Misteri Trinitas yang membebaskan

Post date: May 26, 2018 9:38:54 AM

Selalu ada misteri dalam agama. Salah satu misteri pada kekristenan adalah paham tentang Allah Trinitas. Telah banyak hal yang dilakukan untuk menguak misteri itu. Namun, misteri tetap berada dalam selubung karena ketidakmampuan dan keterbatasan manusia.

Agustinus, seorang Bapa Gereja, mengatakan: “si comprehendis, non est Deus” yang berarti jika Anda memahaminya, itu pasti bukan Allah.

Merayakan misteri makin membawa manusia pada kesadaran keterbatasan dirinya.

Gambaran tentang misteri Allah juga sedikit terkuat dalam dialog relasional Nikodemus dan Yesus. Bagi Nikodemus, kuasa yang Yesus perlihatkan dalam karya-Nya berasal dari Allah, “Sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya” (Yoh. 3 : 2). Jelas, Nikodemus mempercayai Allah.

Mengamini apa yang dikatakan Nikodemus, Yesus menegaskan perlunya orang dilahirkan kembali atau dalam bahasa populer lahir baru. Tetapi bagaimana mungkin? Begitu lebih lanjut pertanyaan Nikodemus. Yesus menjelaskan pemahaman tentang 2 tahap penciptaan manusia. Tahapan pertama manusia dibentuk dari debu tanah. Tahapan kedua manusia dihembuskan napas kehidupan atau diberi roh sehingga menjadi mahluk hidup. Bagian ini dapat disebut kelahiran dari bawah.

Tahap pertama, memang tidak mungkin dilakukan kembali. Inilah yang menjadi pertanyaan Nikodemus selanjutnya, bagaimana mungkin orang yang sudah tua masuk lagi ke rahim ibunya. Tahap kedua mungkin dilakukan. Karena itu karya Roh Kudus.

Tahap ini dapat disebut kelahiran dari atas. Dari sini kita menemukan konsep Trinitarian: Allah Bapa mengasihi dunia dan datang dalam rupa manusia, Yesus. Melalui penyaliban Yesus, umat manusia yang percaya diselamatkan. Penyelamatan ini menghasilkan manusia yang dilahirkan kembali oleh karya Roh Kudus. Nampaklah, penuturan Injil Yohanes yang memadukan Allah (Bapa), Anak (Yesus Kristus), dan Roh Kudus dalam satu bingkai narasi menunjukkan persekutuan ilahi yang tak terpisahkan. Hal ini membuat kita bisa mengatakan: Di dalam diri Allah Trinitas kita melihat kesatuan dan persekutuan ilahi yang sempurna, di mana masing-masing berada di dalam yang lainnya. Inilah yang disebut perichoresis dalam ugkapan Yunani yang secara harfiah berarti bahwa satu pribadi mengandung dua pribadi yang lain, atau setiap pribadi meresapi yang lain, dan dengan itu saling resap secara timbal balik.

Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa pembebasan yang dirasakan umat dari belenggu dosa adalah karya Allah Trinitaris. Pembebasan yang dikerjakan oleh Allah Trinitas menjadikan kita, dalam bahasa Paulus, anak-anak Allah. Sebutan anak-anak Allah menjadikan adanya nilai keilahian dalam diri kita. Yaitu persekutuan yang tak terpisahkan, saling mengisi, dan menopang, sebagaimana yang terlihat melalui karya

Allah Trinitas.

Di sini, nasihat Leonardo Boff, teolog Amerika Latin menarik untuk diperhatikan. Boff mengatakan: "Kekristenan yang terlampau berfokus pada Bapa tanpa persekutuan dengan Anak dan Roh Kudus dapat menghasilkan gambaran Allah penindas. Sedangkan kekristenan yang terpaku pada Anak tanpa mengacu pada Bapa dan tanpa menyatu dengan Roh Kudus dapat mengantar kepada rasa puas diri dan sikap otoriter dalam diri para pemimpin dan gembala. Kekristenan yang terlampau terkonsentrasi pada Roh Kudus tanpa hubungan dengan Anak dan Bapa, dapat memberi peluang bagi munculnya anarkisme dan hilangnya aturan.”

Semoga gereja tak hanya mempercayai Allah Trinitas, tetapi menghidupi Allah Trinitas melalui persekutuan yang membebaskan. Tuhan mencintai kita. Amin.

Minggu 27 Mei 2018

NS