Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih

diposkan pada tanggal 7 Okt 2011 04.22 oleh Essy Eisen
Mat 22: 1-14

Tahun lalu saya diundang ke acara makan malam dengan Menteri Pendidikan Tinggi Australia di Canberra. Biaya penerbangan, penginapan dan makan malam ditanggung penuh oleh Pemerintah Australia. Tentu saja saya sangat senang dan bersedia datang ke acara makan malam itu. Dari antara orang-orang yang diundang ke acara itu, ada juga yang menolak karena satu dan lain hal. Apakah Pak Menteri marah? Tentunya tidak. Ini adalah undangan. Orang boleh menerima undangan dan boleh juga menolak undangan. Namun, apakah Pak Menteri akan mengeluarkan undangan lagi kepada orang-orang yang menolak hadir? Rasanya tidak. Akankah mereka yang hadir memenuhi undangan Pak Menteri akan mengenakan pakaian yang lusuh dan tidak pantas? Rasanya juga tidak. Pasti semua yang hadir ingin kelihatan rapi di hadapan Pak Menteri.

Dalam bacaan Matius 22, Tuhan Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan tentang orang-orang yang diundang ke pesta kawin anak raja. Orang-orang yang diundang sang raja mengacuhkan undangan itu dan bahkan ketika undangan disampaikan untuk kedua kalinya, hamba-hamba sang raja dibunuh oleh sebagian orang yang diundangnya. Ini tentunya sangat aneh dan tidak beradab. Pantas saja sang raja kemudian mengirimkan tentaranya untuk menghukum orang-orang yang tak tahu berterima kasih.

Cerita ini berlanjut dengan sang raja mengundang siapa saja yang dijumpai di persimpangan jalan untuk hadir ke pesta tersebut sampai ruang pesta penuh. Sang raja kemudian menjumpai orang yang tidak mengenakan pakaian pesta. Ia bertanya kepada orang tersebut, “Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?” Injil Matius mencatat orang itu diam saja. Orang itu bersikap acuh terhadap teguran sang raja dan akhirnya dihukum.

Seringkali para pembaca Mat 22 terjebak pada dua peristiwa kekerasan atau penghukuman yang dicatat di situ. Mengapa sang raja memerintahkan pembinasaan orang-orang yang menolak datang ke pesta dan mengapa sang raja memenjarakan orang yang tidak berpakaian pesta? Tentu pertanyaan-pertanyaan ini sah-sah saja. Akan tetapi, agaknya kita sering melewatkan respon yang sangat aneh dari orang-orang yang awalnya diundang dan orang yang tidak mengenakan pakaian pesta tersebut. Mereka semua mengacuhkan sang raja.

Pada masa hidup Yesus, tidak akan ada seorangpun yang berani mengacuhkan raja. Pada masa kinipun seperti yang saya utarakan di atas, orang masih sangat menghormati undangan Pak Menteri sehingga sungkan menolaknya. Dalam perumpamaan ini, sang raja bahkan sampai dua kali menyampaikan undangannya. Ini sangat tidak lazim. Namun, bukannya disambut dengan gembira, para undangan mengacuhkan dan bahkan bertindak berlebihan dengan membunuh para pembawa undangan. Toh sang raja tidak jadi berhenti mengadakan perjamuan. Ia tetap ingin orang banyak hadir di perjamuannya sampai-sampai mengundang siapa saja yang dijumpai. Ia sangat ingin berbagi sukacitanya dengan orang banyak. Ia tidak kapok jika undangannya ditolak, berbeda dengan manusia kebanyakan yang mungkin sakit hati dan membatalkan perjamuannya. Melalui tokoh sang raja, Tuhan Yesus ingin memberikan gambaran Allah yang tidak jemu-jemu mengundang umatNya untuk datang kepadaNya. Undangan ini memang pada zaman Perjanjian Lama terutama ditujukan kepada Bangsa Israel sebagai umat pilihanNya. Namun, undangan ini semakin luas ditujukan kepada siapa saja melalui karya Yesus Kristus yang dilanjutkan oleh para rasul di abad-abad pertama dan gereja saat ini.

Yang mengacuhkan sang raja ternyata bukan saja mereka yang tidak hadir di perjamuan. Di antara yang hadir di perjamuan, ada juga yang mengacuhkan sang raja. Ia datang dengan pakaian yang tidak pantas dan ketika disapa oleh sang raja, ia diam saja. Ada banyak tafsiran tentang orang yang tidak berpakaian pesta ini. Ada yang mengatakan ia melambangkan para anggota gereja yang tidak sepenuhnya bertobat. Ada yang mengatakan ia adalah anak kegelapan yang menyusup masuk ke kerajaan terang. Apapun juga tafsirannya, tokoh ini ditampilkan Yesus untuk menjelaskan bahwa tidak semua yang diundang akhirnya dipilih. Janganlah kita menjadi terlalu percaya diri bahwa kalau kita sudah menjadi anggota gereja dan merasa diselamatkan, kita boleh hidup semaunya. Sebaliknya, kita perlu mengenakan “pakaian pesta” yaitu kehidupan yang berkenan di hadapan Allah, yang sepadan dengan panggilan Allah.

Allah memang ingin memanggil sebanyak mungkin orang untuk hadir dalam perjamuanNya, tetapi Ia tidak bisa dipaksa untuk menerima semua orang. Ia berdaulat penuh untuk memilih siapa yang boleh berbagi sukacita penuh dengan diriNya. Kita diingatkan kembali untuk selalu bersyukur atas kebaikan Allah dan panggilanNya yang ditujukan kepada kita semua. Kita ditegur untuk menyatakan syukur itu dengan kehidupan yang berpadanan dengan panggilan Dia. Kita senantiasa perlu mengindahkan Allah dan tidak mengacuhkanNya.

(Agustian N. Sutrisno)

Comments