Kegiatan‎ > ‎Artikel Bina Iman‎ > ‎

Tuhan yang bangkit tinggal sertaku!

diposkan pada tanggal 21 Apr 2011 00.51 oleh Essy Eisen   [ diperbarui7 Jul 2011 13.29 ]
Yeh 37: 1-14; Mzm 130; Rm 8: 6-11; Yoh 11: 1-45

“Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati,
diam di dalam kamu, maka Ia, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh RohNya,
yang diam di dalam kamu” (Rm 8: 11).

Salah satu syair lagu favorit saya ditulis oleh Henry Francis Lyte pada tahun 1847.Judulnya Abide With Me. KJ 329 menerjemahkannya menjadi Tinggal Sertaku. Bagian yang paling menyentuh bagi saya adalah bait ketiganya:

Aku tak takut, kar’na Kau dekat;
susah tak pahit, duka tak berat.
Kubur dan maut, di mana jayamu?
Tuhan yang bangkit tinggal sertaku!

Sayangnya, baik Maria maupun Marta yang kita jumpai dalam bacaan Injil hari ini tidak mengenal lagu ini. Mereka hidup kira-kira 1800 tahun sebelum Lyte menulis syair di atas. Maria dan Marta telah berupaya memanggil Yesus agar datang ke Betania dan menyembuhkan Lazarus yang sakit. Namun Yesus memilih untuk tidak segera datang. Ia memilih menunggu. Menurut tuturan Penginjil Yohanes, itu dilakukan dengan sengaja, “Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada” (ayat 6). Ini dilakukanNya agar Ia dapat “menyatakan kemuliaan Allah.”

Kita bisa memahami kesedihan hati Maria dan Marta karena meninggalnya Lazarus. Apalagi akhirnya Yesus datang menemui mereka ketika saudara mereka sudah mati. Nasi sudah menjadi bubur. Sang mahatabib datang terlambat. Apa gunanya seorang dokter yang hebat, tetapi datang sesudah pasien meninggal? Untuk sekedar melakukan otopsi? Tidak ada lagi yang dapat dilakukan dalam benak manusia. Namun Marta menjumpai Yesus dengan iman: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepadaMu segala sesuatu yang Engkau minta kepadaNya.”

Di seluruh Perjanjian Lama agaknya hanya ada satu kali peristiwa kebangkitan orang mati. Yeh 37:1-14 memang memberikan gambaran peristiwa kebangkitan, tapi itu agaknya ditulis dalam gaya sastra yang bersifat metaforis atau perumpamaan. Dalam I Raj 17:7-24, kita menemukan Nabi Elia berdoa kepada Allah untuk menghidupkan anak janda di Sarfat, dan anak itu bangkit. Satu kali itu saja dan Elia adalah salah satu nabi besar Israel, yang menurut kebanyakan orang Yahudi kemuliaannya tidak bisa disetarakan dengan kebanyakan nabi lainnya. Keyakinan Marta akan Yesus menakjubkan para pembaca pertama Injil Yohanes. Wanita Yahudi ini percaya Yesus lebih dari Elia, bahkan pun saat itu, ketika saudaranya sudah empat hari di dalam kubur. Ia tetap percaya Allah dengan perantaraan Yesus sanggup melakukan apapun juga. Ia mengakui imannya kepada Yesus: “Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Marta mungkin tidak mengenal lagu Tinggal Sertaku, tetapi Marta memiliki iman yang sama seperti yang dimiliki Henry Francis Lyte ketika ia menulis syair bait ketiga yang dikutip di atas. Baik Marta maupun Lyte percaya bahwa kubur dan maut tidak dapat berjaya menghadapi Yesus, sang kebangkitan dan hidup.

Dalam menyongsong Masa Raya Paskah, kita dipanggil untuk bersama Marta beriman pada Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus sendiri berkata, “barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya.” Sama seperti kepada Marta, Ia bertanya kepada kita semua: “Percayakah engkau akan hal ini” Baiklah kita bersama Marta menjawab, “Ya Tuhan, aku percaya.”

(Agustian N. Sutrisno)
Comments