Mujizat

diposkan pada tanggal 9 Sep 2010 06.09 oleh Essy Eisen   [ diperbarui9 Sep 2010 06.09 ]

“Magic or Miracle”

Bahan PKT, Warung Remaja, GKI Gading Indah 27 Mei 2006

 

  1. Definisi “Magic” dan “Miracle”

Berikut kutipan dari Webster`s New World Dictionary, Third College Edition.

 

Magic:

1. (n) a) the use of charms, spells and rituals in seeking or pretending to cause or control events, or govern certain natural or supernatural forces; occultism b) such charms, spells, etc.

2. any misterious, seemingly inexplicable, or extraordinary power or quality (eg. the “magic” of love)

3. the art of performing skill of producing baffling effects or illusions by sleight of hand, concealed apparatus, etc.

(adj.) 1. of produced by, used in or using magic 2. to make disappear by or as if by magic or supernatural means.

 

Miracle:

L. (Miraculum, a strange thing, wonderful) 1. an event or action that apparently contradicts known scientific laws and is hence thought to be due to supernatural causes, esp. To an act of God. 2. a remarkable event or thing, marvel 3. a wonderful example (a miracle of tact)

 

Dari kutipan arti kata di atas kita dapat simpulkan: Baik “magic” maupun “miracle” sama-sama menunjuk kepada kejadian yang tidak biasa. Namun, sebenarnya menurut saya ada yang beda dari pengguaan dua kata itu, yaitu: “magic” digunakan untuk menunjukan bahwa kejadian yang tidak biasa itu terjadi karena tindakan manusia dengan menggunakan mantra-mantra, ritual-ritual, tipu muslihat, ilusi, alat bantu, dsb. Sedangkan “miracle” digunakan untuk menunjukan bahwa kejadian/keadaan yang tidak biasa itu terjadi karena hal yang kuasa supernatural dan yang supernatural itu secara khusus diyakini sebagai tindakan Allah. Untuk lebih mempermudah, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara bebas, maka kita dapat menterjemahkan “magic” sebagai “sulap/ilusi/mejik/klenik” dan “miracle” sebagai mujizat.

 

Dalam prakteknya, membedakan antara mejik dan mujizat memang membutuhkan perhatian lebih dan tidak mudah. Tidak jarang orang salah membedakan, misalnya ada orang yang begitu saja dengan mudahnya menyamakan sulap/ilusi/mejik/klenik dengan mujizat. Atau, ada juga orang yang begitu gampangnya juga menyebut-nyebut telah mengalami mujizat sehingga mengkaburkan makna mujizat sebagaimana ajaran sehat yang terdapat di dalam Alkitab. Ada juga ekstrim lainnya, ketika seseorang kurang mengetahui makna mujizat sehingga terkadang kurang percaya jika ada orang yang menceritakan bahwa ia telah mengalami mujizat.

 

Untuk itu, agar kita dapat membedakannya, sekaligus juga dapat memahami mujizat menurut ajaran yang sehat sebagaimana di katakan di dalam Alkitab, ada satu hal yang penting untuk dilakukan yaitu: memaknakan mujizat dengan bijaksana dan dewasa.

 

 

  1. Tuhan Yesus dan Mujizat[1]

Dalam PB ada sejumlah kata yang dipakai untuk menggambarkan mujizat, yaitu semeion, ergon, teras, thaumasia, pradoksa, aretai, dan dunamis. Dunamis adalah kata yang paling penting yang digunakan oleh Penulis Injil-Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas). Dunamis berasal dari bahasa Yunani profan yang artinya: kekuatan, kekuasaan (work of power). Bertolak dari pemahaman ini, dan dengan memperhatikan contoh-contoh tindakan mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus di dalam Injil-Injil sinoptik, maka dapat dikatakan bahwa mujizat adalah: suatu tindakan atau pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus berdasarkan kuasa ilahi yang ada di dalam diri-Nya. Secara umum mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus dapat dibagi dalam tiga kategori: mujizat kuasa atas alam, mujizat penyembuhan orang sakit, dan mujizat pemulihan atas orang mati.

 

Dalam dunia kuno ada orang selain Tuhan Yesus yang dapat melakukan mujizat-mujizat, terutama mujizat kesembuhan. Para rabi Yahudi misalnya, dapat juga melakukan mujizat. Yang penting dalam memahami mujizat Tuhan Yesus adalah bahwa selalu ada motivasi Yesus dalam melakukan mujizat itu. Tuhan Yesus melakukan mujizat amat berkaitan dengan pemberitaan-Nya mengenai Kerajaan Allah. Ada beberapa peristiwa di mana Tuhan Yesus menolak memberikan tanda.

 

 

  1. Makna Mujizat?[2]

Dewasa ini kita biasa menggunakan kata “mujizat” baik secara sempit, luas, maupun spiritual. Secara sempit, untuk menjelaskan keseluruhan rentangan hal-hal yang dianggap ajaib, luar biasa dan tak terjelaskan. Misalnya, kita pernah dihebohkan karena “mujizat penampilan Yesus” dalam bentuk gambar mirip Yesus di dinding sebuah rumah di Jakarta. Secara luas, untuk menjelaskan kekaguman kita kepada hal-hal baru yang sebelumnya tak terpikirkan, termasuk temuan-temuan ilmu dan teknologi. Misalnya, komputer generasi pertama sebesar sebuah gedung perpustakaan, kini cukup hanya sebesar telapak tangan (palm top) adalah sebuah mujizat, yang dengannya mengirim surat ke mana pun di dunia hanya perlu dua-tiga detik saja. (e-mail). Secara spiritual, kata “mujizat” sangat populer. Pada dasarnya mujizat menunjuk peristiwa-peristiwa yang mencahayai hubungan kita dengan Allah.

 

Penghayatan mujizat yang sempit dapat dihubungkan dengan yang spiritual. “Mujizat penampilan Yesus” dalam bentuk gambar di dinding bagi sebagian orang kristen dikaitkan dengan penghayatan spirtualnya. Menepis sisi irasionalnya, melalui peristiwa itu orang merasa berjumpa dengan Tuhan lalu imannya dikatkan dan sikap-perilakunya berubah makin berkualitas kristiani. Bagi sebagian orang Kristen lainnya, sukses transplantasi jantung yang memperpanjang usianya, bukanlah melulu mujizat rasional, melainkan juga mujizat spiritual, karena kesembuhannya bukan melulu hasil teknologi tetapi bersumber kepada Allah sendiri. Bagi sebagian lain sebagaimana diajarkan di GKI, hal-hal yang biasa dan sehari-hari juga adalah mujizat. Seperti misalnya, pertumbuhan kita dari bayi hingga dewasa. GKI percaya bahwa Allah bekerja secara alami dan supra-alami, karena itu GKI menghayati mujizat secara rasional (masuk akal) dan supra-rasional (melampaui akal), tetapi menghindari perangkap irasional (melawan akal).

 

Alkitab penuh dengan cerita-cerita mengenai Allah yang memainkan peranan-Nya dalam sejarah manusia, akrab dengan umat-Nya menunjukkan kasih pemeliharaan-Nya baik dengan cara yang biasa maupun luar biasa. Allah pencipta menjadikan dunia dan menertibkan kekuatan-kekuatan alam. Allah Abraham, Ishak dan Yakub berbicara kepada mereka serta menjawab doa-doa mereka melalui cara-cara yang mengherankan bahkan tak terbayangkan. Allah kepada Musa tampil dalam belukar menyala, dalam awan dan api, membelah laut, menyediakan manna dari langit dan memberikan air dari batu karang. Allah para nabi, melalui mereka, menyampaikan penghiburan dan teguran sambil memperlihatkan kuasa besar.

 

Kitab-kitab Injil juga menceritakan tanda dan mujizat mengenai Yesus Kristus yang menyembuhkan, memberi makan, membuka wawasan, menanamkan makna dan memberi hidup baru. Mujizat-mujizat Yesus atas alam menunjukkan bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi ada dalam tangan-Nya. Yesus sendiri dipenuhi peristiwa mujizat melalui kelahiran, kematian dan kebangkitan-Nya, dan dalam kehidupan ilahi-insaninya. Yesus memberkan kepada murid-murid-Nya kuasa mujizat, memampukan mereka menjalankan pekerjaan dan pelayanan-Nya. Kristus yang bangkit tampil kepada Paulus di jalan ke Damaskus. Roh Kudus memberi kuasa kepada pengikut Kristus sesudah kebangkitan-Nya. Tentu saja, Alkitab secara sentral memproklamasikan tindakan dan kuasa luar biasa Allah dalam kebangkitan Yesus Kritsus.

 

Di kalangan GKI, mujizat khususnya yang di luar Alkitab jarang dibicarakan. Sebagai gereja GKI percaya akan mujizat sebagaimana diceritakan dalam Alkitab. Namun bersama-sama gereja-gereja protestan di seluruh dunia GKI percaya bahwa Alkitab telah tertutup (tidak ditambah lagi) dan sudah menjadi kanon (patokan). Apa yang ada dalam Alkitab, itulah yang oleh GKI diberitakan terus menerus. GKI menekankan tentang pemeliharaan Allah, tentang pengampunan dari Kristus dan tentang kehadiran Roh Kudus di dalam (bukan di luar) hidup orang percaya, semua itu adalah mujizat bagi kita. Terutam GKI berbicara mengenai misteri sentral iman kita, yaitu inkarnasi (kedatangan sebagai manusia) dan resureksi (kebangkitan dari kematian) Kristus, suatu kabar baik (Injil) dari Allah yang menerobos sejarah manusia.

 

Yohanes Calvin merupakan inspirasi secara umum bagi gereja protestan atau lebih khusus gereja presbyterian (GKI termasuk dalam keluarga Presbyterian). Pemikirannya mengenai mujizat membantu cara kita memandang hal-hal ini. Calvin seorang yang berpendidikan baik di zaman Renaissance (pencerahan), mempunyai kritik yang tajam kepada praktek gereja waktu itu. Calvin menolak apa yang dipandangnya berlebih-lebihan dalam gereja Abad pertengahan, di antaranya berdoa kepada tokoh Alkitab dan orang-orang kudus, pemujaan keapada sisa-sisa tubuh mereka (elikwi), serta kepada kuasa imamat para imam yang dasarnya tak jelas bagi kita.

 

“Tokoh-tokoh dalam Alkitab memang alkitabiah”, kata Calvin, “tetapi tidak sepantasnya kita memuja mereka.” Otoritas dari para pemimpin alkitabiah seperti para bapa leluhur, para nabi dan rasul, sangat ditandai oleh kuasa mujizat, namun menurut Calvin kuasa itu berakhir dengan berakhirnya zaman para rasul. “Kuasa mujizat dan karya-karya yang dihasilkannya”, tulis Calvin, “yang dikaitkan dengan pemumpangan tangan telah berhenti, hal-hal itu berlangsung hanya untuk waktu itu.” Pada saat yang sama Calvin memandang bahwa semua kehidupan mengingatkan kita akan kehadiran dan pemeliharaan-Nya yang bersifat sakramental dan mujizat. “Adalah sebanyak mujizat kuasa ilahi”, tulisnya, “banyaknya tanda kebaikan, banyanknya bukti kearifan, banyaknya benda-benda entah besar dan kecil”, kita tidak perlu memerlukan bukti luarbiasa akan kehadiran dan kekuasaan Allah, karena kita memiliki begitu banyak hal yang mengingatkan itu ke mana pun kita memandang. Bukankah Yesus mengajari kita memandang bunga bakung sebagai bunga yang didandani Allah lebih dari Salomo?

 

Dalam pasal yang menekankan misteri perjamuan kudus Calvin menuliskan, “Istilah sakramen...mencakup secara umum semua tanda yang Allah pernah berikan kepada manusia guna mengubah mereka makin yakin dan percaya akan kebenaran janji-Nya. Dia kadang-kadang menampilkan ini dalam benda-benda alami –kadang-kadang diperhatikan sebagai mujizat..jika Dia sudah mengukir pemberitahuan itu pada matahari, bintang-bintang, bumi, batu-batu, maka semuanya akan menjadi sakramen bagi kita..Mengapa perak yang tak terbentuk dan keping perak tidak sama nilainya, padahal mereka terdiri dari bahan yang sama? Karena yang tak terbentuk tak memiliki lainnya selain sifat alaminya sendiri, sedangkan yang keping telah diterakan sehingga menjadi mata uang dan menerima nilai baru. Tidak dapatkah Allah menandai dengan Firman-Nya benda-benda yang telah diciptakan-Nya, sehingga yang semula cuma unsur-unsur biasa menjadi sakramen-sakramen.

 

Jadi Calvin mengajarkan agar kita mencari mujizat dalam keutuhan ciptaan, dalam cara sehari-hari di mana Allah menyediakan kesehatan dan kesejahteraan kita, dan dalam Firman Allah yang terus menerus berbicara kepada kita dan mengingatkan kita akan kehadiran-Nya yang penuh kasih. Sebagaiman Calvin dan teman-teman pembaharu merintis, begitulah gereja-gereja protestan dewasa ini mengetahui beberapa perbedaan dalam cara orang kristen memandang mujizat. Yang terpenting bagi Calvin ialah orang kristen memandang mujizat Tuhan dalam keseharian, kesederhanaan dan hal-hal yang umumnya dianggap biasa, sebab di dalamnya Tuhan memperlihatkan kuasa penciptaan dan pemeliharaan-Nya yang melampaui akalbudi manusia.

 

Oleh karena itu, GKI kurang mengharapkan mujizat luarbiasa ketimbang saudara-saudara kita dari tradisi Katolik dan Pentakosta/Kharismatik, namun, kita sama-sama berbagi dengan mereka keyakinan dalam pemeliharaan Allah, kepercayaan mengenai Roh Allah yang menyertai mereka, dan iman pengampunan dari misteri sentral inkarnasi, kematian dan kebangkitan Kristus. GKI secara rasional (masuk akal) memandang bahwa kehidupan kita tidak dapat disandarkan kepada peristiwa-peristiwa luarbiasa saja, karena peristiwa demikian bukan hal yang biasa dan agak jarang terjadi. Dalam Alkitab pun, baik PL maupun PB dengan mudah kita dapat membuat statistik mencolok tentang peristiwa jumlah peristiwa biasa ketimbang peristiwa luarbiasa. Namun demikian di pihak lain secara supra-rasional (melampaui akal) GKI sangat terbuka memandang bahwa kehidupan boleh dikuatkan oleh kekaguman kita akan perbuatan Allah yang melampaui akal dan nalar manusia. Tak seorangpun dapat menangkap habis-habis misteri ilahi dalam pekerjaan Allah, Kristus dan Roh Kudus. Mesti ada ruang bagi misteri itu dalam spiritualitas kita. Patut segera ditambahkan bahwa GKI dengan sangat hati-hati menjaga agar kekaguman dan ketakjuban kita tidak jatuh pada peritiwa yang irasional (melawan akal), seperti mengharapkan beras jatuh dari langit.

 

Dalam zaman ini, nalar ilmiah dan kehausan spiritual keduanya mempengaruhi kita. Selaku GKI kita terus percaya kepada kuasa doa. Kita percaya bahwa Allah mampu dan masih terus bekerja dengan cara alami dan supra-alami. Bersama Calvin kita percaya bahwaalam ditertibkan dan dihidupkan oleh penciptaan Allah. Kita percaya bahwa iptek dan kemajuan manusia juga merupakan bagian dari penciptaan Allah. Dan ciptaan-ciptaan Allah itu diserahkan kepada manusia untuk dikelola dengan sebaik-baiknya. Perhatikan ini terejawantah dalam tema tahun pelayanan kita, “Tuhan mencipta, manusia ikut serta.”

 

Manakala kita percaya akan pemeliharaan Allah atas kesejahteraan kita, maka kita mesti percaya pula akan kehadiran Allah bersama kita dalam penderitaan kita. Pembaharuan pengharapan dan pemahaman kita akan mujizat memampukan kita untuk merasakan tangan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita dan bersyukur kepada Allah atas mujizat pengampunan Kristus, mujizat kasih karunia Allah, mujizat penghiburan Roh Kudus dan mujizat kehidupan itu sendiri.

 

  1. Kesimpulan

Mujizat seharusnya tetap kita pelihara sesuai dengan pemahaman Yesus, yaitu sebagai pemberitaan tentang Kerajaan Allah dalam bentuk kongkret. Ini menolong dalam memahami Kerajaan Allah itu sendiri. Bila ini dilakukan berarti mujizat itu terjadi di sini, di tempat ini. Sehubungan dengan itu sedapat-dapatnya dihindari upaya-upaya atau kemungkinan-kemungkinan yang membuat masyarakat takjub pada mujizat itu sendiri, atau pada pelakunya. Ketakjuban itu hanya boleh tertuju pada Kerajaan Allah, yaitu ketakjuban bahwa Kerajaan Allah itu nyata di sini. Dan pada dasarnya, mengenyahkan segala bentuk penderitaan manusia sehingga manusia memiliki pengharapan adalah tindakan-tindakan dalam kuasa Allah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pnt. Essy Eisen



[1]Dari Yesus dan Mujizat kesembuhan dalam pandangan Injil-Injil Sinoptik, oleh Pdt. Arliyanus Larosa, dalam Jurnal penuntun Vol.2 No.7, April-Juni 1996

[2]Dari “Apakah Mujizat Masih Terjadi?”, oleh: Pdt. Kuntadi Sumadikarya, M.Th., dalam buku PAINDRA II, Mujizat non sinoptik dalam perjumpaan dengan Yesus.

Comments