Kesalehan yang utuh

Markus 7:1-8, 14-23

Tuhan Yesus mengajarkan kita melalui kisah Injil hari ini untuk menghidupi kesalehan yang utuh. Apa maksudnya? Maksudnya, setiap perkataan dan kelakuan kita yang kita tunjukkan dalam memberlakukan Firman Allah harus lahir dari hati yang tulus dan bersih juga. Sebab ada kesalehan yang tidak utuh, yaitu pada saat kesalehan kita tidak lahir dari cinta kasih kepada Tuhan dan sesama. Bisa saja, saat kita melakukan apa-apa yang kelihatannya baik dan mulia, hati kita sebenarnya tidak sama. Hati kita dipenuhi maksud-maksud lain yang jahat, yang tidak sejalan dengan perkataan dan kelakuan yang kelihatannya baik.

Oleh sebab itu Tuhan Yesus bersedia membimbing kita, supaya yang pertama sekali menjadi sasaran perbaikan dan titik berangkat dalam menghidupi kesalehan ialah hati. Hati kita mestinya dibanjiri oleh kerendahan hati dan cinta kasih terlebih dahulu. Baru sesudah itu, setiap kata dan tindakan kita, tercerahi oleh hati yang baik itu, sehingga kebaikan yang kita berikan kepada sesama ciptaan Allah adalah kebaikan yang sejati, yang tidak dibuat-buat atau dilakukan dengan motif yang jahat.

Dalam pertolongan Roh Kudus, mari kita meneladani Tuhan Yesus yang bukan saja memberlakukan Firman yang Bapa nyatakan, tetapi juga menghadirkan Firman-Nya itu melalui hati yang tulus dan penuh kasih, sehingga orang-orang yang ada di sekitar-Nya bukan saja mengagumi Allah, tetapi juga merasakan kebaikan Allah melalui tindakan kasih Yesus yang menyembuhkan dan memulihkan hidup.

  1. Apakah dengan mengatakan bahwa hati adalah yang penting untuk diperhatikan oleh kita, Tuhan Yesus mengarahkan kita untuk mengabaikan tindakan keagamaan yang terpuji dan mulia?
  2. Melalui sepanjang karya-Nya di bumi, Yesus menunjukkan bahwa kesalehan pribadi harus diikuti dengan kesalehan sosial. Bagaimana kita menghidupi kesalehan kita selama ini?
  3. Apa akibat yang kita alami saat kesalehan kita menjadi utuh? Apa juga yang akan orang lain alami?

Minggu 2 September 2018

EE