Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Siapa raja yang sejati?

diposkan pada tanggal 4 Mar 2011 02.43 oleh Essy Eisen
Minggu Transfigurasi

Mat 17: 1-13

Suatu ketika di Istana Kerajaan Inggris sedang diadakan pesta. Tiba-tiba, Putri sang Raja berbicara dengan cukup keras kepada seorang tamu. “Kata Ayah saya, dia bukan raja yang sejati. Raja yang sejati ada di gambar itu.” Sang Putri menunjuk pada lukisan Tuhan Yesus yang ada di salah satu dinding istana. Waktu itu Raja George VI berkuasa di Inggris, dan putri yang berbicara itu bernama Elizabeth yang sekarang menjadi Ratu Inggris.

Raja George VI agaknya mengajar putrinya, seorang calon ratu, dengan benar. Yesus-lah raja yang sejati, bukan dirinya dan bukan pemimpin negara manapun lainnya, baik yang bermahkota maupun yang tidak bermahkota.

Bacaan Injil kita hari ini memberikan sebuah gambaran Yesus yang dipermuliakan Allah di atas sebuah gunung. Injil Matius, yang ditulis untuk orang-orang Kristen keturunan Yahudi, menggambarkan peristiwa di atas gunung itu sebagai pemuliaan seperti yang dialami oleh Musa ketika ia berjumpa dengan Allah di atas Gunung Sinai (Kel 34). Seperti Musa yang turun dari gunung dengan wajah yang bersinar-sinar, demikianlah Yesus juga digambarkan berwajah gilang-gemilang hari itu. Suara Allah juga diperdengarkan kepada para murid, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Yesus, sang Rabi dari Nazareth, seorang tukang kayu, melalui peristiwa ini dinyatakan sebagai Anak Allah yang menerima perkenanan Allah dan patut didengarkan. Gambaran ini mudah dipahami oleh para pembaca Yahudi pada Abad I Masehi. Mereka mengerti bahwa penulis Injil ingin menyatakan Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama, dan kepadaNya telah diberikan kewenangan untuk menyampaikan Hukum-Hukum Allah yang baru sebagai pengganti Musa. Peristiwa dua ribu tahun yang lalu ini hanyalah sebuah “cuplikan” pendek tentang kemuliaan Yesus Kristus yang kemudian akan nampak dengan jelas dalam kebangkitanNya dan kenaikanNya ke Sorga. Terlebih lagi, kemuliaan itu akan nyata bagi kita semua ketika Ia datang kembali sebagai raja untuk menghakimi dunia ini.

Namun Sang Raja, Yesus Kristus, tidak sama sekali menyombongkan kuasa dan kemuliaanNya. Sebaliknya, Ia meminta para murid untuk tidak memberitahukan peristiwa ini kepada orang-orang lain (ay. 8). Sang Raja sejati justru rendah hati.

Ketika berita internasional menyorot penguasa-penguasa di Timur Tengah yang enggan turun jabatan walaupun rakyatnya sudah berdemonstrasi habis-habisan, kisah transfigurasi Yesus menjadi sebuah inspirasi dan refleksi. Raja yang sejati tidak mabuk kuasa dan kemuliaan.

Agustian N. Sutrisno
Comments