Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Lebih serupa imam atau perempuan sundal?

diposting pada tanggal 27 Sep 2011 09.22 oleh Essy Eisen
Mat 21: 23-32

Kisah yang dicatat dalam Mat 21:23-32 kira-kira dua ribu tahun yang lalu masih menyampaikan peringatan keras kepada kita semua yang hidup di Abad XXI. Dalam bacaan itu Imam-Imam Kepala dan para Penatua Agama Yahudi menginterogasi Tuhan Yesus tatkala Ia datang mengajar di Bait Allah. Mereka meragukan otoritas dan kredensial Tuhan Yesus. Siapakah orang Nazaret ini yang bisa melakukan berbagai mukjizat dan memberikan pengajaran yang begitu memesona rakyat banyak?

Kita pertama-tama perlu memahami siapa Imam-Imam Kepala dan Tua-Tua Yahudi serta pola pikir mereka. Para Imam Kepala dan Penatua Yahudi di sini agaknya adalah mereka yang duduk dalam Sanhendrin. Dalam Matius 26: 59 di Alkitab TB LAI, Sanhedrin diterjemahkan sebagai Mahkamah Agama. Sanhedrin terdiri dari 71 orang. Satu orang berjabatan sebagai Imam Besar dan satu orang lagi adalah wakilnya. 69 orang sisanya adalah para anggota, yang dalam Mat 21 ini mungkin disebut sebagai para imam kepala dan tua-tua Bangsa Yahudi. Mereka memiliki kekuasaan untuk mementukan hukum agama dan menafsir isi Taurat bagi seluruh Bangsa Yahudi. Sebagai otoritas keagamaan, sudah sepantasnyalah mereka memahami isi Alkitab dan memerintah sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun, pada masa itu, Sanhedrin juga sangat rentan pada pengaruh penguasa politik. Bahkan, mereka sendiri secara aktif ikut serta dalam kehidupan politik.

Ketika Yesus menjawab pertanyaan mereka tentang otoritasNya dengan sebuah pertanyaan lain, mereka sebetulnya tak mau menjawab. Pertanyaan Yesus sederhana saja, “Dari manakah baptisan Yohanes?” Namun, pertanyaan ini adalah buah simalakama bagi para anggota Sanhedrin. Sanhedrin menolak Yohanes Pembaptis karena alasan yang sama mereka menolak Yesus. Walaupun Yohanes Pembaptis hidup benar dan memberitakan Firman Allah dengan tepat, ia dianggap terlalu radikal dan menggoyahkan otoritas Sanhedrin atas kehidupan beragama Bangsa Yahudi. Mereka tentu tidak bisa mengakui Yohanes sebagai utusan Allah, sebab begitu mereka mengakuinya, terbukalah kemunafikan dan kedok mereka. Mereka sebetulnya tahu kebenaran yang diberitakan Yohanes, namun lebih memilih mengabaikannya. Di sisi lain, mereka juga tak berani mengatakan Yohanes Pembaptis tidak berasal dari Allah karena mereka takut akan rakyat banyak. Mayoritas Bangsa Yahudi percaya akan kebenaran Yohanes Pembaptis. Sanhedrin takut digulingkan oleh rakyat. Di sini kita melihat ketidaktegasan dan kemunafikan Sanhedrin dalam menanggapi pertanyaan Yesus, sehingga mereka memilih menjawab tidak tahu. Kita juga bisa menerka bahwa para imam kepala dan tua-tua ini ternyata lebih suka akan kekuasaan duniawi mereka daripada menyatakan kebenaran ilahi. Mereka tersandera oleh berbagai intrik politik dan tidak mengutamakan kebenaran. Terlihat pula bahwa pola pikir mereka sebetulnya tidak berbeda dari kebanyakan orang yang memegang kekuasaan . Barangkali, tidak beda dengan pola pikir saya dan saudara kalau berada di posisi berkuasa.

Menghadapi kemunafikan mereka, Tuhan Yesus menceritakan sebuah perumpamaan. Ada dua orang anak yang disuruh ayahnya bekerja di kebun anggur. Anak yang pertama berkata berkata iya, tetapi tidak melaksanakan janjinya. Anak yang kedua tidak mau, tetapi dalam hatinya ia menyesal dan akhirnya pergi ke kebun anggur. PertanyaanNya, “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Para imam dan tua-tua kali ini dengan benar menjawab, orang yang kedua. Tuhan Yesus menyambung lagi, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” Agaknya Tuhan Yesus ingin mencelikkan mata para imam dan tua-tua betapa munafiknya mereka yang tahu akan kebenaran dan sepatutnya mengajarkan kebenaran, tetapi memilih untuk tidak mengikuti kebenaran yang disampaikan Yohanes. Para pemungut cukai dan perempuan sundal lebih berkenan di mata Allah karena mereka awalnya mungkin tidak tahu akan kebenaran, namun akhirnya bertobat dan mengikuti ajaran yang benar sesuai dengan ajakan Yohanes Pembaptis.

Bagi kita yang hidup di Abad XXI, teguran dari cuplikan Injil yang ditulis pada abad pertama ini masih sangat relevan. Bukankah godaan untuk menggapai kekuasaan sambil mempertahankan citra kesalehan yang kasat mata makin menjadi-jadi di masa ini? Tuhan Yesus masih bertanya kepada kita semua melalui bacaan hari ini. Apakah kita lebih cinta kekuasaan daripada kebenaran? Apakah kita lebih serupa anak yang pertama ataukah anak yang kedua? Apakah kita lebih serupa dengan para imam dan tua-tua Bangsa Yahudi yang tegar hatinya ataukah lebih serupa dengan para pemungut cukai dan perempuan sundal yang bertobat?

(Agustian N. Sutrisno)
Comments