Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Bukan tukang paksa, tapi pencemburu?

diposkan pada tanggal 4 Nov 2011 21.07 oleh Essy Eisen   [ diperbarui4 Nov 2011 21.08 ]
Yosua 24: 1-3a, 14-25

Dalam Yosua 24 kita sampai ke penghujung hidup Yosua dan kisah masuknya Bangsa Israel ke Kanaan. Setelah sedemikian lama mengembara di padang gurun selepas keluar dari Mesir dan berperang untuk merebut Kanaan, akhirnya Bangsa Israel memiliki kesempatan untuk hidup menetap dan damai. Pemimpin besar mereka, Musa telah lama tiada dan Yosua sebagai penggantinya juga sudah lanjut usia. Bangsa itu memiliki kesempatan untuk menata kehidupan mereka lepas dari pengaruh tokoh-tokoh berkarisma ini dan memulai kehidupan yang dituntun oleh Taurat dan bimbingan para imam dan penatua. Di tengah segala kesempatan dan kemungkinan ini, kita menjumpai Yosua melakukan tugas terakhirnya sebagai pemimpin bangsa.

Ia ingin Bangsa Israel memilih sendiri masa depannya: masa depan bersama Tuhan atau masa depan tanpa Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan yang dilayaniNya bukanlah Tuhan pemaksa. Ia bukan Tuhan yang menaruh pamrih juga atas segala jasa baikNya selama memimpin dan menolong Bangsa Israel keluar dari Mesir dan masuk Kanaan. Karena Tuhan adalah kasih, Ia tidak akan memaksa Bangsa Israel untuk mengasihiNya secara tidak rela. Apakah kasih bisa disebut kasih jika diisi dengan pemaksaan kehendak dan pemasungan pilihan?

Sebagai pemimpin yang baik Yosua tidak sekedar memberikan pilihan kepada Bangsa Israel. Ia memberikan teladan. Ia berkata, “tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Ia menunjukkan kepada Bangsa Israel jalan yang menurutnya benar dan patut dipilih. Ia juga menunjukkan integritas dirinya. Apapun pilihan bangsanya nanti, ia sudah memilih yang benar dan tidak akan mengganti posisinya. Setelah ia menyatakan pilihannya, Yosua meminta bangsanya untuk memilih untuk mengikuti Tuhan atau mengikuti illah yang lain yang telah mereka kenal melalui nenek moyang mereka di Ur-Kasdim atau illah Bangsa Kanaan yang mereka telah taklukan.

Jawaban Bangsa Israel terdengar sangat indah. Mereka menuturkan kembali sejarah mereka sejak keluar dari Mesir sampai kemenangan mereka atas penduduk Kanaan dan mereka menegaskan itu semua terjadi karena Tuhan. Kepada Dia-lah mereka mau berbakti seterusnya.

Yosua kemudian mengucapkan hal-hal yang secara pribadi sulit saya terima. Ia katakan Tuhan itu tidak akan mengampuni kesalahan dan dosa, bahkan pula membinasakan Bangsa Israel bila mereka beribadah kepada allah asing dan meninggalkan Tuhan. Pada kenyataannya, nanti kalau kita teliti sejarah Israel, bukankah berulang kali mereka meninggalkan Tuhan dan berulangkali pula Tuhan mau mengampuni kesalahan dan dosa mereka demi kasih setiaNya? Namun di sini, Yosua menggunakan istiliah-istilah dari dunia percintaan dan pernikahan. Dia katakan, “Dialah Allah yang cemburu.” Kekasih manakah yang rela pasangannya berpaling kepada yang lain? Suami manakah yang rela istrinya menduakan dirinya? Istri manakah yang rela berbagi suami? Allah lebih dari kekasih dan dari suami-istri. Ia akan lebih hancur hati jika Bangsa Israel berpaling dari DiriNya dibandingkan dengan kekasih dan suami-istri manusiawi. Demikian barangkali pemikiran Yosua.

Menanggapi perkataan Yosua di atas, Bangsa Israel tidak mundur. Mereka tetap mau menyembah Tuhan, “Kepada Tuhan, Allah kita, kami akan beribadah dan firmanNya akan kami dengarkan.” Betapa kuat komitmen dan tekad mereka. Namun kita tahu bahwa itu tidak berlangsung lama. Di kitab selanjutnya, Hakim-Hakim, kita temukan mereka berulang kali meninggalkan Tuhan dan firmanNya mereka lupakan. Bagi kita yang telah memilih menerima baptisan dan mengikuti sidi, kita juga telah memilih mengikuti Tuhan dan mendengarkan firmanNya. Di depan banyak orang dan banyak saksi kita telah mengucapkan pengakuan iman kita. Sepantasnyalah hidup kita juga berpadanan dengan janji dan pengakuan iman itu.

Bagi kita yang masih berpikir apakah mau mengikut Tuhan dan mendengarkan firmanNya, andaikan saya bisa katakan bahwa mengikut Tuhan itu mudah dan tidak ada konsekuensi beratnya selain daripada akan masuk sorga nanti. Namun itu tidak sesuai dengan perkataan Yosua. Mengikut Tuhan bukan perkara gampang dan bukan tanpa konsekuensi-konsekuensi yang berat. Namun, percayalah juga, jika Tuhan begitu mengasihi Bangsa Israel yang tidak tahu terima kasih itu, Ia terlebih lagi mau mengasihi Saudara. Selayaknyalah kita mengikuti Dia. Sepatutnya kita beribadah kepada Dia dan firmanNya kita dengarkan. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Ia mengasihi kita dengan kasih yang tanpa pamrih. Dalam Kristus Yesus, putraNya, yang bahkan rela memikul salib demi kita, Ia memanggil kita semua untuk mengikutinya. Seperti kata KJ 353:

Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil,
memanggil aku dan kau.
Lihatlah Dia prihatin menunggu,
menunggu aku dan kau.

“Hai mari datanglah, kau yang lelah, mari datanglah!”
Sunggu lembut Tuhan Yesus memanggil,
“Kau yang sesat, marilah!”

(Agustian N. Sutrisno)
Comments