Melepaskan Maaf

Post date: Sep 14, 2017 7:18:41 AM

Tidak ada orang yang menyimpan keranjang yang penuh sampah yang sudah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun di dalam kamar tidurnya sendiri. Sebab selain berbau, sampah itu akan menimbulkan masalah kesehatan bagi yang ada di dalam kamar itu. Demikian juga kekesalan, amarah, kebencian, sakit hati, apalagi dendam, tidak boleh disimpan di dalam pikiran dan hati berlarut-larut. Apa-apa yang tidak memberikan damai dan sejahtera itu harus dilepaskan, harus dibuang. Melepaskan maaf, atau tepatnya memberikan pengampunan adalah bentuk yang paling nyata dari kasih yang berkorban. Kasih yang suci. Ini bukan perkara yang mudah, tetapi bukan mustahil untuk dilakukan. Orang yang sudah mengalami “perjumpaan” dengan Tuhan, menikmati kuasa kasih, berkat dan pengampunan dari Tuhan, biasanya tidak sulit untuk memberikan pengampunan. Orang-orang yang sedemikian tidak hidup di masa lampau, tetapi hidup pada masa kini dan berpengharapan untuk “membangun jembatan damai sejahtera” ketimbang “meninggikan tembok dendam” yang hanya akan menyusahkan dirinya sendiri dan orang lain.

Memang, memberikan pengampunan tidak berarti menerima dan mengabaikan tindakan kejahatan. Keadilan dan kebenaran selalu harus ditegakkan. Orang yang memberi pengampunan tentu sadar akan hal ini. Tetapi di dalam memberikan pengampunan, ia “melampaui” apa yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Dengan memberikan pengampunan, ia sedang menolong orang yang bersalah kepadanya untuk turut merasakan pengampunan dari Tuhan dan memberikan kesempatan yang baru untuk sungguh-sungguh bertobat dalam menjalani masa depan yang baru dengan mental dan sikap hidup yang baru, sebagaimana yang Tuhan Yesus ajarkan dan teladankan.

  1. Apa yang dikhawatirkan saudara-saudara Yusuf? (Kej. 50:15) Jalan apa yang kemudian mereka tempuh? (Kej. 50:16-18)
  2. Jika Anda sudah melakukan kesalahan kepada orang lain, apa-apa saja yang akan Anda tempuh untuk berbaikan dengan orang yang telah Anda sakiti itu?
  3. Apa yang kemudian dilakukan Yusuf kepada saudara-saudaranya? (Kej. 50:19-21)
  4. Jika orang yang sudah bersalah kepada Anda memohonkan maaf dan ampunan kepada Anda, apakah yang Anda lakukan terhadapnya?
  5. Menurut Anda sendiri, apakah Anda itu termasuk orang yang pemaaf dan pengampun atau pembenci dan pendendam? Mengapa demikian?

Minggu 17 September 2017

EE