“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya?”

Post date: Feb 24, 2011 7:15:35 PM

Yesaya 49: 6-18

Jika kita berjalan-jalan keliling Jakarta, rasanya ada banyak perempuan yang melupakan anaknya. Buktinya, ada banyak anak kecil yang sudah menggelandang, mengemis dan mengamen tanpa ada sosok ibu didekat mereka.

Di tengah gambaran suram seperti ini, maka pertanyaan retoris Tuhan yang disampaikan melalui tulisan Nabi Yesaya seolah-olah tidak berarti. Pertanyaan, “Dapatkan seorang perempuan melupakan bayinya?” Ya, bisa. Bisa sekali. Tengoklah jalan-jalan kota Jakarta. Zaman memang agaknya sudah terbalik.

Kemiskinan dan kebodohan telah membuat ibu-ibu tertentu di kota ini melupakan anak-anak mereka dan tidak segan menjadikan anak-anak itu komoditas, alat ekonomi untuk mencari uang, tanpa mengindahkan kebaikan anaknya sendiri. Betapa sedihnya, betapa mirisnya.

Umat Israel yang ada di pembuangan mendengar kabar baik dari Nabi Yesaya bahwa Sion, kota yang mereka anggap suci itu, akan dipulihkan. Mereka akan kembali lagi mendiami Kota Allah dengan segala yang baik yang Allah sediakan. Sang Nabi menegaskan: “Sebab TUHAN menghibur umatNya dan menyayangi orang-orangNya yang tertindas.” Ia kemudian menuliskan janji Allah: “Aku tidak akan melupakan engkau.”

Janji ini indah sekali bukan hanya bagi Umat Israel, tetapi juga bagi kita. Semua pasti ingin diingat Allah. Karena kita sering beranggapan, semua orang yang diingat dan disayangi Allah pasti bebas dari kesedihan, dari kekuatiran, dari ketakutan. Namun, menariknya, menurut Sang Nabi, yang diingat dan yang dihibur Allah adalah mereka yang tertindas. Siapakah mereka dalam konteks kehidupan kita sekarang? Mungkin mereka adalah ibu-ibu yang melupakan anak-anaknya di pinggir jalan kota kita. Korban-korban kemiskinan dan kebodohan. Mereka inilah yang dihibur oleh Allah dan yang disebut Yesus “Berbahagia” dalam Khotbah di Bukit. Graham Kendrick, seorang penulis himne gerejawi kontemporer mengarang lagu berikut: Beauty for brokenness, hope for despair

Lord, in our suff´ring world, this is our prayer.

Bread for the children, justice, joy, peace

Sunrise to sunset, your kingdom increase.

Shelter for fragile lives, cures for their ills,

Work for the craftsman, trade for their skills.

Land for the dispossessed, rights for the weak,

Voices to plead the cause, for those who can´t speak.

God of the poor, friend of the weak, give us compassion we pray.

Melt our cold hearts, let tears fall like rain.

Come change our love from a spark to a flame

Keindahan bagi yang porak-poranda, harapan bagi yang putus asa

Tuhan, dalam dunia kami yang menderita, inilah doa kami.

Roti bagi anak-anak, keadilan, sukacita, perdamaian

Dari matahari terbit sampai tenggelam, semoga KerajaanMu meningkat.

Perlindungan bagi kehidupan yang rapuh, kesembuhan bagi penyakit mereka

Mata pencaharian untuk para pekerja, pekerjaan untuk keterampilan mereka

Tanah bagi yang papa, hak bagi kaum lemah

Keberanian untuk bersuara, bagi mereka yang tak bisa berbicara

Allah dari kaum miskin, sobat bagi yang lemah, berikan kami belas kasihan, kami berdoa

Luluhkan hati kami yang dingin, biarkanlah airmata turn seperti hujan

Mari ubah kasih kami dari percikan api menjadi kobaran

Dalam pandangan Kendrick, keprihatinan Allah kepada kaum tertindas, kaum miskin menuntut tindakan nyata dari Umat Kristen, bukan sekedar rasa iba dan doa saja. Perlu ada perjuangan untuk mewujudkan janji-janji Allah bagi mereka, seperti yang tercantum di Yesaya dan yang diulangi Tuhan Yesus di InjilNya. Hanya ketika tidak ada lagi ibu-ibu di kota kita yang terpaksa melupakan anaknya karena kemiskinan, maka pertanyaan retoris di Kitab Yesaya punya makna kembali bagi kita semua. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”

Agustian N. Sutrisno