Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Pemimpin sebagai hamba

diposkan pada tanggal 9 Sep 2010 06.07 oleh Essy Eisen   [ diperbarui9 Sep 2010 06.08 ]

Kepemimpinan Gerejawi = Kepemimpinan sebagai Hamba

Beberapa Inspirasi dari Alkitab dan Teori Kepemimpinan

 


Hamba?

 

Dalam budaya manusia pada umumnya, “menghamba” tidak begitu dihargai. Orang-orang lebih berusaha untuk menjadi orang yang menekan, bukan ditekan. Kecenderungan yang kerapkali muncul, adalah bahwa banyak orang ingin dilayani kebutuhan-kebutuhannya; dan tidak begitu antusias untuk menyingkirkan kepentingan mereka sendiri untuk melayani orang lain. Hamba/pelayan/babu/budak sama-sama memberikan nuansa arti yang merendahkan, kata yang sepertinya kurang mengenakkan dan mengimplikasikan rendahnya harga dan nilai-nilai diri. Berhadapan dengan konotasi demikian yang dapat kita jumpai pada budaya umumnya, mungkin akan membantu bila dikembangkan sebuah perspektif alkitabiah tentang hamba. Alkitab, ternyata meletakan “hamba” dengan penerangan yang sama sekali berbeda.

 

 

Kehambaan di dalam Alkitab[1]

 

Di dalam Perjanjian Lama

            Ada dua hal utama yang berkaitan dengan “hamba” yang diidentifikasikan oleh Perjanjian Lama (PL). Pertama, adalah bangsa Israel sendiri; yang kedua adalah mesias yang dijanjikan. Gambaran bangsa Israel sebagai hamba sebagian berkaitan dengan tujuan pemilihan Allah atas Israel. Namun yang penting untuk diketahui adalah sebutan “hamba”, menunjukan tentang seorang yang kepadanya Allah telah membentuk dengan perhatian yang khusus dan yang kepadanya Allah bahkan mengkomitmenkan diri-Nya. (bnd. Yes.44:1-2).

            Penyebutan “hamba” oleh Allah bukanlah sebuah panggilan yang terkesan inferior! Hamba Allah selalu istimewa bagi-Nya. Meskipun Israel gagal dalam panggilannya sebagai hamba, komitmen Allah kepada mereka tidak pernah terguncang, dan Dia malah menjanjikan pembaharuan kepada mereka.

            Figur hamba yang paling dominan dalam PL memang bukanlah Israel, melainkan Sang Mesias. Suatu hari, begitu kata PL, seseorang akan datang, dan Ia akan menjadi Hamba bagi Allah. Dengan sempurna Ia akan melakukan kehendak Allah, dan melalui ketaatan-Nya para “tawanan” akan mendapatkan “pembebasan”. Yesaya 42:1-4 memberikan gambaran yang lengkap tentang Hamba ini.[2]

          Hamba yang digambarkan di sini adalah hamba yang mampu menyenangkan Allah. Dia dianugerahi dengan Roh, menghidupi kehidupan dengan tenang dan lembut, dan berkarya demi lahirnya sebuah keadilan. Walaupun memang, penolakan-penolakan Ia temui, namun ia tidak pernah mundur atau gagal, melainkan terus memperjuangkan tujuan pemanggilan-Nya hingga berhasil keluar sebagai pemenang.

          Kepada Kristus sang Hamba, dan kepada semua hamba yang menjadikan Kristus sebagai teladannya, Allah berjanji:

 

“Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,...

 

          Kehambaan sebagaimana digambarkan di dalam PL bukan sebuah jalan hidup yang menarik. Ada harga yang tinggi yang mesti dibayar. Ini dapat dilihat secara garis besar dalam sketsa Kristus sang Hamba, yang digambarkan oleh Yesaya:

 

dipilih oleh Allah (42:1; 49:1) dan diberikan Roh (42:1); diajar oleh Allah (50:4), dan menemukan kekuatan didalam Allah (49:2, 5). Merupakan kehendak Allah, ketika dia harus menderita (53:10); dia lemah, tidak meyakinkan, dan dicaci-maki orang-orang (52:14; 53:1-3, 7-9), tetapi ia penurut (42:2), setia (42:3). dan tidak mudah menggerutu (50:6; 53:7), walaupun tidak bersalah, (53:9) dia dtimpakan penderitaan (50:6, 53:3,8-10),direndahkan sampai hampir putus asa (49:4), kepercayaan dan harapannya tetap kepada Allah (49:4; 50:7-9); dia patuh kepada Allah (50:4-5) dan diteguhkan (50:7) sampai dia menang (42:4; 50:8,9).[3]

 

Meskipun demikian, kehambaan adalah panggilan yang khusus yang melibatkan hubungan perjanjian yang intim dengan Allah. Sebuah hubungan yang bukan merupakan kepatuhan yang dipaksakan kepada majikan yang “galak”, melainkan sebuah kesediaan seorang hamba untuk berkomitmen kepada Tuannya sebagaimana Tuannya itu juga telah berkomitmen kepadanya.

          Imamat 25 dan Keluaran 21 memberikan kepada kita sebuah “pengendalian” hubungan antara hamba/budak dengan tuannya. Dalam kitab Imamat diperlihatkan tentang saudara sebangsa Israel yang jatuh miskin dan menjual dirinya kepada saudaranya yang lebih makmur. Di dalam hubungan itu ia tidak boleh melayani sebagai budak, melainkan: “Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang,...”(Im.25:40). Meskipun demikian penghambaannya terbatas. Pada tahun Yobel (tahun ketujuh pada kasus ini) ia harus dibebaskan untuk kembali ke tanah dan keluarganya sendiri. Tetapi, sebagaimana kitab Keluaran menyatakan, hamba/budak itu dapat mengembangkan hubungan yang cukup signifikan selama masa pelayanannya. Jadi “jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata: Aku cinta kepada tuanku, kepada isteriku dan kepada anak-anaku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka,...” maka dengan pilihan hamba itu sendiri “...ia bekerja pada tuannya untuk seumur hidup.” (Kel.21:5-6).

          Kisah ini dapat dipararelkan demikian: orang yang terpanggil untuk melayani adalah orang yang sudah keluar dari kekosongan diri dan kemakmuran hidupnya (yang membawa hidupnya untuk dirinya sendiri), ketika ia datang kepada Dia yang memiliki sumber yang tidak terbatas. Sebuah pilihan telah diambil, yaitu untuk melayani-Nya. Setelah waktu bergulir untuk merasakan apa arti pelayanan sebenarnya, sepertinya ia akan menghadapi pilihan baru: Akankah ia percaya kepada sumber-sumber ke-aku-an dirinya semata-mata ataukah ia bersedia mengikatkan diri lebih jauh kepada Tuan yang ia kasihi? Ketika memilih “menghamba”, maka sebenarnya, setiap orang percaya termasuk pemimpin gerejawi di dalamnya sepatutnya telah dianggap mengambil komitmen yang tidak dipaksakan untuk melayani Tuhan seumur hidupnya.

          Ini merupakan sifat perjanjian dari hubungannya dengan Allah sebagai hamba. Allah telah membentuk dan memanggilnya untuk menjadi pemimpin Gereja-Nya, dan Allah juga telah mengkomitmenkan diri-Nya untuk menyertainya senantiasa. Sebaliknya, ia mengkomitmenkan diri untuk melayani-Nya.

 

Di dalam Perjanjian Baru

          Kita mendapakan inspirasi tentang kehambaan di dalam Perjanjian Baru (PB) melalui kitab Injil-injil dan dari teladan Yesus. Dalam kenyataannya, Yesus memang adalah teladan utama dari kehambaan: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk.10:45). Orang yang terpanggil untuk melayani-Nya, terpanggil juga untuk mengikuti gaya hidup-Nya.[4]

          “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara..” demikianlah Yesus menginstruksikan kepada murid-murid-Nya dan kepada orang banyak ketika mengekspose keculasan spiritual kepemimpinan orang-orang Farisi. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat. 23:8-12)

          Pada suasana yang bersifat pribadi dengan murid-murid, Yesus memberikan keteladanan melebihi kata-kata semata. Di dalam sebuah ruangan, Yesus berlutut kepada mereka dan dengan air di basi membasuh kaki mereka, lalu menyekanya dengan lenan. Kedua belas murid itu sepatutnya malu. Tidak patut Tuan mereka melakukan itu, tetapi Yesus memaksa, dan setelah selesai Ia bertanya kepada mereka:

 

“Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.” (Yoh.13:12-17) 

 

          Di dalam Kerajaan Allah yang diplokamirkan Yesus, dan di dalam persekutuan-Nya dengan Gereja-Nya, para pemimpin gerejawi adalah hamba yang “membungkuk, membasuh dan menyeka” dalam pelayanannya sebagai hamba yang membersihkan “Tubuh Tuhan”.

 

 

Kepemimpinan (sebagai) Hamba, Teori dan beberapa inspirasi praktisnya.

 

            Pada mulanya, teori Kepemimpinan yang Menghamba (Servant Leadership) di kenal melalui tulisan Robert K. Greenleaf. Ia membangun teori kepemimpinan yang menghamba berdasarkan pembacaan atas cerita Herman Hesse dalam buku Journey to the East yang bercerita tentang sebuah peziarahan spiritual. Melalui cerita ini kita melihat sekelompok orang yang melakukan sebuah perjalanan mistik. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Leo, yang menyertai sekelompok orang tersebut, sebagai seorang hamba yang selalu melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, tetapi juga yang menopang mereka melalui semangat dan nyanyiannya. Ia menjadi seseorang yang kehadirannya menjadi penting bagi kelompok tersebut. Segala sesuatunya telah berjalan dengan baik sampai suatu saat Leo menghilang. Kemudian sekelompok orang tersebut jatuh ke dalam kekacauan dan perjalanan itu pun ditinggalkan karena mereka tidak dapat meneruskan perjalanan tersebut tanpa pelayanan Leo. Sang narator, salah seorang dari kelompok tersebut, setelah beberapa waktu mengembara, akhirnya menemukan Leo. Narator tersebut dibawa kepada Sang Order yang telah mensponsori perjalanan tersebut. Di sana ia menemukan bahwa Leo, yang awalnya ia kenal sebagai pelayan, ternyata merupakan kepala tituler dari Sang Order tersebut, roh penuntun, seorang pemimpin yang besar dan mulia.[5]

            Berdasarkan cerita tersebut, Greenleaf berpendapat bahwa seorang pemimpin sejati pada awalnya adalah seorang hamba. Ia melihatnya pada tokoh Leo yang sebenarnya telah menjadi pemimpin dari mulanya, tetapi ia melakukan pelayanan dan menjadi seorang hamba karena pada dasarnya ia merupakan seorang hamba. Kepemimpinan merupakan sesuatu yang diberikan kepada seseorang yang pada dasarnya adalah seorang hamba. Kepemimpinan merupakan sesuatu yang diberikan atau diasumsikan, dan dapat diambil alih. Sedangkan sifat dasar menghamba merupakan sesuatu yang berasal dari dalam diri manusia, yang bukan diberikan, bukan diasumsikan, dan tidak dapat diambil.[6]

            Greenleaf membedakan secara ekstrim antara pemimpin dahulu (leader-first) dan hamba dahulu (servant-first).[7] Asumsi dasar dari kepemimpinan yang melayani adalah “saya menghamba karena saya adalah pemimpin”. Asumsi ini mengimplikasikan bentuk tindakan altruisme. Kepemimpinan yang menghamba menekankan suatu bentuk tindakan pelayanan, yang berlawanan dari bentuk tindakan kepemimpinan, dari seorang pemimpin. Inilah inti dari kepemimpinan yang meghamba tersebut dan melalui tindakan menghamba, maka seorang pemimpin akan memimpin orang lain agar mampu mencapai kemampuan diri (capable of becoming) baik pemimpin tersebut dan juga pengikutnya. Motivasi dasar inilah yang membedakan teori kepemimpinan yang melayani ini dengan teori-teori kepemimpinan lainnya. Dalam teori ini, seorang pemimpin dituntut untuk dapat memastikan bahwa prioritas kebutuhan tertinggi orang lain sedang dilayani. Cara membuktikannya adalah dengan memperhatikan apakah orang-orang yang dilayani tersebut bertumbuh sebagai pribadi (person)? Selain itu juga melihat apakah mereka, ketika dilayani, menjadi lebih sehat, bijak, bebas, mandiri, dan juga menjadi seorang pelayan? Atau, apakah orang tersebut dapat mengembangkan dirinya mencapai batas kemampuannya? Dan, adakah pengaruhnya bagi masyarakat yang memiliki hak-hak istimewa yang paling sedikit. Akankah mereka beroleh manfaat atau paling sedikit tidak disingkirkan?[8]

            Larry Spears melakukan penelitian terhadap tulisan-tulisan Greenleaf dan menemukan sepuluh sifat utama dari seorang pemimpin yang menghamba, antara lain:[9]

 

a.    Listening. Pemimpin yang menghamba harus mengasah kemampuannya dalam komitmen untuk mendengarkan orang lain.

 

b.    Emphaty. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang memiliki kemampuan mendengarkan dengan empatis.

 

c.    Healing. Kekuatan terbesar seorang pemimpin adalah potensi untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain, yang semangatnya patah dan yang menderita dari berbagai penderitaan emosional.

 

d.    Awareness. Kesadaran menolong pemimpin dalam memahami isu-isu seputar etika dan nilai. Kesadaran memampukan pemimpin melihat segala situasi dalam posisi yang lebih integral dan menyeluruh. Pemimpin yang cakap adalah pemimpin yang selalu sadar dan mudah terganggu.

 

e.    Persuasion. Pemimpin adalah seseorang yang dipercaya orang lain melalui persuasi, daripada menggunakan otoritas kekuasaan dan posisi.

 

f.     Conceptualization. Pemimpin yang menghamba selalu mengasah kemampuannya dalam mengkonseptualisasikan perspektif mereka yang luas sehingga dapat secara mudah dilihat dalam realitas sehari-hari.

 

g.    Foresight. Hampir sama dengan konseptualisasi, seorang pemimpin dituntut untuk mampu meramalkan situasi-situasi yang akan datang yang sulit untuk didefinisikan, tetapi mudah untuk diidentifikasi. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang juga berakar pada intuisi.

 

h.    Stewardship. Penatalayanan merupakan karakter yang berguna bagi seorang pemimpin demi terciptanya masyarakat yang lebih baik.

 

i.      Commitment to the growth of people. Pemimpin yang menghamba percaya bahwa masyarakat bernilai lebih melampaui kontribusi nyata mereka sebagai para pekerja. Oleh karena itu, dalam praktiknya, seorang pemimpin melakukan tindakan nyata dalam kemampuannya untuk memelihara dan mengembangkan para pengikutnya.

 

j.      Building community. Pemimpin yang menghamba mencari dan mengidentifikasikan sebuah alat atau cara untuk membangun komunitas di antara orang-orang di mana ia mengabdi.

 

            Berbagai literatur kepemimpinan dari berbagai penulis kemudian dipengaruhi oleh teori kepemimpinan yang melayani ini. Teori ini menjadi paradigma baru dari kepemimpinan modern. Dari berbagai literatur tersebut, ditemukan setidaknya 20 sifat dasar dari pemimpin yang melayani. 20 sifat dasar ini merupakan pengembangan dari dari karakteristik pemimpin yang melayani dalam tulisan Greenleaf. 20 sifat dasar ini terbagi menjadi 9 sifat fungsional seorang pemimpin dan 11 sifat tambahannya. Sifat-sifat tersebut disebutkan dalam tabel di bawah ini.

 

Sifat/karakteristik pemimpin yang melayani

Sifat Fungsional

Sifat Tambahan

1. Visi (vision)

1. Komunikasi (communication)

2. Kejujuran (honesty)

2. Kredibilitas (credibility)

3. Integritas (integrity)

3. Kompetensi (competence)

4. Kepercayaan (trust)

4. Penatalayanan (stewardship)

5. Pelayanan (service)

5. Visibilitas (visibility)

6. Teladan (modeling)

6. Pengaruh (influence)

7. Pelopor (pioneering)

7. Persuasi (persuasion)

8. Penghargaan terhadap yang lain (appreciation of others)

8. Mendengarkan (listening)

9. Pemberdayaan (empowerment)

9. Pendorong (encouragement)

 

10. Mengajari (teaching)

 

11. Pendelegasian (delegation)

 

 

          Sikap dasar dari pemimpin yang menghamba dapat dilihat baik dalam PL maupun PB. Namun dalam sebuah insiden yang menggemparkan yang dicatat kedua Injil, Yesus menampakan sikap yang lebih jelas tentang gaya kepemimpinan sebagai hamba. Ia tidak hanya memperlihatkan betapa penting “hati” seorang hamba itu, tetapi juga pentingnya “metode” seorang hamba.

          Yakobus dan Yohanes memulai insiden itu dengan mendorong ibu mereka untuk meminta kepada Yesus posisi bagi mereka pada kerajaan yang akan datang kelak. Ketika kesebelas murid yang lain mendengar tentang permintaan ini, mereka sangat marah kepada dua saudara itu. Melihat situasi yang baik untuk sebuah pemberian pengajaran, Yesus memanggil mereka semua untuk membicarakan sifat kepemimpinan dalam persekutuan gereja-Nya. Yesus mengkontraskan gaya serta metode kepemimpinan sekuler dengan gaya serta metode kepemimpinan kepada mereka yang terpanggil untuk memimpin gereja-Nya.

 

“Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat.20:25-28)

 

          Bagian ini menyerang banyak dari pra-anggapan yang begitu melekat dalam diri kita tentang kepemimpinan, dan menolong kita untuk mendefinisikan bagaimana seorang hamba memimpin. Di bawah ini adalah beberapa kontras yang eksplisit maupun implisit di dalam ilustrasi yang digunakan Yesus.

 

-      Hubungan dengan yang dipimpin

Bagian di atas (Mat.20:25-28) menyatakan dengan jelas: pemimpin adalah yang “menguasai/mengatasi” yang dipimpinnya. Tetapi hamba berada dalam posisi “di antara”. Seseorang tidak dapat menjadi pemimpin yang menghamba jika posisinya atau peraturannya atau sikapnya berupaya untuk mengangkat dirinya di atas yang lain dan membuat perbedaan antara dirinya dengan orang-orang percaya lainnya (: anggota jemaatnya).

 

-      Perintah

Pemerintah-pemerintah “memerintah atas” dan “menjalankan kekuasaan” kepada yang dipimpinnya. Ini merupakan tipe-pemerintahan yang memerintah, memberitahukan orang lain apa yang harus dilakukan dan mengharapkan kepatuhan mutlak. Tetapi tentu kita bahkan tidak dapat membayangkan bahwa seoarang hamba masuk ke dalam komunitas lalu mulai mengungkapkan banyak perintah, bukan? Oleh sebab itu Tuhan mengungkapkan “Tidaklah demikian di antara kamu.”

 

-      Gaya

Kewenangan memerintah, memberitahukan kepada orang lain apa yang harus dilakukan. Gaya kepemimpinan melibatkan mengeluarkan peraturan-peraturan. Hamba memiliki peran penting dalam sebuah komunitas, untuk melayani. Ketimbang memberitahu, hamba menunjukan. Bukti-bukti, bukan perintah adalah merupakan gaya utama hamba yang memimpin.

 

-      Efek

Kewenangan untuk memerintah dalam pemerintahan sekuler memang memberikan perubahan tingkah laku. Ada rangkaian sangsi-sangsi yang dilakukan oleh para pemimpin sekuler seperti misalnya dalam lingkungan militer, pemerintah, atau dalam bisnisyang ditujukan untuk mencapai kelakuan yang diinginkan. Namun, hamba harus bergantung kepada respon dari dalam kepada yang mereka berikan pengaruh.

 

 

Sekedar Jargon/Slogan-kah?

 

Paradigma Servant leadership atau kepemipinan sebagai hamba ini menjadi sebuah paradigma ajeg yang kini banyak digunakan di berbagai-bagai institusi yang melihat signifikansi fungsional kepemimpinan. Gereja-gereja banyak menggunakannya, termasuk GKI, (formally?)[10] Institusi-institusi profit oriented  (perusahaan-perusahaan besar) juga bahkan telah menggunakan paradigma ini sebagai bahan bina HRD-nya. Apa artinya? Artinya: Ini bisa menjanjikan dan bahaya! Menjanjikan, karena paradigma ini, jika dengan konsisten terinternalisasi, tentu akan membawa perubahan yang signifikan bagi komunitasnya, namun menjadi bahaya, karena kita mesti hati-hati, jangan sampai menjadikan servant leadership sebagai jargon atau slogan saja! Melainkan lebih kepada upaya belajar terus menerus, mengaplikasikan teori-teori dan inspirasi-inspirasi ini dalam ritme sinergis, krirtis dan kreatif dengan dinamika tantangan/situasi nyata yang dihadapi. Semoga makalah sederhana ini memberikan inspirasi bagi orang-orang yang sudah dipanggil dan terpanggil sebagai `pemimpin` Gereja-Nya.

 

***

Referensi:

Artanto, Widi. Menjadi Gereja Misioner dalam Konteks Indonesia. Jakarta: BPK-GM. 1997

France, Robert T. “Servant of the Lord,” The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible,                       ed.Merrill C. Tenney, 5 vols. Grand Rapids: Zondervan, 1975, vol  5

Greenleaf, Robert K. Servant Leadership: A Journey Into the Nature Of Legitimate Power And                    Greatness. Mahwah, NJ: Paulist Press, 1977

Richards, Lawrance O. dan Clyde Hoeldtke. A Theology Of Church Leadership. Grand Rapids:                  Zondervan Publishing House. 1981

Spears,Larry C. “Tracing the growing impact of servant leadership”, dalam Larry C. Spears  (Ed.), Insight  on Leadership: Service, Stewardship, Spirit, and Servant-leadership New York: John Wiley and     Sons, 1998



[1] Disadur dari: Lawrance O.Richards dan Clyde Hoeldtke, A Theology Of Church Leadership, (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1981), hlm. 103-109.

[2] Lihat juga: Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner dalam Konteks Indonesia, (Jakarta: BPK-GM, 1997), hlm. 144-148.

[3] Robert T. France, “Servant of the Lord,” The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible, ed.Merrill C. Tenney, 5 vols. (Grand Rapids: Zondervan, 1975), vol  5, hlm.361.

[4] Lihat juga: Artanto, Op.Cit., hlm. 148-149.

[5] Robert K. Greenleaf, Servant Leadership: A Journey Into the Nature Of Legitimate Power And Greatness (Mahwah, NJ: Paulist Press, 1977), hlm. 21.

                [6] Ibid., hlm., 21-22.

[7] Ibid., hlm., 27.

                [8] Greenleaf, Loc.cit.

                [9] Larry C. Spears, “Tracing the growing impact of servant leadership”, dalam Larry C. Spears (Ed.), Insight on Leadership: Service, Stewardship, Spirit, and Servant-leadership (New York: John Wiley and Sons, 1998), hlm. 4-6.

[10]Lihat saja antara lain dalam pandangan umum dan KUAP BPMSW di Akta PMSW yang mutakhir.

Comments