Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Semoga lalang menjadi gandum

diposkan pada tanggal 16 Jul 2011 21.42 oleh Essy Eisen
Mat 13: 24-30; 36-43

Belum lama ini saya bercakap-cakap dengan seorang teman dari kelas Pemahaman Alkitab saya. Nathan bercerita sewaktu masih kecil, tetangga sebelah rumahnya adalah penganut Mormonisme. Mormonisme dianggap sempalan Agama Kristen yang sangat sesat karena mereka tidak menerima doktrin-doktrin dasar Kristen. Namun, menurut Nathan, tetangganya itu sangat baik. Sebaliknya, dia mengenal orang-orang Kristen yang sangat jahat.

Dalam Mat 13 dapat dijumpai perumpamaan tentang lalang di antara gandum. Gandum itu adalah anak-anak Kerajaan, sedangkan lalang adalah anak-anak si jahat. Gandum dan lalang itu diizinkan Allah untuk sama-sama bertumbuh, karena Dia tahu kalau lalang dicabut, maka gandum juga akan ikut tercabut. Lalang yang baru tumbuh bentuknya tidak jauh berbeda dari gandum yang baru tumbuh. Oleh karena itu, sebaiknya keduanya dibiarkan terus tumbuh sampai masa penuaian. Ketika itu akan jelas terlihat mana yang gandum dan mana yang lalang, sehingga tidak ada risiko salah mencabut gandum. Demi gandum yang sudah terlanjur ditabur, maka Allah tidak mencabut lalang.

Perumpamaan ini tentunya tidak bisa diterima secara harafiah. Barangkali ada yang menyangka bahwa keengganan Allah mencabut lalang berarti Allah tidak tahu siapa yang merupakan anak-anak si jahat. Tentunya Allah tahu, bahkan sangat tahu siapa yang merupakan anak-anakNya dan siapa yang merupakan anak-anak si jahat. Yang paling menganggumkan dari perumpamaan ini adalah kesabaran Allah. Ia mau menunggu sampai musim panen dan memberi kesempatan yang sama baik bagi gandum maupun lalang untuk tumbuh sempurna. Bisa ditafsirkan bahwa Allah membuka kesempatan bagi anak-anak si jahat untuk bertobat agar mereka terlepas dari dapur api yang menanti mereka di akhir zaman. Di sekeliling mereka toh ada anak-anak Allah yang bisa menjadi contoh. Sekali lagi, kita tidak boleh membacanya secara literal. Kita tahu bahwa lalang tidak akan pernah berubah menjadi gandum. Struktur genetika mereka pada dasarnya berbeda. Namun, pesan perumpamaan ini bukan soal struktur genetika gandum dan lalang. Anak-anak si jahat yang diumpamakan sebagai lalang itu boleh dan bisa bertobat.

Masalahnya adalah pada si gandum atau anak-anak Allah. Apakah mereka cukup baik dan cukup “bercahaya seperti matahari”? Dapatkah mereka diteladani dan ditemukan di tengah hamparan lalang yang bercampur gandum? Walaupun kita mengaku iman tentang “gereja yang kudus dan am”, pada kenyataannya pada masa kini gereja belum sepenuhnya kudus, dalam pengertian bahwa masih ada anak-anak si jahat di tengah-tengah persekutuan gereja, dan ada anak-anak Allah yang terserak di antara perkumpulan anak-anak si jahat. Saat ini, seperti yang dialami Nathan, kita masih berhadapan dengan orang-orang Kristen yang kelakuannya sama sekali tak bisa dipuji, dan orang-orang “sesat” yang perilakunya sangat baik.

Harinya akan tiba waktu semuanya menjadi jelas. Mereka yang memang pada kenyataannya anak-anak si jahat akan dipilah dari mereka yang anak-anak Allah. Sampai pada hari itu, baiklah kita menjadi gandum yang sejati, supaya kesaksian hidup kita menarik banyak lalang untuk menjadi gandum.

(Agustian N. Sutrisno)

Comments