Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Selamatkah saya tanpa perbuatan baik?

diposkan pada tanggal 19 Nov 2011 19.37 oleh Essy Eisen   [ diperbarui19 Nov 2011 19.40 ]
Matius 25: 31-46

Tidak, sama sekali tidak. Begitu barangkali pesan Yesus dalam Mat 25: 31-46. Ini tentunya menimbulkan kontroversi di antara kita yang sejak lama diajarkan bahwa keselamatan itu Sola Fide dan Sola Gratia dan tidak boleh disangkut-pautkan dengan amal-amal baik.

Baiklah kita sedikit kembali menggali apa kata Tuhan Yesus dalam Mat 25 ini dan latar belakang semboyan Sola Fide dan Sola Gratia dari Martin Luther. Pertama-tama, Yesus tidak sedang berkhotbah di hadapan kita orang-orang Protestan. Ia sedang berkhotbah di hadapan murid-muridNya yang adalah orang-orang Yahudi. Bangsa Yahudi seringkali percaya bahwa keselamatan itu ditentukan oleh garis keturunan. Pokoknya, selama orang itu orang Yahudi, ia pasti selamat. Ketika hari penghakiman datang, ia tidak akan ditolak Allah. Yang ditolak Allah adalah bangsa-bangsa kafir. Pandangan seperti ini seringkali membuat orang Yahudi merasa benar sendiri dan tidak mempedulikan pentingnya berbuat baik kepada orang lain. Teristimewa, mereka jadi tidak peduli kepada orang-orang asing yang mereka anggap akan masuk penghukuman Allah. Oleh karena itu kita lihat Tuhan Yesus menyamakan diriNya dengan orang asing dalam ayat 35. Ini penting juga untuk diberitakan kepada jemaat Kristen mula-mula yang membaca Injil Matius. Jemaat perdana pembaca Injil Matius terdiri dari orang-orang Kristen Yahudi dan Yunani. Jika mereka ingin tetap menjadi jemaat Kristen yang tidak terpecah-pecah atas dasar kebangsaan, mereka perlu saling menghargai orang lain. Dengan menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sendiri menyamakan diriNya dengan orang asing, Penginjil Matius ingin jemaat tidak terpecah. Toh kalau mereka hanya menolong bangsa mereka sendiri, mereka sesungguhnya sedang mengabaikan Tuhan Yesus dan terancam mendapat hukuman.Dalam pandangan Injil Matius, keselamatan itu bukan soal mendapat hidup kekal saja, tetapi juga soal menjalankan hidup yang saling peduli dan menolong sesame di dunia ini. Hidup kekal bersama Allah yang akan ditandai dengan damai sejahtera harus mulai dipraktikkan sekarang ini, bukan saja nanti.

Kedua, bagi kita orang-orang Protestan telah diajarkan bahwa keselamatan itu merupakan anugerah Tuhan, bukan upaya manusia sendiri. Ini benar sekali. Kita ingat bahwa pada masa hidup Luther di Eropa Abad Pertengahan, orang-orang Kristen beranggapan bahwa mereka bisa mendapat keselamatan karena kebaikan mereka, bukan karena pertolongan Allah. Bahkan, pada masa itu orang-orang kaya bisa membeli surat pengampunan dosa dari gereja, sementara orang miskin kehidupan kekalnya akan dihabiskan dalam penghukuman. Bukankah ini amat ngawur? Pandangan seperti ini tidak bisa didasarkan pada ajaran Yesus di Mat 25. Di situ, Tuhan Yesus sedang mendorong orang-orang untuk saling mengasihi dan mempedulikan sesama, terutama mereka yang paling hina. Sementara, pada Abad Pertengahan, orang-orang kaya berlomba-lomba membeli surat pengampunan dosa untuk dirinya dan keluarganya dan uang yang seharusnya dapat digunakan untuk menolong orang-orang miskin dihabiskan untuk membeli keselamatan. Padahal bukankah di Mat 25 Tuhan Yesus mengatakan dengan mempedulikan orang-orang miskin kita terhindar dari murka Allah? Terhadap kekeliruan pemikiran ini, Martin Luther mengajarkan Sola Fide, hanya iman, Sola Gratia, hanya kasih karunia yang mendatangkan keselamatan, bukan surat-surat pengampunan dosa dan pastinya bukan uang yang digunakan untuk memperoleh pengampunan dosa. Ajaran ini kemudian diperluas untuk menentang anggapan bahwa orang-orang selamat karena upaya mereka sendiri, teristimewa melalui amal-amal baik. Ini juga penting untuk ditekankan, karena jika anggapan bahwa hanya amal baik yang penting, maka Tuhan dianggap tidak penting lagi. Tidakkah sekarang ini di dunia kita temukan orang-orang ateis yang sangat baik dan humanis? Pada masa kini, ajaran Sola Fide dan Sola Gratia tetap penting untuk kita gaungkan.

Jadi selamatkah saya dan saudara tanpa perbuatan baik? Saya rasa pertanyaan itu tidak menjadi relevan. Kalau Kristus dengan kasih karuniaNya sudah mati demi saya dan saudara-saudara di atas kayu salib, mengapa kita meragukan keselamatan kita? Kalau kita tahu bahwa Kristus sangat mengasihi manusia-manusia yang berada dalam kesusahan, mengapa pula kita tidak melakukan perbuatan baik? Pastinya, kita tidak selamat karena status keturunan kita. Kita tidak pula selamat karena banyaknya uang yang bisa kita habiskan untuk membeli pengampunan dosa dan amal baik. Karena keselamatan telah tersedia melalui korban Yesus Kristus, kita perlu mewujudnyatakan keselamatan itu dengan segala perbuatan baik. Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan segala pekerjaan baik (Ibr 10:24).

(Agustian N. Sutrisno)
Comments