Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Kemurahan hati Allah

diposkan pada tanggal 15 Sep 2011 20.27 oleh Essy Eisen
Mat 20: 1-16

Perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur terutama ingin menggambarkan kemurahhatian Allah bagi semua orang. Pada masa panen raya, tuan-tuan tanah di Galilea biasa menyewa tenaga kerja tambahan. Orang-orang upahan ini dibayar per hari karena mereka bukanlah pegawai tetap sang tuan tanah. Pada masa Yesus, petani-petani miskin seringkali terpaksa menjadi orang upahan harian karena mereka tidak punya tanah yang cukup luas atau bahkan malah tidak punya tanah garapan sendiri. Ketika masa panen, mereka perlu sekali mendapatkan upah harian itu untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Yesus mengambil kisah hidup sehari-hari orang Galilea ini sebagai konteks perumpamaannya. Sang tuan tanah pergi pagi-pagi untuk merekrut orang-orang upahan. Sang tuan tanah setuju bersama dengan orang-orang upahan yang direkrut pada kira-kira pukul 6 pagi itu untuk mendapat upah satu dinar untuk pekerjaan sehari. Sang tuan tanah kemudian keluar pada pukul 9 pagi dan menjumpai ada orang-orang yang masih belum mendapat pekerjaan hari itu, maka ia mempekerjakan orang-orang itu. Hal itu dilakukannya lagi pada pukul dua belas, tiga dan lima petang. Pada masa panen, orang biasanya bekerja 12 jam sehari, yaitu dari pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore.

Ketika jam kerja telah usai, sang tuan tanah memanggil para pekerja harian itu mulai dari yang terakhir datang bekerja. Mereka menerima upah satu dinar. Kecemburuan melanda para pekerja yang datang lebih awal, karena mereka juga menerima upah satu dinar. Barangkali mereka merasa diperlakukan tidak adil. Mengapa mereka yang telah bekerja sampai 12 jam menerima upah yang sama dengan pekerja yang cuma bekerja 1 jam?

Para pekerja yang bersungut-sungut ini barangkali lupa akan kesepakatan upah mereka pada awalnya. Mereka dan tuan tanah setuju untuk upah satu dinar perhari. Jika sang tuan tanah memutuskan untuk menjadi murah hati dan membayar pekerja yang sekedar bekerja satu jam upah yang sama dengan pekerja yang bekerja seharian, tidak ada kesepakatan yang dilanggar. Di sini kita lihat, nilai keadilan dan kejujuran tetap dipertahankan oleh sang tuan tanah. Ia menambahkan satu nilai lagi, yaitu nilai kemurahan hati. Mungkin sang tuan tanah sadar bahwa memberikan upah sebesar seperduabelas dinar kepada para pekerja yang baru datang pada pukul lima sore sangat amat tidak mencukupi untuk keluarga para pekerja itu. Ia adalah seorang tuan tanah yang punya hati. Ia tidak tega membiarkan pekerja hariannya pulang dengan uang yang tidak cukup untuk menghidupi keluarga mereka pada hari itu.

Yang aneh adalah protes para pekerja yang datang pada awal hari kerja. Mereka bukannya bersukacita karena kawan-kawan mereka semua ternyata mendapat upah yang cukup. Sebaliknya mereka bersungut-sungut, seolah-olah menginginkan kawan-kawannya mendapat upah yang di bawah standar hidup per hari, dalam bahasa kita sekarang, di bawah UMR. Atau mereka ingin upah yang lebih besar lagi, mereka barangkali ingin upah 12 dinar karena telah bekerja 12 kali lebih panjang daripada para pekerja yang cuma bekerja 1 jam hari itu. Namun, sekali lagi, mereka toh telah setuju untuk upah sebesar 1 dinar pada awal hari itu. Mereka menuntut sesuatu yang bukan hak mereka dan tidak bisa bersukacita atas kecukupan yang diterima kawan-kawan mereka berkat kemurahan sang tuan tanah.

Kalau kita telisik lebih jauh, dalam Mat 19, kita temukan Petrus menanyakan kepada Tuhan Yesus upah yang akan diterima oleh para murid jika mereka mengikut Tuhan. Tuhan Yesus menjanjikan berbagai hal yang luar biasa kepada mereka. Namun, Tuhan memberikan satu catatan, “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Pesan ini diulang lagi di Mat 20:19. Tuhan Yesus seolah-olah ingin mengatakan bahwa bukan soal siapa yang lebih awal mulai menjalani hidup sebagai muridNya. Panjangnya pengabdian sebagai murid Tuhan tidak serta merta menentukan upah yang diterima pada kemudian hari. Tidak ada seorangpun yang boleh merasa sombong dan berhak untuk hitung-hitungan dengan Tuhan ketika menerima upah dari mengikut Yesus.

Sebagai seseorang yang lahir dari keluarga Kristen, aktif melayani di gereja, dan bersekolah teologi, menurut cara pikir dan standar dunia, saya sepantasnya meminta hak-hak istimewa dan upah tambahan dari Tuhan. Namun, itu cara pikir duniawi, cara pikir yang digunakan oleh pegawai-pegawai yang telah mengabdi lama di suatu kantor dan menambah keterampilan agar bisa mendapat promosi jabatan. Di dalam Kerajaan Allah, bukan panjangnya pelayanan dan keterampilan pelayanan yang akan menentukan upah seseorang. Kemurahan hati Allah sajalah yang menjadi andalan dan upah kita, karena pada dasarnya kita semua tidak layak mendapat anugerah keselamatan Allah (Rm 3:23-24). Kalau Ia mau bermurah hati kepada orang lain yang baru mengikutNya kemudian hari, siapakah saya sehingga berhak bersungut-sungut terhadap kemurahan hatiNya?

(Agustian N. Sutrisno)
Comments