Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Sampah, semuanya sampah saja

diposting pada tanggal 2 Okt 2011 10.23 oleh Essy Eisen   [ diperbarui2 Okt 2011 10.25 ]
Filipi 3: 4b-14

Apa yang Saudara telah tinggalkan demi mengikut Tuhan Yesus? Kalau Rasul Paulus ditanyakan hal ini, jawabannya tertera jelas dalam Filipi 3. Ia telah meninggalkan semuanya! Reputasi dan nama baiknya di kalangan orang Yahudi telah dibuangnya. Ikatan dengan saudara-saudara seperguruannya di bawah bimbingan Gamaliel sudah putus. Kekayaan? Sudah tidak ada lagi, sampai-sampai ia perlu bekerja sebagai tukang kemah untuk membiayai pekabaran Injilnya. Keamanan? Kalau kita baca II Kor 11: 23-29, kita temukan berbagai kecelakaan dan hukuman yang ditanggung sang Rasul demi mengikut Tuhan dan melaksanakan panggilanNya. Seperti penuturannya sendiri, “Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.”

Tentu Rasul Paulus tidak sendirian, tidak pada zamannya, tidak pula pada zaman ini. Dari antara murid-murid utama Yesus, hanya Rasul Yohanes saja yang tidak menjadi martir. Yang lain semua mati dibunuh demi iman mereka. Nyawa mereka sendiri tidak disayangkan demi mengikut Tuhan. Di masa kini pun kita masih menjumpai kisah-kisah orang yang menganggap semuanya sampah demi bisa memperoleh Kristus. Saya baru membaca berita tentang Pdt. Yucef Nadarkhani yang sedang menunggu eksekusi oleh Pemerintah Iran karena ia telah memeluk Agama Kristen. Saya juga selalu terkesan setiap kali bertemu para misionaris yang didukung oleh jemaat saya di Brisbane. Ada beberapa orang anggota jemaat Emmanuel Uniting Church yang memilih menjadi misionaris di seberang lautan. Ada Christine yang menjadi guru di sekolah Kristen di Senegal. Ia sudah 7 tahun meninggalkan karir dan keluarganya di sini demi memenuhi panggilan Tuhan di Senegal. Ada Anette yang menjadi perawat di Kepulauan Solomon. Dia sudah lama bergumul untuk memenuhi panggilan menjadi misionaris. Awalnya ia ingin pergi ke India, tetapi Tuhan agaknya menunjukkan jalan lain dan ia akhirnya pergi ke Kepulauan Solomon dan meninggalkan kehidupannya di Brisbane demi melayani Tuhan di sana.

Mengapa saya berbicara tentang para martir dan misionaris? Apakah itu satu-satunya cara untuk mengikut Tuhan Yesus? Tentunya tidak. Yohanes Calvin, reformator gereja kita, menganjurkan kita masing-masing untuk mengerjakan yang terbaik untuk Tuhan di tengah-tengah kehidupan kita saat ini dan di sini, bukan di seberang lautan sana dan bukan dengan mencari cara menjadi martir secara sengaja. Memang benar ada orang-orang yang terpanggil khusus untuk melayani Tuhan di seberang sana dan saya berharap agar dari waktu ke waktu ada anggota-anggota jemaat Halimun yang dipanggil untuk pelayanan istimewa itu. Akan tetapi, tidak benar bahwa semua orang harus menjadi misionaris dan martir. Bagi saya, para misionaris dan martir itu menunjukkan sikap iman dan tindakan yang sesuai dengan teladan Rasul Paulus dalam mengikut Tuhan dan melaksanakan panggilanNya. Betul bahwa tidak semua orang perlu menjadi misionaris dan martir, tetapi semua orang Kristen perlu, “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya.”

Lalu bagaimanakah caranya kita bisa menjalankan teladan Rasul Paulus dalam mengikut Tuhan Yesus tanpa menjadi martir dan misionaris? Ada dua buku yang saya sarankan. Yang pertama adalah The Radical Disciple karangan Pdt. John Stott, almarhum. Buku terakhir yang ditulisnya dan sekaligus buku yang dimaksudkan sebagai salam perpisahan dan warisan imannya merangkum apa yang diperlukan untuk menjadi murid Tuhan Yesus di abad ini. Buku ini habis saya baca dalam setengah hari karena bahasanya mudah dipahami dan tidak panjang. Walaupun diberi judul “radical”, buku ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan sikap radikal yang berarti memusuhi agama-agama lain. “Radical” di sini lebih berarti “menyeluruh, mengakar dan tuntas”. Buku kedua yang saya sarankan adalah Callings: Twenty centuries of Christian wisdom on vocation suntingan Prof. William Placher, almarhum. Buku yang kedua ini terus terang memang bukan bacaan ringan. Ini jenis buku yang membutuhkan refleksi dan pemikiran mendalam untuk memahami apa yang dipahami oleh orang-orang Kristen dari segala abad dan tempat tentang panggilan Tuhan dan menghubungkannya dengan kehidupan sekarang ini. Saya tidak sedang berupaya menjual buku. Saudara-saudara boleh meminjam buku-buku ini dari saya. Sayangnya buku-buku ini hanya saya miliki dalam edisi Bahasa Inggrisnya.

Lalu bagaimana dengan yang tidak sempat membaca? Apakah tidak ada pelajaran rohani yang bisa didapatkan? Saya kutip Pdt. Stott di sini, “Our common way of avoiding radical discipleship is to be selective; choosing those areas in which commitment suits us and staying away from those areas in which it will be costly. But because Jesus is Lord, we have no right to pick and choose the areas in which we will submit to his authority.” [Cara yang biasa kita ambil untuk menghindari menjadi murid yang radikal adalah dengan menjadi pemilih; memilih area-area yang sesuai dengan komitmen kita dan menghindari area-area yang menuntut pengorbanan. Namun karena Yesus adalah Tuhan, kita tidak mempunyai hal untuk menentukan dan mememilih area-area tertentu yang akan kita serahkan ke bawah otoritasnya.] Kalau saja kita benar-benar menyerahkan semua segi kehidupan kita kepada Tuhan Yesus seperti yang disarankan oleh Pdt. Stott dan ditunjukkan oleh Rasul Paulus, kita sedang “melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Untuk melakukannya, kita tidak perlu menjadi misionaris dan martir. Namun, kalau sungguh kita coba melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, kita barangkali tidak heran mengapa ada orang yang rela menjadi misionaris dan martir dan mungkin ada di antara kita yang terpanggil pula untuk menyeberang lautan memenuhi panggilan Tuhan.

(Agustian N. Sutrisno)

Comments