Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Optimis, toleran, tapi tidak utopian

diposting pada tanggal 12 Agt 2011 08.46 oleh Essy Eisen   [ diperbarui12 Agt 2011 08.48 ]
Yesaya 56: 1, 6-8

Kadang-kadang Perjanjian lama dipandang sebagai kumpulan tulisan yang chauvinis (mengutamakan bangsa tertentu) dan tidak toleran. Ada banyak contoh dalam Perjanjian Lama tentang perang dan pembantaian yang kelihatannya direstui dan bahkan diperintahkan oleh Allah sendiri. Perang-perang itu didorong oleh motivasi kebangsaan dan keagamaan yang sempit, yang menempatkan orang-orang di luar bangsa dan agama Israel atau Yahudi sebagai musuh yang patut dihabiskan dari muka bumi.

Namun, mereka yang berpandangan demikian barangkali kurang dalam dan luas pemahamannya tentang Perjanjian Lama. Tidak dapat kita pungkiri memang ada bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang kelihatan tidak toleran. Akan tetapi, ada juga bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang memberikan warna yang berbeda.

Yes 56, misalnya, menunjukkan kepada kita betapa Allah Israel bukan illah sempit yang terbatas oleh ikatan suku dan geografis. Dewa-dewa sembahan bangsa-bangsa sekitar Israel adalah illah-illah suku yang hanya dikenal oleh suku bangsa tertentu. Bahkan, ada kepercayaan bahwa dewa-dewa itu juga terikat tempat tertentu. Mereka tidak punya kuasa di luar wilayah suku penyembahnya. Dewa-dewa itu hanya bisa menerima persembahan atau korban yang sangat khusus, yang tidak bisa dipersembahkan oleh suku-suku lain. Dewa-dewa itu hanya mau menerima persembahan dari umat atau sukunya sendiri. Selain itu, dewa-dewa tersebut hanya dibayangkan memiliki kepedulian yang sempit. Mereka hanya pedui pada umat yang menyembahnya, tidak kepada umat-umat lain.

Allah yang diperkenalkan oleh Yesaya adalah Allah yang berbeda jauh dari dewa-dewa lokal di Timur Tengah pada masa itu. Sekalipun Bangsa Israel sedang dirongrong oleh bangsa-bangsa lain dan ibadah kepada Allah terancam karena bangsa-bangsa lain itu akan memaksakan kepercayaan mereka kepada orang Israel, Allah tetap mau memandang bangsa-bangsa lain bukan sebagai musuh untuk selamanya. Allah tetap optimis. Ia memandang bangsa-bangsa lain suatu hari nanti juga akan datang menyembah dia di Bukit Zion, bukan hanya bangsa pilihan, Israel. Biarpun kita tahu dari catatan sejarah bahwa Bukit Zion dan Bait Allah akhirnya dihancurkan oleh tentara asing, Allah tetap optimis. Ia menolak untuk memandang orang-orang asing sebagai musuh bebuyutan dengan dendam kesumat yang tak akan pernah luntur. Allah tetap melihat kebaikan yang ada dalam hati bangsa-bangsa lain, yang mungkin pada saat itu terlihat jahat, tetapi suatu hari nanti bisa jadi berubah baik.

Lebih dari sekedar optimis akan potensi kebaikan bangsa-bangsa lain, Allah melihat bahwa suatu hari nanti, umat pilihanNya, Israel, akan bergabung dengan bangsa-bangsa lain untuk menyembah Dia. Ia membayangkan dunia yang tidak lagi disekat oleh ikatan suku dan geografis. Ia optimis bahwa suatu hari nanti bangsa-bangsa bisa berdamai dan saling menerima satu sama lain. Allah bahkan mau berkenan akan persembahan yang dibawa oleh bangsa-bangsa lain, bukan hanya persembahan-persembahan halal ala Israel. Allah bersedia mendengarkan doa siapa saja, tanpa batas. Allah jauh lebih toleran daripada siapapun juga di dunia ini. Ini bukan berarti bahwa Allah akan sembarangan saja. Dalam Yes 56: 6 diutarakan bagi orang-orang asing yang ingin datang bergabung dengan Dia, perlu ada tujuan yang sama. Tujuan itu antara lain: melayani Dia, mengasihi nama TUHAN dan menjadi hamba-hambaNya. Sekalipun optimis dan toleran, Allah tidak utopian (mengada-ada). Ia tahu bahwa tetap akan ada orang-orang yang tidak mau melayani Dia, tidak mau mengasihi Dia dan tidak mau hidup menjadi hambaNya. Ia bahkan agaknya sadar betul bahwa dari antara umat pilihanNya, akan ada yang tidak mau hidup dengar-dengaran denganNya. Namun, bagi mereka yang mau, entah dari latar belakang apapun, Allah tidak akan menolak mereka. Apakah kita telah menjadi orang yang melayani Dia, mengasihi namaNya dan menjadi hambaNya? Apakah kita juga bersedia menyambut semua orang yang mau melakukannya tanpa membeda-bedakan?

(Agustian N. Sutrisno)
Comments