Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Hidup oleh Roh: Mungkinkah?

diposting pada tanggal 7 Jul 2011 13.23 oleh Essy Eisen
Roma 8: 1-11

Alangkah sulitnya menjalani kehidupan yang dipimpin oleh Roh. Tiap saat kita berhadapan dengan dunia dengan berbagai tawarannya yang bertentangan dengan keinginan Roh. Bukankah memang lebih mudah belajar melakukan sesuatu yang jahat, daripada belajar melakukan hal baik. Bahkan, untuk menjadi jahat dan melakukan kejahatan, tak perlu ada yang mengajarkan. Itu agaknya muncul sendiri dari keinginan daging manusia. Tidak ada orang tua yang baik yang dengan telaten mengajarkan anaknya berbohong. Namun, menurut sebuah penelitian, di usia sekitar empat tahun, tanpa pernah diajarkan dan dicontohkan, seorang anak mulai bisa berbohong. Agaknya ada sesuatu dalam jiwa (psyche) manusia yang cenderung senang akan tipu-menipu. Tepatlah jika dalam Alkitab versi NIV, digunakan kata sinful nature untuk menerjemahkan keinginan daging. Manusia memang memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa dan melawan Allah. Barangkali, itu sudah sifatnya.

Rasul Paulus menyadari adanya keinginan daging. Baginya itu adalah konsekuensi logis dari pemberontakan Adam dan Hawa di Taman Eden yang telah membawa dosa bagi semua manusia. “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak,” begitu tulisnya. Keberdosaan manusia itu semakin jelas lagi jika Hukum Taurat dipelajari baik-baik. Bukankah ada pepatah, “Hukum ada untuk dilanggar.” Biarpun peraturan ada untuk kebaikan kita semua, tapi ada saja orang yang lebih senang melanggar hukum. Bukan karena tidak tahu beberapa orang melanggar hukum. Sebaliknya mereka sengaja melanggarnya karena terasa lebih enak mengecoh dan memperdayai hukum. Ini sekali lagi adalah keinginan daging manusia.

Bagaimanakah dengan manusia-manusia Kristen? Adakah mereka lepas dari keinginan daging? Dalam Surat Roma 8:1-11, jelaslah bahwa manusia-manusia Kristen telah diberikan jalan keluar dari kedagingan. Kristus Yesus telah diutus “dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa.” Karena karya penebusanNya, manusia-manusia Kristen dilepaskan dari kehidupan yang seturut dengan keinginan daging itu. Mereka boleh hidup seturut dengan keinginan Roh. Namun, pada kenyataannya, apakah kita jadi lebih mudah mengikuti keinginan Roh daripada keinginan daging? Rasanya mengikut jalan Tuhan lebih susah daripada mengikut jalan dunia ini, sekalipun kita percaya pada Tuhan Yesus.

Saya sedang membaca sebuah buku kumpulan tulisan Bruder Lawrence, judulnya The Practice of the Presence of God. Buku ini tipis, tidak sampai seratus halaman. Bruder Lawrence adalah seorang biarawan Perancis yang meninggal dunia pada 12 Februari 1691. Bruder Lawrence tidak memberikan latihan-latihan disiplin rohani yang ketat seperti yang disarankan oleh Benedictus dari Nursia, misalnya. Bruder Lawrence hanya punya satu resep untuk hidup mengikuti Roh, yaitu bercakap-cakap dengan Tuhan. Di tengah segala kesibukannya, Bruder Lawrence selalu menyempatkan diri untuk memikirkan Tuhan, berdoa tanpa bersuara, memuji Tuhan dalam hati dan mengisi hatinya dengan kasih akan Tuhan. Hal itu dilakukannya sepanjang hari, setiap hari selama dia hidup, setelah bertekad untuk menjadi seorang Kristen. Dalam tulisannya, Bruder Lawrence mengakui bahwa upayanya tidak dengan mudah langsung jadi. Ada saatnya dia juga jatuh dalam dosa. Namun, begitu dia menyadarinya, dia langsung mengakui dosa itu di hadapan Tuhan dan bertekad tidak mengingat-ingat lagi dosa itu agar dirinya tidak dihantui rasa berdosa dan bisa berkonsentrasi kembali untuk menjalin hubungan yang akrab dengan Tuhan.

Saya rasa Bruder Lawrence menghidupi semangat Rasul Paulus ketika ia menulis Roma 8:1-11. Daripada menyiksa diri dengan berbagai peraturan keagamaan (seperti Taurat), Bruder Lawrence lebih suka membiarkan kasih Kristus hidup di dalam hatinya dan memenuhi hati dan harinya dengan keinginan Roh. Tiap saat, ia berupaya “memikirkan hal-hal yang dari Roh” bukan “hal-hal yang dari daging.” Ini tidak berarti bahwa Bruder Lawrence hanya menghabiskan waktu dengan bernyanyi, berdoa dan beribadah. Bahkan ia merasa dirinya lebih dekat Allah ketika ia sedang mencuci piring, yang adalah tugas hariannya di biara, daripada ketika ikut dalam ibadah resmi. Ini mungkin terjadi karena ia sanggup mencari dan mengenali kehadiran Roh dalam segala segi kehidupan kesehariannya. Bruder Lawrence juga menunjukkan kepada kita semua bahwa kehidupan di dalam biara sekalipun tidak dengan serta merta membuat orang berhenti berdosa. Memang pada kenyataannya, seperti kata Paulus, kita semua tidak benar. Barangkali adalah klaim yang berlebihan jika ada orang yang mengaku memiliki kehidupan sempurna yang bebas dari dosa. Hanya Tuhan Yesus saja yang kita percayai hidup bebas dari dosa. Sebaliknya, Bruder Lawrence dengan jujur dan rendah hati mengakui keberdosaannya dan ketidaksempurnaannya.

Bagi kita yang tidak hidup dalam biara, upaya untuk senantiasa memikirkan hal-hal yang dari Roh memang penuh tantangan. Dibutuhkan disiplin rohani dan tekad yang sungguh untuk selalu hidup berkenan kepada Allah. Namun, kita juga tahu bahwa Roh Allah diam di dalam kita dan Roh itu menolong kita untuk semakin mengejar kehidupan yang seturut dengan kehendak Allah. Di tengah kegagalan untuk senantiasa hidup oleh Roh, kita boleh datang kepada Allah dengan jujur, mengakui dosa kita dan boleh meminta pertolonganNya dalam kehidupan kita. Tidak heran, dalam liturgi GKI, pengakuan dosa muncul di awal kebaktian. Pengakuan yang jujur dan rendah hati bahwa kita bergantung pada Allah adalah kunci untuk menjalani hidup seturut keinginan Roh. Memang hidup oleh Roh sulit, tetapi bukan tidak mungkin. Hidup oleh Roh mungkin karena pertolongan Allah.

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya (I Tes 5: 23-24).”

(Agustian N. Sutrisno)

Comments