Teologi Sukses dan Kehidupan Yusuf dalam Alkitab

diposkan pada tanggal 25 Sep 2010 16.04 oleh Essy Eisen   [ diperbarui27 Des 2010 10.22 ]

Teologi Sukses dan Kehidupan Yusuf dalam Alkitab[1]

 

Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya:

"Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?"

(Kej 41:38, TB-LAI)

 

Sekilas teologi sukses

Pada dasarnya setiap orang percaya berteologi. Tentu dalam pengertian yang luas. Sebab dalam pengertian yang khusus, teologi menjadi sebuah ilmu yang dapat dipelajari, digali dan dikembangkan dengan menggunakan kaidah-kaidah penelitian ilmiah untuk memperteguh iman percaya. Dari arti katanya, “teologi” secara sederhana dapat diartikan dengan seseorang yang berkata-kata mengenai Allah. Dalam pemahaman ini, maka dalam hidup setiap orang percaya yang membaca Firman Allah melalui Alkitab, lalu merefleksikannya dalam pertolongan Roh Kudus, lalu dikaitkan dengan kehidupannya sehari-hari sebagai sebuah arahan yang menentukan tindakan-tindakan etisnya kita menjumpai seseorang yang sedang berteologi, “berkata-kata mengenai Allah”. Tetapi dalam tahapan teologi operatif seperti ini tentu oran itu harus mendapatkan pendampingan dari orang-orang percaya yang lain dalam sebuah komunitas beriman yang telah mendapatkan pendidikan yang cukup mengenai kaidah-kaidah yang sehat dalam berteologi. Sebab terkadang “teologi” tertentu yang hidup dalam kehidupan sebuah komunitas dapat mengalami distorsi-distorsi yang justru berujung kepada pemiskinan makna hidup beriman seturut dengan kebenaran-kebenaran objektif yang ada dalam Alkitab dan tradisi gereja yang am.

 

“Teologi Sukses” adalah sebuah istilah. Sebenarnya ini lebih kepada perangkat ajaran yang dikembangkan melalui penafsiran kitab suci yang mengkhususkan diri kepada pemahaman akan kelimpahan dan kemakmuran yang diterima oleh orang beriman. Dalam pengajaran ini, dikatakan bahwa Allah adalah Allah yang Mahabesar dan tidak terbatas. Oleh sebab itu, hidup beriman juga akan diberkati dengan kelimpahan harta kekayaan dan kesehatan sempurna. Kemiskinan dinilai sebagai kutuk. Hidup beriman olehnya ditandai dengan jabatan yang sukses, harta kekayaan yang melimpah, gedung gereja dan rumah yang besar, serta kehidupan yang nikmat.

 

Dalam teologi ini, berkat-berkat materi perlu diminta sebagai hak manusia dengan doa yang bersifat menuntut. Berkat-berkat ini diperoleh melalui hukum tabur-tuai (2 Kor 9:6-10). Terdapat pula “hukum investasi” dengan memberikan persepuluhan (Mal 3:10) yang akan menghasilkan berkat-berkat berkelimpahan. Penekanan pada teologi sukses tampak dalam kotbah-kotbah dan kesaksian di dalam pertemuan ibadah. Persepuluhan ditekankan dan kehidupan doa didorong untuk mendapatkan berkat-berkat yang melimpah. Dalam kesaksian-kesaksian yang ada diungkapkan mengenai perubahan hidup baik secara finansial maupun pemulihan batin setelah mereka memberikan persepuluhan dan tekun berdoa. Pengaruh lainnya terlihat dalam nyanyian-nyanyian rohani yang ada.

 

Demikianlah saya kutipkan tulisan dari A. Rijnardus Van Kooij dan Yam`ah Tsalatsa A di atas, yang sudah mengadakan penelitian khusus mengenai kalangan karismatik pentakosta dalam kaitannya dengan gereja-gereja mainstream atau arus utama. Mereka mengungkapkan dalam bukunya bahwa pengajaran seperti ini ditemukan dalam kehidupan Gereja-Gereja beraliran Pentakosta dan Kharismatik. “Teolgi sukses” merupakan hasil dari upaya hermeneutik (penafsiran Alkitab) yang kemudian menjadi ciri yang kentara dari Spiritualitas Kharismatik, selain kekhasan mereka mengenai paham mengenai Roh Kudus (pneumatologi) dan semangat fundamentalisme. [2]

 

Bagaimana teologi ini dapat muncul? Teologi ini merupakan reaksi dari teologi tradisional yang asketis. Isi pengajaran teologi sukses sebenarnya merupakan naluri manusiawi. Manusia ingin keberhasilannya diakui (eksistensi dan aktualisasi diri). Berpikir positif (poasitive thinking) merupakan ajaran yang sangat ditekankan dalam teologi ini. Selain itu, ada juga visualisasi dan kata-kata sugesti.[3] Norman Vincent Peale dan Robert Schuller adalah tokoh-tokoh yang memakai ajaran ini. Melalui upaya ini kemampuan berpikir manusia dilihat sebagai kekuatan yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar aktivitas kehidupan dan akan berhasil jika dilakukan dengan sikap optimis. Ada semacam potensi yang ada dalam diri manusia yang harus digali dalam keselarasan dengan kekuatan universal. Dapat dikatakan ini menjadi latar belakang psikologis di balik teologi sukses.

 

Dari segi historis-teologis, kemunculan teologi ini dalam lingkup Asia tidak luput dari peranan Paul Yonggi Cho dari Korea Selatan (kemudian berganti menjadi “David” Yonggi Cho) yang berangkat dari pengalaman pribadinya sendiri dalam merefleksikan iman Kristen saat berhasil melewati kesusahan hidup pada masa kecil dan mudanya di tengah konteks Korea Selatan pasca berakhirnya perang. Ekonomi mulai bertumbuh dan orang-orang mulai mengejar kemakmuran materi, termasuk orang Kristen. Ajaran Cho ini berangkat dari 3 Yohanes 2 yang berbicara mengenai harapan. Menurut Cho berita keselamatan itu holistik meliputi keselamatan jiwa, kesembuhan badan dan berkat materi.[4] Sedangkan pengaruh dari upaya-upaya tafsir dari gereja-gereja Amerika Utara ialah dari Kenneth Hagin, Morris Cerullo, dll.[5]

 

Kritik saya terhadap teologi sukses

Kemunculan teologi tertentu sepatutnya terbuka kepada kritik yang membangun. Sebab dalam lingkup komunitas beriman dalam hal ini gereja, proses kritik yang membangun itu menjadi bukti upaya belajar dan bertumbuh dalam iman yang dewasa sebagai pengikut Kristus sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran yang bisa jadi justru malah akan melupakan Kristus sebagai kepala Gereja.

 

“..sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,

sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,

tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Ef 4:13-15, TB-LAI)

 

Kritik pertama yang dapat diungkapkan mengenai teologi sukses ialah mengenai penafsiran Alkitab. Jika ditelisik dengan mendalam dan hati-hati, kita akan menjumpai bahwa dalam menafsirkan bagian tertentu dalam Alkitab, hadir tindakan eisegese. Apa artinya? Artinya sang penafsir berupaya memasukan pemikirannya, keinginan dan kebutuhannya ke dalam teks Alkitab. Padahal, Alkitab yang diimani sebagai suluh yang menerangi jalan kehidupan (Mzm 119:105), harus dilihat secara utuh dengan mengingat latar belakang teks-teks yang ada dengan diterangi oleh Roh Kudus, sehingga terjadilah upaya eksegese. Artinya berita kebenaran Firman Allah “keluar” menerangi hati, pikiran dan tindakan bukan sebaliknya. Firman Allah tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri.

 

“Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

(2 Ptr 1:20-21, TB-LAI).

 

Kedua, kritik terhadap teologi sukses ini ialah betapa pada akhirnya teologi ini melupakan mengenai teologi salib yang menjadi titik balik dan titik api dari penghayatan iman Kristen. Dalam terang mengikut Kristus, upaya melulu mengejar kemakmuran yang tidak berimbang dan bersifat eskapis (melarikan diri dari kenyataan kehidupan) akan menjadikan kuasa Allah tidak ubahnya menjadi seperti jimat dan penglaris. Ini jelas-jelas mengabaikan nasihat Tuhan Yesus kepada setiap orang yang mau mengikuti-Nya.

 

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Mrk 8:34, TB-LAI)

 

Ketiga, Seringkali penganut teologi sukses melupakan bahwa dalam banyak kesempatan di dalam kisah Injil-Injil di Alkitab, Tuhan Yesus dengan tegas menegor orang yang memiliki kecenderungan untuk beroleh kekayaan duniawi tetapi melupakan kekayaan sorgawi. Pada bagian lain dalam Perjanjian Baru kita juga dapat melihat arahan untuk waspada terhadap kecenderungan keinginan untuk menjadi kaya tetapi lalu berkahir kepada sikap yang menolak atau menyamakan diri seperti Allah. Acapkali penganut teologi sukses sangat menekankan akan potensi diri mereka dan justru menjadikan Allah seperti “alat tunggangan” dalam mencapai keberhasilan dalam hidup.

 

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Mat 6:24, TB-LAI)

 

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Mat 19:23-24, TB-LAI)

 

Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Luk 12:21, TB-LAI)

 

Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. (1 Tim 6:9, TB-LAI)

 

Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. (1 Tim 6:17, TB-LAI)

 

Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.. (1 Tim 6:18, TB-LAI)

 

Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,.. (Why 3:17, TB-LAI)

 

Keempat, teologi sukses seringkali berakhir menjadi teologi yang amat egoistis dan melupakan kepedulian kasih kepada sesama yang menderita atau bahkan dengan semberononya menganggap yang lain sebagai orang yang tidak beroleh kasih karunia Allah. Padahal dalam pola pikir Yesus Kristus, yang terjadi adalah sebaliknya, Ia yang maha kaya dan maha kuasa, mau merendah untuk menyapa dan membagi kehidupan-Nya agar orang-orang lain beroleh kekayaan kasih karunia-Nya.

 

Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. (2 Kor 8:9, TB-LAI)

 

…dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Flp 2:4-8, TB-LAI)

 

Kelima, Alkitab juga menunjukkan bahwa dalam kelemahan dan ketidaksempurnaan manusia, di dalam penderitaannya yang dijalani bersama dengan Allah dan dalam terang rencana Allah, di situlah kuasa Allah juga dapat dirasakan dan dialami oleh yang percaya. Jadi tidak sesempit pemahaman belaka bahwa kuasa Allah itu tampak di dalam hal-hal yang spektakuler dan kemakmuran belaka. Alkitab dengan jujur mengungkapkan bahwa kesusahan dalam kehidupan menjadi sarana Allah dalam menunjukkan kasih, kuasa dan keselamatan-Nya. Tentu yang paling jelas terlihat ialah di dalam Salib Yesus, dan juga pengalaman-pengalaman banyak tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jadi kritik terakhir bagi penganut teologi sukses dari saya ialah bahwa kadang mereka melupakan bahwa di dalam kesusahan dan penderitaan, Allah pun dapat berkarya menunjukkan kuasa-Nya yang membentuk dan mengangkat karakter kita semakin serupa Anak-Nya.

 

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Kor 12:9, TB-LAI)

 

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Rm 8:28, TB-LAI)

 

Setidaknya itulah lima kritik utama yang dapat saya ungkapkan berkaitan dengan teologi sukses. Maksud saya mengutip ayat-ayat Alkitab di sini bukan berarti ingin melakukan “perang ayat” dengan para penganut teologi sukses yang kadang juga dapat memunculkan ayat-ayat yang kalau dilihat sekilas akan mendukung pemahaman mereka, tetapi maksud saya ialah agar kita dapat lebih melihat Alkitab dengan utuh, mempertimbangkan bagian yang satu dengan yang lainnya dalam Alkitab sebelum buru-buru membangun penafisran tertentu yang ujung-ujungnya bukan berjiwakan “ingin dibentuk oleh Allah”, tetapi malah “membentuk Allah”.

 

Dalam Perjanjian Lama, ada seorang tokoh yang cukup terkenal kisahnya, yang dapat kita gali makna hidupnya untuk memahami kenyataan kehidupan dalam rencana Allah. Tokoh itu ialah Yusuf. Berikut penggalian singkat mengenai makna kehidupannya.

 

Menyimak kehidupan Yusuf dalam Alkitab[6]

Kisah kehidupan Yusuf dapat dibaca dalam Kitab Kejadian pasal 30-50. Yusuf juga disinggung dalam Ibrani 11:22. Melihat kehidupan Yusuf dapat juga dikatakan seperti melihat kehidupan manusia pada umumnya. Di dalam kehidupannya ada ketegangan, konflik (friksi) dengan sesama manusia, ada pengkhianatan, ada godaaan hawa nafsu, ada kekecewaan dan ada kesuksesan. Melihat tokoh ini dalam terang memahami sekaligus merancangbangun “sukses yang Alkitabiah” dapat menjadi pengalaman rohani yang mencerahkan. Berikut sedikit penggalian makna tentang kehidupan Yusuf.

 

Seringkali orang merasa bangga dan dikatakan “jadi orang” pada saat mengalami segala posisi puncak dalam kehidupannya. Okei. Ini dapat dipahami. Tetapi untuk sampai ke situ orang kadang lupa bahwa karakter hidup itu terbentuk bukan di dalam kesuksesan, tetapi melalui kesusahan-kesusahan hidup! Pelajaran terbesar dalam hidup itu muncul melalui beragam sakit hati, penolakan, kekecewaan dan penyakalan diri.

 

Ada seorang Pendeta muda yang belum berpengalaman harus kotbah penghiburan di kematian ayahnya sendiri. Awalnya ia merasa itu sebagai sebuah tindakan yang membebani sekali. Sebab dalam keadaan duka yang dalam ia harus memberikan penghiburan kepada keluarganya sendiri. Tetapi lalu seorang Pendeta senior menghampirinya dan berkata. “Ini adalah sebuah kesempatan yang baik. Kelak kamu akan menyadari betapa hal ini dapat membentuk dan membangun kinerja pelayananmu dengan otentik. Telah ratusan kali saya berkotbah di kebaktian penghiburan, tetapi tentu pengalamannya tidak sama dengan kamu.” Mendengar nasihat Pendeta senior itu, ia berbesar hati, dan kini merasakan betapa apa yang dikatakan oleh Pendeta senior itu berwujud. Kehidupan dan pertumbuhan iman tidak ubahnya demikian. Kita harus senantiasa mau berjalan dan bertumbuh dalam iman.

Hidup Yusuf adalah hidup yang berjalan dan bertumbuh dalam iman. Dalam keutuhan proses kehidupannya, kita dapat menyaksikan Yusuf behasil dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupannya. Apa saja tantangan-tantangan itu?

 

Pengkhianatan

Ada friksi dalam keluarga Yakub, ayah Yusuf. Bisa jadi ini karena tindakan poligami yang dipilihnya dan tentu saja karena favoritisme. Yakub mengasihi Yusuf dan Benyamin. Ia juga memerintahkan Yusuf “memata-matai” kakak-kakaknya yang sedang bekerja. Secara tidak sadar ia menunjukkan penegasan akan favoritisme itu melalui keindahan jubahnya di hadapan kakak-kakanya. Saudara-saudaranya marah. Bagi anda yang sudah menikah dan akan menikah, kenyataan friksi keluarga Yakub ini dapat menjadi pelajaran berharga untuk menghindari favoritisme dan tentu saja poligami.

 

Yusuf memiliki kebiasaan yang unik. Ia bermimpi dan merasa mimpinya seperti sebuah visi yang nyata. Di tengah kemudaannya Yusuf tidak sensitif terhadap perasaan saudara-saudaranya mungkin ini tanda bahwa Yusuf belum dewasa? Ini penting bagi kepemimpinan. Rupanya dalam terang rencana Allah Yusuf akan segera belajar karakter seorang pemimpin. Pelajarannya melalui pengalaman hidup yang nyata. Kita tahu selanjutnya, saudaranya merasa pahit hati. Kepahitan hidup melahirkan kepahitan hidup. Yusuf saudara sekandung mereka, “dihilangkan” dengan dijual kepada orang lain. Yusuf mengalami pengkhianatan.

 

Godaan

Perjalanan hidup Yusuf berlanjut. Pelajaran pertama yang ia hadapi ialah ditantang dengan sukses dan godaan. Jelas, dalam tantangan ini, Yusuf mendemonstrasikan akan pilhan menjadi dewasa dalam usia muda. Yusuf kini menjadi properti dari Potifar, pegawai firaun (Kej 37:36). Yusuf memulai pelajaran menjadi pemimpin melalui posisi atas dan bawah. Allah bersamanya (Kej 39:2). Kemampuan dan kelebihan yang dimiliki dilihatnya sebagai penyertaan Allah atas hidupnya. Dalam kinerja yang baik itu, ia menghadapi godaan dan menang. Ia lari (Kej 39:12). Sebuah tindakan yang tegas dalam upaya belajar menjadi pemimpin. Yusuf menyadari bahwa ia adalah milik Allah.

 

Tetapi ia tindakan kesetiaanya harus dibayar dengan harga yang mahal. Masuk penjara. Sungguh tidak adil. Kadang memang begitu yang terjadi dalam kehidupan. Dalam kesetiaan kepada Allah dan upaya belajar membangun karakter yang berkenan kepadanya, dunia memposisikan diri kita di posisi yang bertentangan. Tetapi Yusuf lebih takut kepada Allah ketimbang manusia. Yusuf belajar dari sakit hati dan kesusahan kehidupan.

 

Kekecewaan

Dan Allah tetap bersamanya. Yusuf diangkat menjadi pemimpin bahkan saat ada di dalam penjara. (Kej 39:21, 23). Yusuf tetap belajar menjadi seorang pemimpin dan salah satu karakter yang penting dari seorang pemimpin adalah bersabar. Kepingan gambar “rencana Allah” mulai utuh. Juru makanan dan minuman raja di masukkan penjara karena sebuah skandal upaya kudeta. Betapa kita ternyata melihat tuntunan Allah dalam segala keadaan hidup. Yusuf dan kedua juru raja itu tidak memilih keadaan mereka tetapi ada dalam rencana Allah. Keadaan yang dibanting-banting tidak membuat Yusuf merusakan hubungan dengan Allah dan sesama. Karena ketenangan dan kebijaksanaan hati dalam tuntunan Allah, Yusuf mengartikan mimpi juru makanan dan minuman raja itu sambil berharap agar mereka mengingat Yusuf setelah perkara mereka selesai. Tiga hari kemudian apa yang Yusuf interpretasikan terjadi. Kenyataannya? Yusuf dilupakan. Pertama karena bekerja jujur masuk penjara. Kini Tindakan perhatiannya dibalas dengan ketidakpedulian selama 2 tahun (Kej 41:1). Sahabatnya telah melupakannya. Tetapi Allah tidak lupa. Yusuf sudah belajar banyak hal mengatasi pengkhianatan, godaan, kekecewaan, dan kini Yusuf disiapkan Allah untuk sesuatu yang istimewa!

 

Menghadapi kesuksesan

Firaun bermimpi. Guru-guru diundang Firaun untuk menafsirkan mimpi. Mereka tidak dapat. Jelas, mimpi itu ada dalam kerangka kedaulatan Allah bukan? Ternyata gambaran rencana Allah semakin jelas. Mimpi Yusu itu seolah-olah nyambung. Mimpi masa kecil Yusuf, Mimpi juru makan dan minum dan mimpi raja. “Janji” yang Allah berikan 13 tahun yang lalu untuk Yusuf perlahan terwujud. Dalam keadaan menuju kesejahteraan itu Yusuf tetap rendah hati karena Allah baginya sumber kuasa (Kej 41:16). Yusuf membuat rencana-rencana jangka panjang untuk kerajaan Firaun. Firaun melihat kompetensi yang ada dalam diri Yusuf (Kej 41:38) dan kompetensi ini karena Allah. Terjadilah kelaparan besar selama 7 tahun. Saudara-saudaranya datang kepadanya. Yusuf melakukan semacam tes apakah saudaranya sudah berubah sikap atau belum. Dengan “jebakan Benyamin” dan saat melihat saudara-saudaranya mau menyerahkan diri mereka demi keselamatan adiknya, Yusuf yakin saudaranya sudah berubah. Yusuf mengampuni mereka. Dalam Kejadian 50:20, sangat jelas dan tegas keyakinan iman Yusuf di sepanjang proses belajar kehidupannya, ia berkata: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

 

Kesimpulan : Cara Sukses menurut Alkitab

Makna sukses artinya adalah berhasil, selesai mencapai tujuan. Oleh sebab itu yang paling penting dalam memahami sukses menurut Alkitab ialah bukan bagaimana cara kita mendapatkan segala prestise, kemakmuran, kesehatan dan berkat-berkat menurut Alkitab, tetapi sejauh mana kita telah menemukan makna dan tujuan kehidupan kita dengan benar sesuai dengan apa yang diperlihatkan oleh Alkitab sehingga pada akhirnya kita dapat menjalani kehidupan kita dalam kesetiaan kepada Allah. Itulah makna sukses yang Alkitabiah!

 

Dalam satu kalimat dapat dirumuskan menjadi:

“Kesetiaan kepada Allah dengan mengikut dan memberlakukan ajaran Yesus Kristus Anak-Nya dengan menjadikan hidup ini dikuasai oleh Roh Kudus agar membuahkan Buah Roh yang nyata dalam segala situasi kehidupan”

 

Bagaimanakah cara-cara praktis dalam menjadi sukses yang Alkitabiah itu? Saya menyarankan kita harus mencermati cara-cara kita membangun kebiasaan-kebiasaan hidup dalam hal-hal ini:

1.       Cara kita menafsir Alkitab

2.       Cara kita mengikut Yesus Kristus

3.       Cara kita melihat menjadi kaya di mata Allah

4.       Cara kita berempati kepada yang kesusahan

5.       Cara kita memahami Allah bekerja dalam kesusahan

 

1. Cara kita menafsir Alkitab

·         Hargai Alkitab dengan cara memahaminya secara benar dan memberlakukan maknanya dengan benar

·         Milikilah semangat untuk mau dibentuk oleh Allah ketimbang “membentuk dan memaksa Allah” mengikuti kemauan dan keinginan kita

·         Ikutilah kelas-kelas PA dalam jemaat, catatlah kotbah-kotbah yang didengarkan dan galilah maknanya dengan mendalam

·         Belilah buku-buku bacaan yang sesuai dengan ajaran GKI

·         Diskusikan tafsiran yang sulit bersama dengan Pendeta dan teman-teman

·         Jangan pernah berhenti untuk belajar, berubah, mengkoreksi diri dan selalu waspada terhadap ajaran yang tidak sehat, dengan melatih diri mendalami makna Alkitab dalam saat teduh pribadi yang rutin dan berdisiplin

 

2. Cara kita mengikut Yesus Kristus

·         Menyadari bahwa mengikut Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat menuntut kesetiaan untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus sampai mati

·         Memberlakukan makna pengajaran Yesus Kristus dengan nyata dalam perilaku sehari-hari

·         Menjadi semakin serupa Kristus dalam upaya-upaya pembentukan karakter diri karena pertolongan Roh Kudus dalam menghasilkan Buah Roh (Gal 5:22-23)

·         Menyadari bahwa dalam memikul salib, Allah menjanjikan kebangkitan hidup bagi yang setia

 

3. Cara kita menjadi kaya di mata Allah

·         Mengakui bahwa apa yang Allah berikan adalah milik-Nya dan kita hanya pengelola saja

·         Mengakui bahwa menjadi saluran berkat Allah adalah lebih penting, berharga, bernilai dan membawa sukacita tiada bertara ketimbang mendapatkan berkat-berkat Allah

·         Mengakui bahwa uang dan kekayaan harus digunakan pertama sekali untuk memuliakan Allah

·         Memohon kecukupan atas kebutuhan kehidupan sebagaimana amanah dalam doa bapa kami “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”

·         Mengakui kesementaraan hidup dan mengutamakan mewarisi nilai-nilai hidup Kerajaan Allah, sebagai “pekabaran Injil” kepada generasi berikut mengatasi pewarisan materi belaka

 

4. Cara kita berempati kepada yang kesusahan

·         Mengakui bahwa kasih kepada saudara yang paling hina adalah kasih kepada Yesus Kristus sendiri

·         Mengakui bahwa kasih kepada Allah sama dengan kasih kepada sesama manusia

·         Mengakui bahwa Yesus Kristus sudah menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita manusia yang hina dan mengajak kita untuk melanjutkan kasih Kristus kepada yang hina juga

·         Mengakui  bahwa dunia ini adalah rumah bersama di mana setiap anggota keluarga harus bekerjasama dalam berbagi kehidupan untuk kelangsungan hidup bersama karena karunia-Nya

·         Mengakui bahwa Kabar Baik, Injil Yesus Kristus bukan sekadar kata-kata tetapi juga karya dan perbuatan

 

5. Cara kita memahami Allah bekerja dalam kesusahan

·         Mengakui bahwa Allah berdaulat dan kita diajak untuk setia dalam memahami dan memberlakukan kehendak-Nya

·         Mengakui bahwa dalam kesusahan kehidupan dan dalam kesetiaan kepada-Nya yang memelihara kehidupan kita selalu ada berkat-berkat rohani yang luar biasa bagi pembentukan karakter kita

·         Mengakui bahwa kesusahan kehidupan mengarahkan kita memandang kepada Yesus Kristus yang tersalib dan mengajak kita untuk memelihara pengharapan akan kebangkitan-Nya yang memberikan damai sejahtera dalam menghadapi tantangan kehidupan

·         Mengakui bahwa dalam kesusahan kehidupan ada rencana Allah yang membawa damai sejahtera yang akan dinyatakan-Nya pada waktu-Nya, bukan hanya untuk kita saja tetapi juga bagi banyak orang, manakala kita tetap setia berproses dalam kesusahan hidup itu bersama Roh Kudus

 

PROYEK-PROYEK KETAATAN

 

Di bawah ini adalah bahan-bahan pemahaman Alkitab andragogis yang terdiri dari pertanyaan pengamatan, penggalian teks, dan penerapan. Disusun berdasarkan 5 topik sukses di atas

 

Menafsir Alkitab

Bahan bacaan : 2 Petrus 1:12-21

 

1.       Jika diibaratkan diri anda sebagai sebuah kemah, apakah anda kemah yang : “selalu pindah-pindah”? “kuat menghadapi angin perubahan”? “nyaman dengan orang tertentu dan tidak dengan yang lain”?

2.       Kejadian apa di dalam hidup Yesus yang diingatkan kembali oleh Petrus (ay 16-18)?

3.       Mengapa dan bagaimana Petrus menegaskan otoritasnya (ay.16) Mengapa kemudian Petrus mempermasalahkan otoritas kenabian yang bernubuat pada saat itu? Ada masalah apa sebenarnya di sini (ay. 20-21)?

4.       Jika nubuatan nabi-nabi telah terpenuhi oleh kedatangan Yesus Kristus, bagaimana kita bersikap terhadap nubuatan “nabi-nabi” yang datang setelah Yesus Kristus?

5.       Jika anda dapat kesempatan bersama dengan Yesus dalam salah satu kejadian Yesus ada di hidup di dunia ini saat manakah yang akan anda pilih? Mengapa?

6.       Jika seseorang bertanya kepada anda bagaimanakah anda dapat membuktikan bahwa Alkitab itu Firman Allah dengan apakah anda akan membuktikan atau menjelaskannya?

7.       Bagaimana jawaban anda pada nomor 6 mempengaruhi cara anda belajar Alkitab? Kesaksian anda? Gaya hidup anda?

 

Mengikut Yesus Kristus

Bahan bacaan: Markus 8:27-9:1

 

1.       Apa nama panggilan anda di sekolah? Apa yang akan anda lakukan saat seseorang mengatakan sesuatu yang tidak ingin anda dengar?

2.       Jika seorang sahabat baik anda diminta untuk menjelaskan tentang diri anda dengan satu kata, kata apa yang akan dia katakan?

3.       Mengapa pertanyaan “menurutmu siapa Aku ini” di ayat 29 penting?

4.       Menurut orang pada zaman Yesus, siapakah Yesus itu (ay.28)?

5.       Menurut orang pada zaman sekarang, siapakah Yesus itu? Bagaimana dengan anda sendiri? Bagaimana jawaban anda berubah dari waktu ke waktu?

6.       Empat hal apa yang dinubuatkan Yesus mengenai diri-Nya sendiri pada ayat 31-32?

7.       Mengapa Petrus tiba-tiba berubah “status” dari sesuatu yang tinggi (ay 29) menjadi rendah karena responsnya (ay 33)? Mengapa Yesus bereaksi dengan tegas kepada Petrus?

8.       Menurut ayat 34-38, apa yang dibutuhkan dalam mengikut Yesus Kristus?

9.       Apa yang anda lakukan saat anda marah kepada Allah?

10.   Bagaimana persahabatan anda dengan Yesus Kristus mempengaruhi kehidupan anda, cara anda bergaul, cara anda menentukan prioritas hidup?

11.   Apakah ada jalan hidup Yesus yang bertentangan dengan jalan hidup anda?

12.   Apakah yang anda lepaskan untuk mengikut Yesus Kristus? Apa yang anda pegang baik-baik?

 

Menjadi kaya di mata Allah

Bahan bacaan : Lukas 16 : 1 – 13

 

1.       Pekerjaan mana yang paling cocok untuk anda: penakluk hewan buas dalam pertunjukan sirkus? Produser Film? Pematung? Ahli perpustakaan? Instruktur selam? Koki? Pendeta?

2.       Mengapa bagi Yesus penting untuk menceritakan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya?

3.       Krisis apa yang sedang melanda bendahara pada cerita ini? Rencana apa yang dibuatnya? Dalam rencana yang seperti itu mengapa atasan si bendahara mengomentari bendahara ini sedemikian pada ayat 8?

4.       Bagaimana akhirnya Yesus menyimpulkan perumpamaan ini (ay 9)? Apa yang menjadi pengajaran Yesus di sini?

5.       Perhatikan ayat 10-12, hal penting apa yang ingin Yesus tegaskan di sini?

6.       Masalah apa yang akan terjadi jika seseorang mencoba melayani dua tuan (ay.13)? Apa yang menjadi ciri kehidupan orang-orang Farisi (ayat 14)? Bagaimana permumpamaan ini “menyapa” mereka?

7.       Bagaimana cara anda melihat uang/kekayaan yang anda miliki? (a) ini punya saya jauhi tanganmu darinya (b) ini adalah yang berhasil saya dapatkan (c) ini milik Tuhan, saya hanya mengelolanya. Mengapa? Bagaimana cara anda mengelolanya demi kepentingan Kerajaan Allah?

8.       Siapa atau apa yang menjadi “tuan-tuan” yang telah anda layani pada masa lalu anda? “Tuan” yang mana yang telah menarik anda dan telah anda layani sekarang ini? Bagaimana anda berurusan dengan tekanan-tekanan yang ada dalam pilihan itu dalam terang komitmen anda pada Kristus?

 

Berempati kepada yang kesusahan

Bahan bacaan: Lukas 10:25-37

 

1.       Apakah Anda pernah menolong seorang asing yang sedang mengalami kesulitan? Apa yang terjadi?

2.       Jika ada penghargaan /award “Orang Samaria Yang Murah Hati” siapa yang akan Anda nominasikan untuk menerima penghargaan itu?

3.       Jika Anda menjadi orang yang sedang berjalan dari Yerusalem ke Yeriko dan melihat orang yang sedang kesakitan itu, apa yang akan Anda lakukan?

4.       Apa kira-kira yang menjadi alasan orang Lewi dan Imam tidak mau berhenti dan menolong orang yang kesakitan itu (Im 21:1-3, Bil 19:11-22)?

5.       Orang Samaria tidak begitu dihargai oleh orang Yahudi. Kira-kira bagaimana tanggapan orang Yahudi saat Yesus menceritakan orang samaria yang menjadi pahlawan dalam kisah ini?

6.       Cerita perumpamaan yang diceritakan Yesus ini adalah jawaban dari pertanyaan tentang “siapakah sesamaku manusia” di ayat 29. Setelah melihat cerita ini, apakah jawaban dari pertanyaan itu?

7.       Seberapa besar kasih Anda kepada Allah dan sesama manusia seminggu ini?

8.       Sikap dan tindakan apa yang Allah inginkan untuk Anda berlakukan yang terasa begitu sulit diterima dan diberlakukan?

9.       Siapa yang telah menjadi “orang Samaria yang murah hati” di dalam kehidupan Anda?

10.   Bagaimana caranya agar Anda dapat menjadi “orang Samaria yang murah hati” kepada orang-orang disekitar Anda?

 

Allah bekerja dalam kesusahan

Bahan bacaan: Roma 8:28-39

 

1.       Apakah anda cenderung melihat gelas yang airnya isinya hanya setengah itu sebagai gelas yang setengah kosong, atau setengah penuh?

2.       Sekarang ini anda merasa sebagai sang penakluk atau yang ditaklukkan?

3.       Keyakinan apa yang diugkapkan dalam ayat 28 kepada orang percaya mengenai kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupannya? Kapan saat hal ini menjadi begitu sulit bagi anda? Seberapa sering anda melihat Allah menghasilkan sesuatu yang baik dari kesusahan hidup?

4.       Dari ayat 29-30 langkah-langkah apakah yang digarisbawahi tentang “semua yang dipilih-Nya dari semula”?

5.       Apa persamaan ayat 31-34 dengan Roma 8:1?

6.       Dari hal-hal yang ada di ayat 35-39 manakah yang paling mengancam anda saat ini?

7.       Bagian yang manakah dalam perikop ini yang menyentuh dan menggoncangkan hati anda? Mengapa?

8.       Bagaimana keadaan anda saat ini dalam menghadapi tantangan-tantangan hidup?

 

 

 

***



[1] Disusun oleh Pendeta Essy Eisen untuk disampaikan dalam Seminar KP GKI Perniagaan “Teologi Sukses”, 26 September 2010. (email: saya@essyeisen.com)

[2] Van Kooij, A. Rijnardus dan Tsalatsa A., Yam`ah, Bermain dengan Api (Relasi antara gereja-gereja mainstream dan kalanan Kharismatik dan Pentakosta), (Jakarta:BPK-GM, 2000), hlm. 52-58.

[3] Herlianto, Teologi Sukses : Antara Allah dan Mamon (Jakarta: BPK-GM, 2009), hlm. 113-147.

[4] Ibid., hlm. 57.

[5] Herlianto, Op.Cit., hlm. 32.

[6] Bagian ini saya sadur dari Crowder, Bill. “Joseph : Overcoming Life`s Challenges” (Grand Rapids: RBC Ministries, 1998)

Comments