Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Bahagia orang benar

diposting pada tanggal 9 Feb 2011 01.07 oleh Essy Eisen
Mzm 112

Apa ciri-ciri orang yang takut akan Allah?

Rajin ke gereja? Aktif pelayanan? Bisa pimpin kebaktian? Jadi anggota majelis jemaat?

Anehnya, tidak satupun hal tersebut disebutkan dalam Mzm 112. Seolah-olah Pemazmur lupa akan hal-hal yang bersifat rohani tersebut.

Dalam Mazmur yang diberi judul “Bahagia orang benar” oleh LAI, pemazmur menyebutkan, antara lain: “sangat suka kepada segala perintahNya, menaruh belas kasihan, memberi pinjaman, memberikan kepada orang miskin.” Tentunya, kita bisa memperluas kesukaan pada perintah Allah sampai pada pelayanan di gereja, rajin kebaktian, dan mengurus jemaat. Namun, ada dimensi sosial yang sangat tinggi dalam ciri-ciri orang benar atau orang yang takut akan Allah dalam Mazmur ini.

Menurut Pdt. Yongky Karman, dalam Perjanjian Lama kesalehan bukanlah hal mengawang-awang. Kesalehan yang sejati selalu dapat diwujudkan dalam tindakan nyata bagi sesama manusia. Di Mazmur ini, mengikuti perintah Allah tidak bisa dilepaskan dari melakukan tanggung jawab kepada orang-orang yang berkesusahan. Sudah sepantasnya dengan demikian kita mendukung karya Tim GKI di daerah-daerah yang terkena bencana dan memberikan sumbangan kita kepada World Vision yang bergerak dalam pelayanan sosial kepada anak-anak di daerah tertinggal, misalnya. Namun, bukan hanya kepada yang jauh di seberang lautan sana saja. Di sekitar Halimun dan di sekitar kehidupan sehari-hari, kita pun dipanggil untuk menolong yang berkekurangan. Demikianlah cara kita mewujudnyatakan hidup yang benar dan takut akan Allah.

Mazmur ini memberikan pula janji-janji yang luar biasa indahnya bagi orang-orang yang takut akan Allah: “anak cucunya akan perkasa di bumi, di dalam gelap terbit terang bagi orang benar, takkan goyah untuk selama-lamanya, diingat untuk selama-lamanya, tidak takut kepada kabar celaka, tanduknya meninggi dalam kemuliaan.” Siapa yang tidak ingin mendapatkan semuanya ini?

Kalau kita baca tafsiran dalam Alkitab New International Version Study Bible, yang ditekankan oleh sang pemazmur bukanlah aspek-aspek lahiriah dari janji tersebut. Yang paling penting adalah “diingat untuk selama-lamanya.” Frasa “untuk selama-lamanya” diulangi tiga kali dalam Mazmur ini. Mazmur ini rupanya adalah sebuah eulogi, sebuah tulisan yang dikarang untuk dibacakan setelah seseorang meninggal dalam rangka mengenang kehidupan orang tersebut. Bagaimanakah seorang yang telah menjalani kehidupannya dengan takut akan Allah akan dikenang? Bukankah melalui segala perbuatan baiknya, melalui perhatiannya yang tulus kepada orang-orang yang kurang beruntung, melalui keberaniannya di tengah segala masalah, melalui hati yang penuh percaya kepada TUHAN? Memang sepantasnya, kepercayaan yang penuh atau iman kepada Tuhan itu berwujud dalam tindakan nyata. Seperti kata Tuhan Yesus, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Agustian N. Sutrisno
Comments