Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Refleksi atas ucapan-ucapan Yesus yang terakhir

diposkan pada tanggal 9 Sep 2010 06.14 oleh Essy Eisen   [ diperbarui9 Sep 2010 06.15 ]

Refleksi atas ucapan-ucapan Yesus yang Terakhir

 

Jika kita meneropong kejadian penyaliban selama kurang lebih 6 jam sebagaimana dituliskan oleh para penulis Injil, maka kita akan menjumpai rangkaian dari ucapan Yesus yang terakhir di kayu salib. Dalam “deklarasi”-Nya, layaknya edik yang dikeluarkan oleh seorang raja dari takhtanya, kita akan menemukan pemaknaan yang dalam dan berharga bagi kehidupan kita, khususnya dalam kehidupan iman kita.

 

Tiga ucapan pertama, sifatnya horizontal, yakni berkaitan dengan konklusi Kristus dalam hubungannya dengan manusia. Di dalamnya kita menjumpai Yesus Kristus menyatakan:

 

  • Pengampunan (Forgiveness) :“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!” (Lukas 23:34)

 

  • Penebusan (Redemption) :“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43)

 

  • Belarasa (Compassion) : Berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” (Yohanes 19:26-27)

 

Selesai melaksanakan tugas yang berkaitan dengan dunia ini, Juruselamat kita mengalihkan perhatian-Nya kepada hal yang surgawi, kepada tugas mulia yang ditekuni-Nya. Ke empat ucapan terakhir-Nya bersifat vertikal, dalam upaya berhubungan dengan Bapa-Nya ketika meniti karya penebusan di kayu salib Kalvari. Keempat ucapan-Nya ini mengekspresikan aspek spiritual dari karya Kristus yang dijalaninya melalui serangkaian tahapan. Di dalamnya kita menjumpai Yesus Kristus mengidentifikasikan dirinya dalam pengalaman:

 

  • Pengabaian (Abandonment) : “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46)

 

  • Kesiapan (Readiness) : “Aku haus!” (Yohanes 19:28)

 

  • Pemenuhan (Fulfillment) : “Sudah selesai.” (Yohanes 19:30)

 

  • Kerelaan (Release) : “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Lukas 23:46)

 

Marilah kita telaah, pemaknaan dari masing-masing ucapan terakhir Yesus itu.

 

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!”

(Lukas 23:34)

 

Dengan mengucapkan ini Tuhan Yesus memenuhi nubuat Yesaya dalam Yesaya 53:12; “..dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak,..” Doa itu untuk orang-orang yang dengan kejam mengirimkan-Nya menuju kematian. Tidak jelas apakah “mereka” disini tertuju kepada “orang-orang Yahudi” atau “para prajurit Romawi.” Mungkin keduanya. Prajurit-prajurit Romawi, tidak tahu apa yang mereka perbuat, sebagaimana mereka telah menolak-Nya sebagai Anak Allah dan hanya taat kepada perintah atasan mereka. Orang-orang Yahudi sadar, bahwa Yesus “tidak bersalah” dan kepada mereka juga sudah diperlihatkan banyak bukti bahwa Yesus adalah Mesias, tetapi mereka tidak melihat itu; mereka mengabaikannya, mereka tidak tahu apa yang akan menjadi dampak dari tindakan mereka yang telah keliru; mereka tidak tahu akan penghakiman yang akan mereka terima terhadap bangsa mereka. Tetapi Tuhan Yesus tetap mau mengasihi mereka dan mendoakan mereka.

 

Dari ucapan ini dapat digali pemaknaan:

 

  1. Panggilan untuk mendoakan musuh-musuh kita, orang-orang yang membenci bahkan menganiaya kita.
  2. Yang kita doakan bagi mereka yang memusuhi, membenci, menyakiti kita adalah agar Allah mengampuni mereka dan memberikan kepada mereka hati dan pikiran yang jernih.
  3. Kekuatan dan keluhuran Kekristenan. Tidak ada agama yang “mengajarkan” orang untuk mendoakan pengampunan bagi musuh. Nilai-nilai dunia mengajarkan agar “menuntut balas;” Kekristenan sebaliknya, mengajarkan bahwa kebencian dan aniaya harus didekati dengan kesabaran, dan dalam doa-doa permohonan kepada Allah agar Allah mengampuni mereka yang telah melukai mereka dan lalu menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka.
  4. Pendosa-pendosa kelas berat, melalui doa Yesus, dapat beroleh pengampunan. Allah mendengarkan-Nya, dan selalu akan mendengarkan-Nya, dan tidak ada alasan untuk ragu bahwa banyak “musuh-musuh-Nya” dan “pembunuh-pembunuh-Nya” memperoleh pengampunan dan kehidupan yang baru. (Bandingkan Kis 2:37, Kis 2:42-43; Kis 6:7; Kis 14:1)

 

Renungkanlah, apakah kita masih memelihara perasaan dendam yang akan membusukkan hati kita? Berdoalah kepada Allah dan mohonlah agar kita dapat melepaskan segala hal yang tidak dapat kita kuasai dan mau belajar mengampuni.

 

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga

engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”

(Lukas 23:43)

 

Yang termulia yang Yesus berikan melalui kematian-Nya ialah penebusan dan pemulihan dengan mengampuni dosa-dosa dunia. Yesus disalibkan di antara dua penjahat dan melalui mereka diperlihatkan kepada kita tanggapan berbeda atas salib Kristus yang dipilih oleh manusia. Yang satu bersikukuh dengan keberdosaannya sampai akhir. Yang satu mau melembutkan hatinya pada akhirnya, dan ia menjadi monumen bagi kita akan pemberian anugerah ilahi yang tiada bertara dari Allah.

 

Menjadi sangat jelas bahwa tidak ada kata terlambat untuk bertobat dan berubah. Tidak ada seorangpun yang tahu pasti bahwa mereka memiliki waktu untuk bertobat pada saat jam kematian menjemput, tetapi setiap orang tahu pasti bahwa mereka tidak mendapatkan kesempatan yang mengagumkan sebagaimana yang dimiliki oleh penjahat yang menyadari keberdosaannya ini. Kita mesti melihat kasusnya secara singular, jika kita mengobservasi dampak yang tidak biasa dari Anugerah Allah terhadap penjahat ini. Ia menegor penjahat yang menghujat Yesus. Ia merasa bahwa ia patut menerima hukuman salib itu. Ia mengetahui dan percaya bahwa Yesus sudah menderita secara tidak wajar. Perhatikan imannya dalam doanya. Kristus pada waktu itu sedang berada di dalam keadaan yang ditinggalkan begitu rupa. Dan penjahat yang bertobat itu, menyatakan keyakinannya sebelum segala keagungan kebangkitan diperlihatkan, yang mana ia telah melihat keagungan dalam penderitaan Kristus. Ia percaya akan hidup yang baru yang akan dijelangnya, dan merindukan untuk mendapat kebahagiaan sejati di dalam hidup itu, dan kebahagiaan itu hanya bisa didapatkan melalui salib Kristus. Keyakinan ini tidak dimiliki oleh penjahat yang satunya. Perhatikan kerendahan hatinya di dalam doanya. Yang ia minta hanyalah “Yesus, ingatlah akan aku.” Ia merendahkan diri dalam pertobatan sejati. Kristus di atas salib, penuh kasih karunia sebagaimana Kristus ada di atas takhta. Meski Ia ada dalam pergumulan berat, Ia memiliki belas kasihan kepada petobat yang butuh pengharapan. Dengan tindakan kasih ini kita mengetahui bahwa Yesus Kristus mati untuk membuka Kerajaan Sorga bagi semua petobat, orang percaya yang taat.

 

Dari ucapan ini dapat digali pemaknaan:

 

  1. Segera sesudah kematian – pada hari yang sama - jiwa dari orang yang benar akan berbahagia. Mereka akan merasakan ketenangan; mereka akan diterima bersama-sama dengan orang-orang yang adil dan benar; dan mereka akan mendapatkan jaminan kepastian kekekalan yang mulia.
  2. Keadaan itu akan berbeda bagi mereka yang hidup dalam kesesatan, penolakan dan kejahatan. Janji Kristus diberikan kepada penjahat yang bertobat, dan tidak ada bukti apakah yang satunya lalu juga ikut masuk bersama-sama dengan Kristus. (Perhatikan juga parabel orang kaya dan Lazarus, dalam Lukas 16:19-31)

 

Renungkanlah, apakah kita sungguh-sungguh telah menerima dan menghidupi kepercayaan yang benar akan janji-janji yang Allah sediakan melalui salib Kristus, pengampunan-Nya yang menyelamatkan, yang memanggil kita untuk hidup dalam pertobatan sejati?

 

 

 

Berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!”

Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”

(Yohanes 19:26-27)

 

Murid yang dimaksud oleh Yesus dalam ucapan ini adalah Yohanes, penulis Injil Yohanes. “Ibu, inilah anakmu!” adalah ekspresi yang mengaggumkan, dan kerap dapat banyak disalahartikan. Ungkapan ini tidak bermaksud memberikan kesan tidak hormat, atau ketidakpedulian, sebagaimana umumnya dianggap. Untuk memanggil seorang laki-laki dewasa atau perempuan dewasa, panggilan “ibu” atau “bapak” merupakan panggilan yang menunjukkan hormat. Dalam kesempatan ini Yesus berkata “inilah anakmu!” ini merupakan kata-kata yang berangkat dari hati terdalam, dengan kata lain ungkapan itu dapat ditafsirkan: “Perhatikanlah bahwa laki-laki yang tersalib ini tidak lagi dapat hadir sebagaimana halnya relasi darimu; tetapi terimalah murid itu yang kepadanya kekuatan dan kekuasaan-Ku akan melindungimu dari yang jahat, sebagai anakmu; dan seperti ia akan menerima engkau sebagai ibunya, terimalah ia juga sebagai anakmu.”

 

Besar kemungkinan kepercayaan yang diberikan Yesus kepada murid-Nya untuk menerima ibu-Nya karena ia adalah satu-satunya murid yang meninggal dengan cara yang alamiah. Allah memelihara kehidupannya dalam kaitan dengan tugasnya memelihara orang yang dipercayakan kepadanya. Sangat besar kemungkinan juga Yusuf sudah meninggal sebelum kejadian ini; dan mungkin inilah alasan mengapa ibu-Nya dipercayakan kepada murid yang dikasihi Yesus itu. Maria miskin. Mungkin ia tidak memiliki rumah pada waktu itu. Yesus, pada momen terakhir kematian-Nya, menunjukkan penghargaan yang besar kepada ibu-Nya.

 

Betapa ini menjadi contoh kasih yang besar! Betapa ini menjadi model untuk anak-anak yang memiliki orangtua di dunia ini!  Terkadang, ketika Allah memanggil seseorang yang dekat dengan kita, ia akan memberikan yang baru untuk kita pada saat kita tidak mengharapkannya. Keteladanan Kristus mengajarkan kepada semua orang untuk menghormati orangtuanya disepanjang kehidupannya; memenuhi kebutuhan mereka, dan memberikan yang terbaik untuk kebahagian mereka dengan segenap kekuatan yang dimiliki.

 

Renungkanlah, pada saat kita menderita, apakah kita hanya mementingkan diri sendiri saja? Mohonlah kepada Allah agar Ia memampukan kita untuk memiliki hati yang tidak mementingkan diri sendiri saja, melainkan juga untuk mau melihat dan merawat orang lain yang menderita.

 

“Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku,

mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

(Matius 27:46)

 

Di dalam teror yang dihadapi-Nya Kristus berseru dengan suara nyaring. Penolakan yang diterima-Nya dari orang-orang yang telah menyerahkan-Nya disejajarkan dengan sosok dari seorang yang ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Ungkapan ini mewakili orang berdosa yang putus asa, meskipun Yesus tidak pernah berdosa. Yesus merasakan beban berat, keterasingan, kesendirian dalam keheningan dan “penolakan” Bapa-Nya, dan Ia mengalami sebuah hal baru. Ia benar-benar sendiri. “Berada antara Sorga dan Dunia, tetapi ditolak keduanya.”

 

Namun dalam kesendiriannya itu makna yang tercipta begitu dalam. Bahwa betapa dekat sebenarnya Ia dengan kita! Ia mengidentifikasikan diri-Nya sendiri dengan “kemiskinan persaudaraan” dari umat manusia. Ia datang mendampingi kita tidak hanya kala kita harus menghadapi sakit dan ketidakberuntungan, penderitaan dan kematian, tetapi juga kala kita mengalami sakit yang melebihi segala sakit, dan bahkan horor yang menakutkan yaitu tatkala tatanan semesta tanpa kehadiran Allah, tatanan dimana tiada tempat untuk berlari, dipenuhi dengan ketidakjelasan begitu rupa, di mana tidak dijumpai alasan yang jelas yang akan memberikan petunjuk dan kasih untuk menopangnya. Tuhan Yesus sudah mengalami itu. Tuhan mengidentifikasikan diri-Nya sendiri dalam pola keterasingan terdalam yang mungkin akan dialami oleh sejumlah besar manusia.

 

Renungkanlah, Demi kita Kristus ditinggalkan. Mohonlah kepada Allah agar kita dapat melepaskan dengan rela pertanyaan-pertanyaan “mengapa” yang tak terjawab dalam kehidupan kita, agar kita dapat menemukan damai pada saat menyadari bahwa Sungguh Dialah Allah kita.

 

 

 

 

“Aku haus!”

(Yohanes 19:28)

 

Bagian Kitab Suci yang merujuk kepada tindakan Yesus yang meminum anggur asam adalah Mazmur 69:22. Beban yang sudah ditanggung-Nya, dera yang sudah dialami-Nya, teriknya panas surya hari itu, dan keluarnya banyak darah adalah sebab alamiah dari rasa haus. Hal-hal itu akan ditempuh-Nya tanpa keluhan; namun Ia memilih untuk menunjukkan kepada mereka bukti yang penuh dari keberadaan-Nya sebagai Mesias, dan Ia menandakan dengan jelas betapa segala sesuatu yang ditempuh-Nya tertuju kepada Sang Mesias, yang sudah dituliskan dalam kitab nabi-nabi, yang semuanya tergenapi di dalam diri dan karya-Nya.

 

Renungkanlah, apakah kita telah merasakan dahaga yang tulus untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi?

 

“Sudah selesai.”

(Yohanes 19:30)

 

Apa yang sudah terselesaikan? Sudah selesai; segala jenis nubuatan dalam Perjanjian Lama, yang merujuk kepada penderitaan Mesias. Sudah selesai; segala tata upacara keagamaan dibatalkan; substansi baru kini hadir, dan segala bayang-bayang kebimbangan lenyap. Sudah selesai; titik akhir yang membawa kepada kebenaran abadi telah dibuat. Penderitaan-penderitaan-Nya sekarang selesai, baik jiwa dan tubuh-Nya. Sudah selesai; karya penebusan yang menyelamatkan purna adanya. Kristus menahbiskan Kerajaan Allah yang diberitakan-Nya dan mewujudkan tatanan dunia yang baru.

 

Renungkanlah, betapa kita tidak akan pernah dapat menambahkan sesuatu pada apa yang telah Yesus lakukan bagi kita. Keselamatan kita telah dikerjakan-Nya dengan sempurna. Mohonlah kepada Allah agar kita terus dapat mengenal sukacita anugerah yang diberikan-Nya pada saat kita melayani-Nya.

 

 

“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Lukas 23:46)

 

Yesus mati dengan mengucapkan Mazmur 31:6 di bibir-Nya. Setelah menuntaskan segala sesuatunya, Yesus menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya. Ia menyerahkannya kepada Bapa-Nya, sebuah kata-kata terakhir yang sebenarnya juga telah mewarnai seluruh kehidupan-Nya. Yesus mati dalam iman kepada Allah; dan bukan kematian yang terpisah dari Allah. Sementara itu tirai alam raya tertutup — mengiringi kepergian yang sudah menciptakannya. Kegelapan menutupi area itu. Tetapi pada sisi lain, Allah mewujudkan diri-Nya — tirai Bait Allah terbelah dari atas sampai ke bawah. Jalan menuju kepada ruang mahakudus tidak lagi terhalang. Dosa yang menghalangi jalan menuju “ruang mahakudus” itu, karena kasih karunia sejati yang bersinar memampukan kita pada akhirnya menemukan terang sejati, keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Persekutuan kita dengan-Nya nyata melalui pengurbanan yang sudah dilakukan Kristus.

 

Renungkanlah, apakah kita telah menyerahkan segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan kita ke dalam tangan-Nya? Mohonlah kepada Allah, agar Ia senantiasa mengajarkan kepada kita untuk melaksanakannya setiap hari, dan agar Ia memberikan kepada kita kehendak untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

 

 

Essy Eisen

 

Comments