Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Ortodoks, Ortokardia, Ortopraksis

diposting pada tanggal 11 Feb 2011 06.02 oleh Essy Eisen   [ diperbarui18 Feb 2011 03.04 ]
Mat 5: 21-37

John Stott, penulis Kristen yang kenamaan, pernah menyinggung masalah ortodoks, ortopraksis dan ortokardia dalam salah satu bukunya. Apa maksud dari tiga kata berawalan “orto” tersebut?

Orto berasal dari kata Yunani “orthos” yang artinya “lurus”. Kata “ortodoks” berarti “pendapat yang lurus”. Dalam konteks gereja, ortodoks berkaitan dengan ajaran yang benar. Ini sangat penting. Tentunya kita tidak ingin dicap sesat. Kita perlu mengikuti ajaran yang benar, yang lurus dan tidak menyimpang ke kanan atau kekiri.

Kaum Farisi dan Ahli Taurat pada zaman Yesus sangat mementingkan ajaran yang lurus ini. Bagi mereka ajaran yang lurus itu diterjemahkan dalam bentuk peraturan-peraturan atau hukum yang patut dipatuhi oleh semua orang Yahudi yang ingin digolongkan sebagai penganut ajaran yang benar.

Bagi Yesus mengikuti hukum dan peraturan tentu baik. Yesus mengatakan Ia datang untuk menggenapi Hukum Taurat, bukan untuk membatalkannya (Mat 5: 17). Namun, ketaatan yang membuta akan hukum terkadang membuat manusia lupa makna terdalam dan semangat awal dari sebuah hukum. Inilah yang agaknya Yesus kuatirkan dalam Khotbah di Bukit-Nya.

Dalam Mat 5: 21, misalnya, Yesus memperluas makna membunuh. Membunuh memang berarti mencabut dengan sengaja nyawa seseorang dan Taurat memang dengan jelas mengatakan “Jangan membunuh” dan barangsiapa yang membunuh akan tertimpa hukuman. Akan tetapi, menurut Yesus perintah jangan membunuh tidak berhenti hanya pada masalah hilangnya nyawa orang lain. Akar masalah dari membunuh adalah hati yang benci kepada orang lain dan hati tidak mau berdamai dengan sesama. Inilah yang patut dicegah dari awalnya, bukan sekedar menghukum orang yang telah membunuh sesamanya. Demikian juga Yesus memperluas definisi berzinah. Berzinah bukan saja terjadi ketika tertangkap basah melakukannya tetapi juga ketika hati mulai dipenuhi hawa nafsu.

Untuk mengatasi masalah pembunuhan dan perzinahan, Yesus memandang bukan saja ajaran yang benar atau hukum yang benar yang perlu ditegakkan. Hati manusia itulah yang perlu diluruskan. Itulah makna “ortokardia” yang berarti “hati yang lurus.” Hati manusia perlu diubah dan dikendalikan supaya tetap lurus.

Ajaran yang benar, yang tidak sesat, tentu sangat perlu, tetapi tidak akan lengkap jika tidak disertai perubahan hati manusia-manusia yang menganut ajaran yang lurus. Rasanya ada banyak orang yang tahu ajaran yang benar, yang mengerti peraturan, tetapi toh tetap melanggarnya. Ini agaknya terjadi karena hati-nya tidak berubah, hanya logika dan pemahamannya yang diluruskan. Tidak mungkin, oleh karenanya, orang yang hidupnya memiliki ortokardia atau hati yang lurus akan tega menghilangkan nyawa orang lain yang menganut ajaran yang tidak lurus.

Yesus mengundang kita semua pada pertobatan yang sejati—yang tidak sekedar berarti dapat mengikrarkan Pengakuan Iman dengan sempurna dan menjelaskan maknanya secara tepat. Yang lebih penting lagi adalah kemauan hati untuk hidup sesuai dengan Pengakuan Iman. Dari hati yang lurus dan ajaran yang lurus, akan lahir satu kelurusan lagi—ortopraksis, yaitu praktik hidup yang benar. Apalah gunanya jika sudah tahu ada ajaran yang benar dan sudah punya niat melakukan hal yang benar, tetapi tidak dilakukan?

Ketiganya amat penting dalam hidup Kristen. Tanpa ajaran yang lurus, hati yang lurus dan kehidupan yang dijalani dengan lurus, maka tidak akan tercapai keutuhan hidup. Sebaliknya, yang terjadi adalah lain di pikiran, lain di hati dan lain di tindakan. Dengan kata lain, kemunafikan. Dan Yesus berkata, “Celakalah kamu...hai kamu orang-orang munafik!”


Agustian N. Sutrisno
Comments