Kristus bangkit, kerjakanlah panggilanmu

Post date: Apr 25, 2017 3:59:23 PM

“Kristus bangkit!”, itulah optimisme pengikut Kristus pada periode awal hingga kini tetap berkumandang. Kebangkitan Kristus merupakan kesaksian iman orang percaya dalam masa awal hadirnya gereja dan bahkan mendorong pelayanan dan kesaksian gereja sepanjang masa. Iman kepada Kristus yang bangkit menjadi harapan untuk mengobarkan semangat gereja untuk menjalani kehidupan dengan keberanian. Dalam suasana sukacita di hari raya Paskah, umat percaya diingatkan ulang bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah kehendak Allah dalam mendamaikan kita dengan diri-Nya, dan dengan demikian telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kita (2 Kor. 5:18). Karya pendamaian tersebut merangkum hubungan Allah dengan manusia dan dengan alam semesta (Kol. 1:20). Artinya, keselamatan itu tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh alam semesta. Semua dilakukan-Nya dalam kasih-Nya yang tidak membiarkan manusia dan seluruh ciptaan-Nya binasa.

Paskah selalu membangkitkan pengharapan, kekuatan dan semangat baru bagi kita untuk memberikan diri kita diperdamaikan oleh Allah, oleh sebab itu kita dimampukan untuk melanjutkan perjalanan hidup secara harmonis bersama Tuhan, maupun dengan sesama dan seluruh makhluk ciptaan.

Tema di atas sangat relevan dengan pergumulan hidup kita saat ini di dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan.

Gereja berada di tengah masyarakat majemuk yang sedang mengalami perubahan yang cepat. Banyak hal menggembirakan yang telah dicapai di tengah perubahan tersebut. Namun tak sedikit juga keprihatinan yang kita hadapi.

Salah satu keprihatinan utama adalah konflik yang semakin merebak di tengah masyarakat, yang pada gilirannya merusak relasi antar manusia dan relasi manusia dengan alam.

Kecenderungan sedemikian juga terjadi di tengah-tengah kehidupan dan pelayanan gereja. Ada gereja-gereja yang mengalami ketidak-harmonisan bahkan perpecahan, karena rusaknya relasi antar jemaat yang satu dengan yang lain.

Gaya hidup yang semakin konsumtif tidak jarang menjauhkan pribadi yang satu dari yang lain dan merusak alam, misalnya membuang sampah sembarangan dan menggunakan air berlebihan. Keadaan inilah menjadikan relasi dengan Allah, sesama manusia dan alam menjadi rusak.

Marilah kita renungkan : Allah adalah Kasih, bagaimana respon nyata kita sebagai pengikut-Nya ?

Minggu 30 April 2017

BM