah melihat Tuhan!” Para murid kembali memiliki pengharapan akan penyertaan Tuhan karena mereka kemudian satu persatu berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Horatius Bonar menulis:

We read you best in him who came (Kami melihat Engkau paling jelas dalam Dia yang datang)
To bear for us the cross of shame; (Untuk menanggung salib aib bagi kami)
Sent by the Father from on high, (Diutus oleh Bapa dari tempat yang tinggi)
Our life to live, our death to die. (Untuk menjalani kehidupan kami dan kematian kami)
We read your power to bless and save, (Kami melihat kuasaMu untuk memberkati dan menyelamatkan)
Even in the darkness of the grave; (Walaupun dalam kelamnya kubur)
Still more in resurrection light (Terlebih lagi dalam terang kebangkitan)
We read the fullness of thy might. (Kami menyaksikan kepenuhan kuasaMu)

Kembali kepada Kebaktian Maundy Thursday, lilin besar yang diletakkan di atas altar tidak dipadamkan, melainkan diarak keluar gedung gereja. Menurut saya ini simbolisasi yang paling bermakna dari Kebaktian itu. Seperti kata Bonar, gelapnya kubur Yesus sesungguhnya tidak menghilangkan kuasa Allah yang memberkati dan menyelamatkan manusia. Memang terang pengharapan itu seolah-olah sejenak sirna, tapi bukan menghilang. Ia hanya undur sebentar untuk kemudian berkobar menyala-nyala dan menjadi jelas dalam kebangkitan. Demikanlah di Kebaktian Paska, lilin besar itu kembali diarak masuk gedung gereja. Terang pengharapan dalam Yesus Kristus senantiasa ada. Ia barangkali terkadang terhalang dari pandangan mata iman kita, namun tak pernah sirna.

Barangkali kita juga terkadang seperti para murid yang sulit melihat terang pengharapan itu karena ada kubur yang menghalangi mata mereka. Mungkin mata iman kita kadang terhalang untuk melihat Tuhan karena kita “mengubur” Tuhan dengan masalah kita, dengan dosa kita, dengan kekuatiran, dengan seribu satu alasan lainnya. Namun, sesungguhnya Tuhan senantiasa bersama kita dan terangNya tidak sirna. Kubur apapun tak akan sanggup menghalangiNya menjumpai kita. Ia masih ingin menunjukkan diriNya kepada kita di tengah kehidupan kita sekarang ini, sama seperti Ia menjumpai Maria Magdalena dan para murid dua ribu tahun yang lalu. Namun, apakah kita cukup peka untuk mengenali Dia? Untuk mengenali Dia melalui kesaksian Injil, melalui air baptisan, melalui roti dan anggur Perjamuan Kudus, melalui simbolisasi terang lilin, tetapi terlebih lagi, melalui persekutuan iman dengan sesama orang percaya di gereja? Seruan Maria Magdalena kepada para murid, “Aku telah melihat Tuhan!” kiranya juga menjadi proklamasi kita masing-masing. Kita memang bukan saksi mata kebangkitan Tuhan Yesus, tetapi kita juga telah dijumpai Tuhan di tengah kehidupan kita masing-masing di Abad XXI ini. Maukah kita yang telah melihat terang pengharapan kebangkitan Tuhan menjadi cermin-cermin pemantul terang itu? Selamat Paska! Selamat menjumpai Tuhan yang bangkit!

(Agustian N. Sutrisno)
Comments